Di sela-sela makan malam selepas pengajian, Ustadz Ahmad membuka obrolan melanjutkan sebuah pertanyaan yang belum terjawab dengan tuntas lantaran waktu shalat Maghrib hampir tiba. Pertanyaan itu adalah bagaimana Nabi Ibrahim ’alaihissalam mendidik Isma’il ’alaihissalam dengan hasil yang luar biasa, yang diabadikan dalam sebuah ayat yang mulia, dan merupakan kisah fenomenal sepanjang masa, pelajaran besar bagi yang mau mengambil pelajaran.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash Shaaffaat 102).

Subhanallah! Pendidikan macam apa yang diterapkan oleh Ibrahim kepada Isma’il sehingga Isma’il kecil sudah mempunyai aqidah yang kokoh menghujam, sami’na wa atho’na, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah ’Azza wa Jalla, sementara Ibrahim jauh darinya dan hanya diasuh oleh ibunda Hajar?

Sampailah Ustadz Ahmad pada sebuah kesimpulan bahwa pendidikan pertama yang paling penting adalah pendidikan suami terhadap istri-istrinya (padahal Ustadz ini belum punya istri…semoga antum dapat istri yang shalihah, ustadz!). Alhamdulillah, saya sangat setuju dan meng-amin-kan kesimpulan ini. Sebuah simpul ilmu telah terbuka bagi saya, dan belum sempat saya ucapkan sebuah pengakuan kepada Ustadz  Ahmad sebagaimana yang diajari oleh senior saya ”Sampeyan Guru Saya”. Jazakallah khair, Ustadz, semoga ini menjadi tambahan royalty antum dalam kategori ”ilmu yang bermanfaat”.

Saya rasa kita bisa menyadari bahwa sebagaian besar waktu anak-anak kita adalah bersama ibunya. Sehingga ibunya adalah madrasah bagi anak-anaknya dalam mengajarkan ilmu-ilmu kehidupan, dalam menanamkan aqidah, akhlak, serta adab-adab Islam. Jika sang ibu benar dalam mendidik anak-anaknya sekalipun bapaknya amit-amit, Insya Allah anak-anak akan mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi baik. Sebaliknya, sekalipun bapaknya luar biasa baik tapi tidak demikian dengan ibunya, ada kemungkinan anak-anak tidak akan menjadi seperti yang diharapkan. Tentu saja ini bukan rumus baku, karena semuanya masih tergantung dengan kehendak Allah ’azza wa Jalla.

Kemudian, saya berusaha mengingat-ingat beberapa orang yang pernah saya kenal. Beberapa keluarga yang mempunyai aqidah gado-gado, bapaknya muslim ibunya bukan, atau ibunya yang muslim sedangkan bapaknya yang bukan…wa na’udzu billah. Hasilnya? Anak-anak (kebanyakan) mengikuti agama ibunya. Semoga Allah menyelamatkan aqidah kita dan keluarga kita.

Maka dari itu, merupakan hal yang pertama dan sangat esensial adalah mendidik istri-istri kita, train the trainer, karena istri-istri kitalah yang akan lebih banyak berada di garis depan dalam meletakkan fondasi kepada anak-anak kita. Tentu saja, ini sama sekali tidak berati bahwa sang Bapak bisa lepas tangan begitu saja. Justru tanggung jawab terbesar tetap pada pemimpin utama rumah tangga. Akan tetapi peran sang Ibu yang mana lebih banyak bersama anak-anak lebih dominan dalam memberi warna pada anak-anaknya. Wallahu a’lam.

Sehingga, jika kita kembali kepada kisah Ibrahim dan Ismail, kita dapati bahwa respon Ismail terhadap perintah Allah adalah buah dari didikan sang ibunda, karena Hajar pun memberikan respon yang sama terhadap Ibrahim ketika beliau akan ditinggalkan bersama bayi Ismail di lembah tak bertepi. Mari kita flash back sedikit pada episode ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Isma’il di padang pasir.

Sesampainya di Lembah (masjid Al-haram sekarang) dengan bekal yang sangat terbatas Nabi ibrahim meninggalkan Hajar dan putranya dilembah itu. Selang beberapa langkah, Hajar bertanya kepada Ibrahim: ”Wahai Ibrahim apakah Allah yang memerintahkan engkau meninggalkan kami di sini?!”. Ibrahim tidak segera menjawab, sehingga Hajar mengulangi pertanyaannya lagi. Akhirnya Ibrahim menjawab: ”Iya, Allah yang memerintahkan aku untuk meninggalkan kalian di lembah ini”.

Begitu mendapatkan Jawaban dari ibrahim, Hajar seraya berkata: ”Kalau begitu Allah tidak akan menyia nyiakan Kami disini”.

Lalu berangkatlah Nabiullah Ibrahim. Ketika pandangan Hajar sudah lenyap dibalik bebukitan, ibrahim berpaling dan berdo’a: ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Ibrahim: 37).

Akhirnya, kita mendapati, bahwa Ibrahim ’alaihissalam menjadikan Do’a sebagai tawakalnya yang utama. Ibrahim yakin bahwa Tuhannya akan menjaganya, bahwa Dia akan mengabulkan permohonan hambaNya, hamba dan kekasihNYa. Keyakinannya terhadap Rabb-nya menjadikannya ringan menjalankan setiap perintah-Nya. Maka tidak heranlah, jika Ibrahim menjadi teladan sepanjang masa. Ibrahim yang seorang diri disifati Allah sebagai Ummat karena keteladanannya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah Ibrahim ini, dari kuatnya keyakinan hingga sikap totalitas penyerahan diri kepada Sang Pencipta.

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)Al Baqarah 269. 

——————————-

Pernah di posting di milis muslim omanindo, 14 May 2010, dengan judul “Sampeyan Guru Saya”