Dalam satu tahun, setidaknya ada 3 masa dimana penentuan bulan baru menjadi polemik yang berulang, seakan-akan kaum muslimin tidak pernah bosan membicarakannya. Malah terkadang ada saja cerita-cerita baru yang menambah lebar pembicaraan. Tiga masa itu adalah: Penentuan awal Ramadhan, Penentuan Idul Fitri 1 Syawal, dan Penentuan Idul Adha.

Tiga waktu tersebut adalah waktu-waktu yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Awal Ramadhan menentukan kapan kaum muslimin memulai puasa yang diwajibkan bagi mereka. Penentuan Idul Fitri sekaligus mengakhiri puasa di bulan Ramadhan, dan adanya larangan puasa pada hari raya menjadikan penentuan 1 Syawal ini menjadi semakin penting. Penentuan Idul Adha juga tidak kalah pentingnya karena pada saat itu adalah musim haji yang mana salah satu harinya disebut haji Akbar (istilah haji Akbar terlanjur populer sebagai hari haji yang bertepatan dengan hari Jum’at, padahal yang dimaksud haji Akbar adalah hari Arofah-lihat surat At Taubah ayat 3 beserta tafsirnya, dan kami tidak menafikan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini, wallahu a’lam), yang mana para jamaah haji melakukan wukuf di Arofah sedangkan kaum muslimin yang tidak sedang berhaji disyariatkan berpuasa (sunnah) pada hari itu, yang disebut puasa Arofah.

Maka dari itu, Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa bulan sabit merupakan penanda waktu bagi manusia, sebagaimana dalam firman-Nya:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: “Hilal (bulan sabit) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji” (QS. Al Baqarah: 189)

Kalau bulan sabit-nya cuma satu, lalu kenapa selalu ada perbedaan yang berulang setiap tahunnya? Suatu negara bisa berbeda dengan negara tetangganya, bahkan dalam satu negeri bisa terjadi 2 hari raya. Apakah Islam tidak mempunyai petunjuk yang jelas sehingga terjadi perbedaan ini? More