Tata cara atau manasik ibadah Haji dan Umrah sudah banyak terdapat di kitab-kitab fikih klasik maupun yang baru. Di Internet pun dengan mudah dapat dicari hanya dengan menuliskan kata kunci ‘manasik haji umrah’ di mesin-mesin pencari. Mudah dan sangat mudah. Ini adalah salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala.

Tulisan ini dibuat dalam rangka murojaah menjelang keberangkatan Umrah 1432H dengan poin keberangkatan dari Muscat-Oman, tempat dimana kami sedang bermuqim saat itu. Perjalanan yang ditempuh adalah melalui udara, yang jika pesawat mendarat di Jeddah, maka akan memulai ihram di udara karena telah melewati miqat. Ini yang paling umum dilakukan. Sedangkan untuk musim haji, biasanya pesawat di-charter dan langsung mendarat di Madinah, sehingga tidak perlu memulai ihram di udara.

Tata cara manasik Umrah dari Muscat sebagai berikut:

1. Mandi untuk Ihram, memakai wewangian pada badan, dan memakai baju ihram. Dianjurkan mengerjakan langkah ini di rumah, mengingat kesulitan jika dilakukan di dalam pesawat. Kaidah fikih mengatakan “kesulitan mendatangkan kemudahan”.

عن زيد بن ثابت: أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم تجرد لإهلا له واغتسل

“Dari Zaid bin Tsabit: bahwasanya dia pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menanggalkan pakaiannya untuk berihram dan beliau mandi [HR At Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di Shahiih Sunanut Tirmidzi no. 830]

قالت عائشة رضي الله عنها : كنت أطيت رسول الله صلى الله عليه وسلم لإحرامه حين يحرم ولحله قبل إن يطوف بالبيت

” ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: Aku pernah memakaikan wangi-wangian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk ihramnya ketika akan memulai ihram, dan setelah bertahalul sebelum beliau thawaf (Ifadhah) di Baitullah [HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud di Shahiih Abi Dawud no 1745, dan yang lainnya]

2. Membaca do’a naik kendaraan. Biasanya untuk pesawat-pesawat di Arab, pilotnya tidak lupa membaca doa ini.

بسم الله الحمد لله سبحن الذي سخرلنا هذا وما كنا له مقرنين و إنا إلى ربنا لمنقلبون. الحمد لله, الحمد لله, الحمد لله.الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, سبحانك إني ظلمت نفسي فاغفرلي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

“Dengan Nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah 3x. Allah Maha Besar 3x. Maha suci Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau [HR Abu Dawud no 2602, At Tirmidzi no 3446, dan di Shahiih Abi Dawuud II/493 no 2267, serta Shahiih At Tirmidzi III/156 no 2742

3. Ketika di atas pesawat, hendaknya memberitahukan kepada yang betugas agar mengumumkan kepada penumpang jika pesawat sudah mendekati miqat dan juga ketika tepat di miqat. Biasanya petugas memang memberi pengumuman mulai kira-kira 30 menit menjelang miqat hingga tepat sampai miqat. Namun tidak ada salahnya mengingatkan kepada mereka sebelumnya.

Cara ihram orang yang datang ke Mekkah dengan naik pesawat adalah jika dia menghadap miqat dia harus berniat ihram. Oleh karena itu, sebelumnya disunnahkan baginya agar mandi dulu di rumahnya kemudian memakai pakaian ihram sebelum sampai di miqat, dan ketika sampai di miqat dia berniat haji atau umrah, dan dia tidak boleh terlambat, karena pesawat berjalan dengan cepat, sehingga satu detik saja dia terlambat maka dia telah melewati jarak yang sangat jauh. Ini masalah yang kadang dilupakan banyak orang. Sebagian orang ada yang tidak peduli. Ketika pegawai pesawat mengumumkan bahwa mereka telah sampai di miqat, dia baru mulai melepas pakaiannya dan memakai pakaian ihram. Tindakan semacam ini tidak semestinya dilakukan. Padahal para pegawai pesawat itu telah mengumumkan jauh sebelumnya dan juga sudah mengingatkan para jamaah haji sebelum pesawat yang mereka tumpangi sampai di miqat, sekitar seperempat jam (sebelumnya) atau yang lainnya. Semestinya, mereka berterima kasih atas pengumuman itu, karena jika para pegawai itu mengingatkan mereka dalam waktu yang longgar, berarti mereka mempunyai kesempatan untuk mengganti pakaian. Tetapi dalam keadaan seperti, diharapkan bahkan seharusnya bagi orang yang ingin ihram agar dia memperhatikan jamnya, sehingga ketika melewati saat-saat seperempat jam atau kurang dua atau tiga menit, dia telah membaca talbiyah dan berniat sesuai dengan ibadah yang akan dikerjakannya. Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Falah, 2007. (Dengan pengubahan tata bahasa oleh www.konsultasi syariah.com)

4. Tepat sampai di Miqat (berdasarkan pemberitahuan dari petugas/awak pesawat), segera berniat Ihram dan membaca Talbiyah untuk Umrah لتيك اللهم بعمرة, setelah itu dianjurkan untuk terus bertalbiyah selama perjalanan menuju Makkah.

