Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah. Isinya sebagai berikut:

“Salam untukmu. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Barang siapa mencari ridho Allah dengan membuat manusia murka, maka Allah akan bereskan urusannya dengan sesama manusia. Tetapi barang siapa mencari ridho manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan serahkan orang tersebut kepada manusia’ Wassalamu ‘alaika.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid mengatakan, “Apabila seseorang mencari ridho Rabbnya dengan niat yang tulus, maka Allah akan ridho kepadanya karena dialah yang paling mulia dari hamba-Nya… karena hati seseorang di antara dua jari dari jari-jemari Allah ta’ala. Allah-lah yang membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya [HR. Muslim, no. 2654]…Dan barang siapa yang mencari ridha manusia namun membuat Allah murka, maka hasilnya adalah dia akan mendapatkan lawan dari maksudnya tersebut.”

Hadits ini bisa menjadi yang sangat penting bagi para da’i dan selainnya, baik da’i itu seorang ustadz maupun bukan. Karena tidak setiap da’i itu harus seorang ustadz, sedangkan menjadi da’i adalah kewajiban setiap muslim sebagaimana diperintahkan Allah ta’ala “Wahai orang-orang yang beriman selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” [At Tahrim 6].

Bagaimana hubungannya?

Yang namanya da’i (orang yang menyeru/berdakwah), tentu proses dakwah hanya bisa berjalan jika ada mad’u (orang yang diseru/didakwahi). Tanpa mad’u, sang da’i tidak bisa “beraksi”. Dan keluarga sang da’i itu sendiri adalah ma’du-nya yang pertama.

Kadangkala, sang da’i ingin mengambil hati mad’u nya, baik dengan niat menyampaikan dengan hikmah atau niat-niat lainnya seperti berharap mendapat pengikut yang banyak, menjadi populer, mengharapkan imbalan, karena hutang budi, dan berbagai motif lainnya. Niat untuk menyampaikan dengan hikmah tentu sebuah niat yang benar dan memang harus diusahakan, sedangkan niat lain yang disebutkan selainnya bukanlah niat-niat yang benar. Dan hal ini amat sangat disayangkan jika dimiliki seorang da’i. Maka menjadi kewajiban setiap da’i untuk selalu mengikhlaskan niatnya, menetapkan tujuannya semata-mata untuk mencari ridho Allah Ta’ala, tidak menyembunyikan kebenaran demi popularitas sesaat dan tujuan-tujuan yang rendah lainnya, serta bersabar terhadap reaksi objek dakwahnya, yang bisa berupa penerimaan, penolakan, atau bahkan perlawanan.

Cukuplah kisah para Nabi dan Rasul yang mulia menjadi cerminan betapa tidak ada dakwah yang sepi dari gangguan dan penolakan. Kemurkaan manusia bisa berubah menjadi keridhaan jika kebenaran telah ditampakkan padanya. Dan itu mudah bagi Allah. Sebaliknya keridhaan manusia pun bisa berubah menjadi kemurkaan jika dia menyadari telah dijauhkan dari kebenaran yang diinginkannya. Semua itu sangat mudah bagi Ar Rahman. Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehandakiNya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya.

——————————————————————————-

Sebuah catatan untuk menghibur dan mengingatkan diri sendiri.