Anda pasti pernah mendapat undangan perayaan ulang tahun dari keluarga, teman, rekan kerja, relasi bisnis, atau orang tuanya teman anak-anak kita. Anda mungkin memenuhinya atau mungkin juga tidak, tentunya dengan bermacam-macam alasan. Atau mungkin anda sendiri pernah merayakan hari ulang tahun anda atau anak-anak anda, entah dengan pesta sederhana sampai pesta yang meriah atau dengan acara do’a dan tausiah, atau dengan bentuk-bentuk lainnya yang menurut anda baik.

Pertanyaan tentang “bagaimana sih hukum ulang tahun menurut islam?” sudah sering ditanyakan oleh kaum muslimin. Perdebatan di dunia maya maupun dunia nyata sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, masing-masing mengusung argumentasi, yang ujung-ujungnya berakhir dengan kondisi “masing-masing”. Tidak ada kesimpulan yang bisa meyakinkan satu sama lain. Yang berkeyakinan tidak boleh seringkali tidak mempunyai argumentasi yang mantab. Yang berkeyakinan boleh pun sebenarnya ada ganjalan di hatinya. Itulah Fitrah dan Hawa Nafsu. Fitrah manusia yang  lurus akan selalu berusaha mencari kebenaran untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Sedangkan Hawa Nafsu tabiatnya adalah selalu mengajak kepada hal-hal yang menyenangkan dirinya.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya merupakan bentuk perhatian dan kecemburuan (ghiroh) terhadap agamanya. Nah, jika anda merasa mempunyai rasa kecemburuan terhadap agama yang mulia ini (Islam), mudah-mudahan risalah sederhana ini dapat membantu menjelaskan perkara ulang tahun ini dengan jelas, sehingga anda pun tidak ragu-ragu lagi dengan hukumnya.

Dari Mana dan Untuk Apa?

Pengetahuan tentang asal-usul sesuatu akan membantu untuk memahami hakikat adanya sesuatu itu. Apa latar belakangnya, apa tujuannya, hal-hal apa yang berkaitan dengannya, dan berbagai informasi lainnya. Demikian juga tentang ulang tahun ini. Dengan mengetahui asal-usul acara ulang tahun ini, akan menjadi jelaslah ketika hukumnya ditetapkan, dan akan menjadi indah ketika hikmahnya ditemukan.

Penelusuran asal-usul perayaan ulang tahun akan banyak ditemukan dalam situs-situs berbahasa inggris, salah satunya ditemukan dalam http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_origin_of_birthday_celebrations, yang kemudian diterjemahkan sebagai berikut:

Dalam buku The Encyclopaedia Americana edisi 1991 menyebutkan: Dunia Mesir kuno, Yunani, Roma, dan Persia telah merayakan hari kelahiran Tuhan-tuhan, Raja-raja, dan para ksatria. Ralp dan Adelin Linton mengungkapkan hal ini dalam buku mereka yang berjudul The Lore of Birthdays. Dalam buku tersebut mereka menuliskan: Mesopotamia dan Mesir, yang merupakan tempat kelahiran peradaban, juga merupakan tempat pertama dimana para laki-laki mengingat dan memuliakan hari kelahiran mereka. Menjaga catatan hari kelahiran menjadi prinsip yang sangat penting pada masa itu karena tanggal kelahiran sangat penting untuk menjatuhkan ramalan.

Jadi ada hubungan langsung antara praktek perayaan hari kelahiran Paganisme dengan Astrologi (ilmu perbintangan dan peramalan nasib).

Perhatikan apa yang ditulis dalam Injil tentang ilmu perbintangan dan peramalan nasib (Yesaya 47:13-15): Engkau telah payah karena banyaknya nasihat! Biarlah tampil dan menyelamatkan engkau, orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang mnilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberitahukan apa yang akan terjadi atasmu! Sesungguhnya, mereka sebagai jermai yang dibakar api; mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api; api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang! Demikianlah faedahnya bagimu dari tukang-tukang jampi itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau.

Tidak mengherankan jika kaum Yahudi kuno tidak merayakan hari kelahiran karena mereka menganggap hal itu adalah Paganisme. Begitu juga di dalam buku The World Book Encyclopaedia Volume 3 halaman 416, menyebutkan bahwa kaum Kristen di masa awal tidak merayakan hari kelahiran Yesus karena mereka menganggap bahwa perayaan hari kelahiran adalah tradisi Paganisme.

Pada masa Herodeslah acara ulang tahun dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil Matius: Tetapi  pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes. (Matius 14 : 6). Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca buku Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298)

Dalam pencarian lainnya, tulisan-tulisan yang dimuat tidak lepas dari buku The Lore of Birthdays karangan Ralp dan Adelin Linton. Salah satu kutipan dari buku tersebut adalah: “The Greeks believed that everyone had a protective spirit or daemon who attended his birth and watched over him in life. This spirit had a mystic relation with the god on whose birthday the individual was born.” (Orang-orang Yunani meyakini bahwa setiap orang mempunyai arwah atau jin yang menjaganya yang hadir pada hari kelahirannya dan mengawasinya sepanjang hidupnya. Arwah ini mempunyai hubungan mistis dengan dewa pada saat hari dimana seseorang dilahirkan).

Sebenarnya masih banyak tulisan tentang asal-usul peryaan ulang tahun ini, akan tetapi cuplikan diatas cukuplah untuk mengetahui betapa batilnya asal-usul acara ini, sampai-sampai kaum Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab) generasi awal tidak sudi merayakan tradisi kemusyrikan tersebut hingga datanglah generasi berikutnya yang merubahnya.

Bagaimana dengan Islam? Insya Allah bersambung.

Muscat, 10 April 2011 21:10