Bacaan Talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لبيك اللهم لبيك  – لبيك لا شريك لك لبيك – إن الحمد و النعمة لك و الملك لا شريك لك

“Aku selalu menjawab panggilan-Mu, ya Allah. Aku selalu menjawab panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku selalu menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kekuasaan, hanya milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. [Shahih Bukhari no 1549 dan Muslim no 2491]

Masih ada beberapa bacaan talbiyah dari beberapa sahabat dengan memberikan tambahan, yang disetujui oleh beliau shallallahu’alaihi wasallam. Selengkapnya dapat dilihat di buku Meneladani Manasih Haji dan Umrah Rasulullah shallallahu’alihi wasallam karya Ustadz Mubarak bin Mahfudh Bamuallim Lc]

5. Setelah sampai di Masjidil Haram, hentikan talbiyah. Masuk  ke Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca do’a:

 أعوذ بالله العظيم وبو جهه الكريم وسلطايه القديم من الشيطان الجيم

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, kepada Wajah-Nya yang Mulia dan kepada Kekuasaan-Nya yang tidak berawal, dari godaan syaitan yang terkutuk” [HR Abu Dawud no 466, Shahiih Abi Dawud I/93 no 441. Apabila ia mengucapkan demikian, syaitan akan berkata “Ia terlindungi dariku sepanjang hari”]

atau membaca:

بسم الله وصلاة و سلام على رسول الله اللهم افتح لي أبواب رحمتك

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada Rasulullah. [HR Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no 88 dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani]. Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu” [HR Muslim no 713]

6. Ketika melihat Ka’bah, ada atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma yaitu mengangkat kedua tangan lalu berdo’a dengan do’a-do’a yang mudah. Adapun Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu membaca doa:

اللهم أمت السلام ومنك السلام فحينا ربنا بالسلام

“Ya Allah, Engkau adalah Penyelamat (hamba-hambaMu dari kebinasaan). Dari Engkau pula keselamatan diharapkan, maka kekalkanlah kami dalam keselamatan” [HR Baihaqi dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di Manaasikul Hajj]

7. Memulai Thawaf, yaitu thawaf Qudum atau thawaf Umrah. Sunnah dalam thawaf Qudum/Umrah ini adalah dengan ber-idhthibaa’

 (الإضطباع), yaitu memasukkan kain ihram penutup pundak dari bagian bawah ketiak kanan, lalu ujungnya diletakkan di atas pundak kiri, sehingga pundak kanannya terbuka. [HR  Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di Shahiih Sunan Abi Dawuud I/526 hadits no 1883]

8. Menuju Hajar Aswad, lalu mengusap dengan tangan kanan, kemudian menciumnya, sambil membaca الله أكبر. Semua ini jika memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak mudah untuk melakukannya, maka bisa mengusapnya dengan tongkat kemudian mencium tongkat yang digunakan untuk mengusap. Dan jika inipun tidak memungkinkan, cukup dengan memberi isyarat dengan tangan kanan tanpa mencium tangan yang dipergunakan untuk memberi isyarat.

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يستلمه ويقبله

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma: “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap Hajar Aswad dan menciumnya” [HR Bukhari 1611]

Umar bin Khattab pernah berkata ketika akan mencium Hajar Aswad:

والله ! إني لأفبلك وإني أعلم أنك حجر وإنك لاتضر ولاتنفع ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم قبلك ما قبلتك

“Demi Allah! Bahwasanya aku akan menciummu. Dan sesungguhnya aku tahu bahwasanya engkau hanyalah sebuah bagu; tidak mampu mencelakakan maupun memberi manfaat. Kalau saja bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, aku tidak akan menciummu” [HR Bukhari no 1610]

9. Berlari kecil antara Hajar Aswad sampai Rukun (sudut) Yamani pada 3 (tiga) putaran pertama, dan berjalan biasa antara Rukun Yamani sampai Hajar Aswad. Kemudian berjalan biasa pada 4 (empat) putaran terakhir. Memperbanyak dzikir dan do’a kepada Allah dengan dzikir dan do’a yang mudah dan menyampaikan hajatnya. Membaca do’a ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي الأخيرة حسنة وقنا عذاب النار ketika berjalan diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

ما لنا و للرمل ؟ إنما كنا رائينابه المشركين وقد أهلكهم الله! ثم قال: شيء صنعه النبي صلى الله عليه وسلم فلا نحب أن نتركه

Dari Aslam, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata: “Kenapa sekarang kita harus berlari-lari (raml) kecil? Dulu, kita hanya ingin memperlihatkannya kepada orang-orang musyrik, padahal Allah telah membinasakan mereka! Kemudian beliau berkata: ‘Sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, kita tidak senang meninggalkannya'”.[HR Bukhari, Fat-hul Baari (III/550, no 1605]

10. Mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad setiap putaran, jika memungkinkan. Ketika mengusap Rukun Yamani tidak membaca الله أكبر. Jika tidak mampu mengusap dikarenakan padatnya orang yang thawaf, maka tidak perlu memberi isyarat ke arahnya dengan tangan.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم  لا يدع أن يستلم الركن اليماني والحجر في كل طوفة

Dari Abdullah bin Ummar: “Dulu, Rasulullah shallallahu’alihi wasallam tidak pernah meninggalkan mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad pada setiap putaran thawaf” [HR Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh al-Albani]

11. Setelah 7 (tujuh) putaran selesai, kemudian menutupkan kain ihram ke pundak dan berjalan menuju ke Maqam Ibrahim sambil membaca واتخذوا من مقام إبرهم مصلى “dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat” (Al Baqarah 125), lalu mendirikan shalat sunnah 2 rakaat dengan mengambil posisi di belakang maqam Ibrahim. Mengingat padatnya orang yang thawaf, tempat shalat bisa ditarik agak jauh ke belakang demi menghindari dilewati orang thawaf. Perhatikan masalah sutrah dimanapun kita berada. Disunnahkan membaca Surat Al Kafirun setelah Al Fatihah di rakaat pertama dan Surat Al Ikhlas setelah Al Fatihah di rakaan kedua.

(إنه كان يقرأ في الركعتين (قل ياأيها اكافرون) و (قل هو الله أحد

Dari Jabir: “Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam membaca Qul yaa ayyuhal Kaafiruun dan Qul huwa Allahu ahad pada dua rakaat thawaf” [HR Muslim no 128 dan Ibnu majah, Shahiih Sunan Ibnu Majah (III/63-64, no 2512)-redaksi diatas adalah dari Ibnu Majah]

12. Minum Air Zam-zam setelah selesai melaksanakan shalat sunnah

ثم ذهب إلى زمزم فشرب منهاوصب على رأسه

“Kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam menuju ke air Zamzam lalu meminumnya dan menuangnya di atas kepala beliau” [Hajjatun Nabiy Shallallahu ‘alaihi wasallam halaman 58 poin 27]

13. Menuju ke Hajar Aswad untuk mengusapnya. Jika tidak memungkinkan cukup memberi isyarat dengan tangan kanan dan bertakbir.

14. Menuju ke bukit Shafa untuk melakukan Sa’i. Jika telah mendekati bukit Shafa membaca:

إن الصف و المروة من شعائر الله. فمن حج البيت أواعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما. ومن تطوع خيرا فإن الله شاكر عليم

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau mengerjakan Umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i diantara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri  kebaikan lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah 158)

15. Kemudian membaca نبدأ كم بدأ الله به “Kami memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah”

16. Naik ke bukit Shafa hingga melihat Ka’bah, jika memungkinkan. Kemudian membaca dzikir sebagai berikut:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك و له الحمد يحي ويميت وهو على كل شيء قدير. لا إله إلا الله وحده أنجزوعده ونصرعبده وهزم الأحزاب وحده

“Allah Maha Besar 3x, Tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata. Tiada sekutu bagiNya. Segala kekuasaan dan pujian hanya milikNya. Dia yang menghidupkan dan mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, Dialah yang telah memenuhi janjiNya, menolong hambaNya, dan hanya Dialah yang mengalahkan pasukan sekutu”

17. Berdoa dengan mengangkat kedua tangan. Berdoa dengan do’a apa saja yang dikehendaki.

18. Ulangi bacaan dzikir no 16 diatas kemudian berdo’a lagi

19. Ulangi lagi sehingga mencapai 3 kali dzikir dan 3 kali do’a, kemudian langsung turun dan berjalan menuju Marwah.

20. Laki-laki dianjurkan berlari diantara dua tanta (lampu hijau) dengan lari yang cukup kencang, dan dianjurkan membaca do’a yang dibaca oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu: رب اغفر وارحم إنك أنت الأعزالأكرم ” Ya Rabb, ampuni dan rahmatilah (aku). Sesungguhnya Engkaulah yang paling perkasa dan paling mulia.

20. Ketika sampai di Marwah, lakukan seperti yang dilakukan di bukit Shafa.

21. Lanjutkan Sa’i hingga mencapai 7 putaran yang berakhir di Marwah. Dari Shafa ke Marwah dihitung 1 kali, dan dari Marwah ke Shafa dihitung 1 kali, demikian seterusnya hingga 7 putaran.

22. Setelah 7 putaran yang berakhir di Marwah, tidak perlu berdzikir seperti sebelumnya, kemudian bertahalul. Untuk laki-laki dengan memotong pendek seluruh rambut kepalanya. Bagi wanita dengan mengumpulkan semua rambutnya, lalu memotongnya sepanjang satu ruas jari.

Demikian sehingga selesailah manasik Umrah. Kami memohon Taufiq kepada Allah.

Muscat, 12 Jumadil Ula 1432H…menjelang keberangkatan Umrah 13 Jumadil Ula 1432/16 April 2011