Tafsir Surat An-Nisaa’ ayat 123 – 126

4:123

123. (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. 

Pahala tidak akan diperolah hanya dengan Angan-angan

Angan-angan adalah percakapan jiwa yang tidak diiringi dengan perbuatan namun hanya pengakuan semata, dan sekiranya ditentang dengan oleh angan-angan yang serupa dengannya, maka pastilah akan menjadi satu jenis dengannya. Masalah ini adalah umum pada setiap perkara, lalu bagaimanakah bila dalam perkara keimanan dan kebahagiaan yang abadi?

Agama itu bukan untuk dijadikan hiasan dan angan-angan, namun agama merupakan sesuatu yang mengakar dalam kalbu dan dibenarkan oleh amal-amal. Tidak setiap orang yang mengklaim sesuatu akan memperoleh keuntungan hanya dari klaimnya semata, dan tidak setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya berada dalam kebenaran dapat dikatakan benar hanya berdasarkan ucapannya semata sebelum dia memiliki dalil dan pelajaran dari Allah dengan cara mentaati Allah dan mengikuti apa yang disyariatkan-Nya melalui lisan para rasul yang mulia.

Setiap Perbuatan Buruk akan mendapat Balasan

Maka dari itu Allah menegaskan bahwa “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu“, dimana hal ini mencakup semua pelaku-pelaku perbuatan, karena keburukan itu mencakup dosa apa pun baik yang kecil maupun yang besar, dan mencakup juga seluruh balasan, baik sedikit atau banyak, di dunia maupun di akhirat. Manusia, dalam hal ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Maka barangsiapa yang seluruh perbuatannya adalah dosa (ini hanya terjadi pada orang kafir) lalu ia meninggal sebelum bertaubat, maka akan dibalas dengan kekekalan dalam siksa yang pedih (wal iyya ‘udzubillah). Dan barangsiapa yang perbuatannya adalah shalih dan ia pada sebagian besar kondisinya dalam keadaan konsisten, hanya saja terkadang terjadi beberapa kesalahan atau dosa kecil, lalu apa pun yang menimpanya berupa kegundahan, kesedihan, gangguan dan sakit di tubuhnya, atau hatinya, atau orang yang dicintainya, atau hartanya dan semacamnya, sesungguhnya semua itu akan menjadi penggugur dosa-dosanya. Dan hal itu adalah diantara balasan atas amalan-amalannya, yang telah Allah tentukan sebagai tindakan kasih sayang kepada hamba-hambaNya.

Said bin Manshur meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata “setelah ayat ‘Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu’ maka hal itu menyulitkan kaum muslimin. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada mereka, ‘Tenanglah dan janganlah berlebih-lebihan, karena segala musibah yang menimpa seorang muslim merupakan kafarat (penebus), termasuk duri yang menancap di kulit dan musibah yang menimpa dirinya’ “. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i.

Untuk menghilangkan beberapa perkara yang diperkirakan bahwa seorang yang berhak mendapat balasan atas amalannya (yang buruk) itu kemungkinan saja memiliki pelindung  atau penolong atau pemberi syafaat yang membela dirinya dari perkara yang seharusnya menimpa dirinya, maka Allah Ta’ala menegaskan “dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah” . Jadi, pelindung (yang membantunya memperoleh yang diinginkan) dan penolong (yang membela dirinya dari perkara yang ditakutkan) selain dari Allah itu tidak ada.

Kondisi diatas adalah dikhususkan pada selain orang-orang yang bertaubat, karena sesungguhnya seorang yang bertaubat dari dosa adalah seperti seorang yang tidak memiliki dosa sama sekali, sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash-nash yang ada.

4:124

124. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. 

Syarat diterimanya Amal

Ini merupakan kasih sayang Allah kepada hambaNya. Bahwa Allah menerima amal shaleh dari semua hambaNya, baik laki-laki maupun perempuan, asalkan mereka beriman. Amal shaleh yang dimaksud adalah amalan hati maupun amalan anggota badan, kecil maupun besar. Akan tetapi iman menjadi syarat diterimanya amal. Syaikh Sa’adi rahimahullah berkata dalam tafsirnya “karena perbuatan tanpa keimanan adalah seperti ranting-ranting pohon yang hilang akarnya, atau seperti bangunan di atas air. Maka iman itu adalah asas, dasar dan pondasi yang dibangun diatasnya segala sesuatu. Syarat ini harus dicermati lebih baik pada setiap perbuatan yang umum, bahwa sesungguhnya semua itu disyaratkan dengannya”

4:125

125. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Allah sering menggandengkan antara Iman dan Amal Shaleh sebagai syarat untuk mendapatkan balasan yang baik. Suatu amalan akan sia-sia (tidak mendapat balasan pahala) jika pelakunya tidak beriman atau bukan orang yang beriman. Sedangkan amalan yang dilakukan oleh orang yang telah beriman, baru bisa dikatakan amalan yang baik (amal sholeh) jika memenuhi 2 syarat:

pertama ‘ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah’, yaitu penyerahan diri hanya untuk Allah berupa penyerahan hati, penghadapannya, kembalinya, keikhlasannya, dan penghadapan wajah serta seluruh anggota tubuh kepada Allah.

kedua ‘mengerjakan kebaikan’, yaitu dalam beramal mengikuti aturan yang telah disyariatkan baginya, serta mengikuti petunjuk dan agama yang haq yang dibawa oleh Rasul-Nya. Ini disebut dengan Ittiba

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya “barangsiapa yang mengikuti syariat dan lahiriah amalnya dipandang sah menurut syariat, serta batiniahnya ikhlas dan benar seperti lahiriahnya, maka amalnya itu akan diterima. Jika dia kehilangan keikhlasan, maka dia munafik. Jika dia tidak mengikuti syariat, maka dia sesat dan bodoh”

Agama Ibrahim yang Hanif dan Maqam Khalilullah

Hanif artinya menyimpang dan meninggalkan kemusyrikan serta mengacu kepada kebenaran secara total, tanpa dihalangi oleh rintangan apapun. Perintah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim ini ditujukan kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Demikian pula terdapat keterangan yang semisal di surat Ali Imraan ayat 68 “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”, dan surat An Nahl ayat 123 “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.

Nabi Ibrahim mempunyai kedudukan yang istimewa, yaitu sebagai kekasih Allah (Khalilullah), dimana Al-Khullah adalah maqam tertinggi dalam tingkatan cinta. Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan karena beliau telah menunaikan apa yang telah diperintahkan kepadanya, serta tegar dalam cobaan yang dihadapkan kepadanya. Derajat ini dicapai lantara beliau banyak melakukan ketaatan kepada Rabbnya. Banyak ulama salaf yang menafsirkan: Ibrahim telah melaksanakan segala hal yang diperintahkan kepadanya dan berada dalam setiap maqam ibadah. Ibrahim tidak keliru dalam membedakan antara perkara penting dengan yang sepele, antara yang besar dengan yang kecil.

Hanya 2 NabiNya yang mendapat kedudukan Khalilullah, yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari jalur Jundub ibnu Abdillah melalui sanadnya yang sampai kepada Abdullah ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda “Sesungguhnya Allah mengambilku sebagai kekasih (khalil) sebagaimana Dia telah mengambil Ibrahim sebagai kekasih”.

Karena kedudukan al-Khullah ini adalah yang tingkatan cinta yang tertinggi, maka hal itu tidak layak diberikan kepada sesama makhluk. Dalam Shahihain, Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sampai di akhir salah satu khutbahnya, beliau bersabda” amma ba’du. Wahai manusia, seandainya aku boleh menjadikan salah seorang penghuni bumi sebagai kekasih (khalil), niscaya kujadikan Abu Bakar bin Abi Quhafah sebagai kekasih, namun sahabatmu (maksudnya Rasulullah) adalah kekasih Allah”

4:126

126. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Syaikh As-Sa’adi berkata dalam tafsirnya “Ayat yang mulia ini mengandung penjelasan akan pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milikNya, dan hamba-hambaNya itu adalah yang dimiliki, sedangkan Allah adalah pemilik mereka, dimana Allah sendirilah yang mengatur mereka, dan ilmuNya telah meliputi segala hal yang diketahui, pandanganNya meliputi segala hal yang dipandang, pendengaranNya meliputi segala hal yang didengar, kehendakNya dan kemampuanNya terlaksana pada seluruh hal yang ada, rahmatNya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi, Allah mengatur dengan keperkasaanNya atas setiap makhluk, dan segala sesuatu tunduk kepadaNya.

Ayat ini membawa konsekuensi bahwa kita sebagai makhluk yang ada di bumi adalah milikNya sepenuhnya. Jika hal ini sudah kita pahami, maka seharusnya pun kita memahami bahwa sebagai milikNya, kita harus tunduk pada kehendakNya, menjalankan peraturan yang telah ditetapkan olehNya, ridho jika segala sesuatu (termasuk diri kita sendiri, keluarga, harta benda) harus kembali kepadaNya. Jika kita mampu untuk tidak menghuni bumiNya, serta tidak berada dibawah langitNya, barulah kita bisa lepas dariNya. Akan tetapi semua itu tidaklah mungkin. Karena hanya Dialah pemilik yang ada di langit dan yang ada di bumi, dari yang halus sampai yang kasar, yang kecil sampai yang besar. Atau jika kita bisa bermaksiat tanpa dilihat olehNya, atau berkata dusta tanpa didengar olehNya, hingga memendam rasa benci dan marah tanpa diketahui olehNya, tentu kita akan aman dariNya. Akan tetapi semua itu tidaklah mungkin. Karena pengetahuanNya meliputi segala sesuatu, baik yang tampak atau tersembunyi. Maka sudah sepantasnya jika kita berserah diri kepadaNya, tunduk patuh pada syariatNya. Dan kita memohon perlindungan kepadaNya dari kemurkaanNya.

———————————————————————————————————-

Catatan Melura di Masjid Fahud Muscat, Kamis 6 Oktober 2011 (8 Dzulqa’dah 1432)

Sumber utama Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir AS-Sa’adi, dengan beberapa tambahan.