Kita pasti pernah mengusahakan sesuatu, atau bahkan sering, dengan usaha yang cukup keras, atau bahkan sangat keras, mungkin juga sudah dengan cerdas. Jika setelah itu kita berhasil, tentu itulah yang diharapkan. Di situlah sunatullah berlaku. Ada sebab, ada akibat. Dengan sebab usaha, berakibat membawa hasil sebesar usaha yang dilakukan. Atau seseorang menginginkan pasangan hidup dengan kriteria tertentu, lalu mengusahakan sebab-sebabnya, namun ternyata pasangan yang diperolehnya meleset dari kriteria yang pernah diimpikannya. Atau seseorang berharap dapat sekolah atau bekerja pada sekolahan atau pekerjaan tertentu, lalu berusaha keras untuk mendapatkannya, ternyata  hasilnya berbalik 180 derjat.

Begitulah, meski usaha keras telah dilakukan, dan doa pun telah dipanjatkan…ternyata hasilnya tidak seperti yang direncanakan, alias kegagalan sekaligus harga diri dipertaruhkan. Kegagalan itu tentulah sangat mengecewakan, setidaknya sesaat ketika peristiwanya baru saja berlangsung. Setelah itu, sebagian ada yang mengambil sikap putus asa, namun tidak sedikit yang justru bangkit dengan tetap menegakkan kepala. Maka beruntunglah orang yang kedua, dan merugilah yang putus asa.

Maka dari itu, hendaknya kita selalu memikirkan hikmah apa yang ada dibalik kegagalan kita. Karena tidak mungkin semua itu sia-sia. Tidak mungkin Allah itu berkehendak men-dhalimi kita, karena Allah itu tidak dhalim melainkan manusia yang men-dhalimi dirinya sendiri. Diantara hikmah dari ketidaksempurnaan atau kegagalan yang kita alami, dan ini tidaklah membatasi hikmah yang bisa digali dari setiap individu:

  • Meyakini bahwa yang kita inginkan belum tentu baik dan yang kita benci belum tentu tidak baik untuk kita. Karena pada hakikatnya kita tidak tahu, sedangkan Allah Maha Tahu. Sehingga kita pun menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas sedangkan Allah tanpa batas.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [Al-Baqarah 216]

  • Meyakini bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada apa-apa yang diberikan kepada kita.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [An-Nisaa’ 19]

  • Menyadari kasih sayang Allah ketika membuat kita tidak sempurna, sehingga kita tidak merasa ujub, sombong, merendahkan orang lain, karena kita menyadari bahwa kita pun tidak sempurna.

“Seandainya seluruh amal anak adam itu baik semua, niscaya dirinya akan binasa oleh UJUB. Karena Alloh subhanahu wa taa’ala mengujinya dengan berbagai kekurangan didalamnya sebagai bentuk kasih sayang kepadanya” [Hasan al-Bashri]

  • Melatih hati kita, apakah yang kita lakukan itu karena Allah atau karena mengharap sesuatu dari makhluk. Inilah Ikhlas. Seorang yang melakukan sesuatu karena Allah, ikhlas hanya mengharap ridha Allah, maka dia tidak akan peduli apapun hasilnya selama usaha atau sebab-sebab yang dilaluinya adalah sebab-sebab yang diridhai Allah Ta’ala. Maka dia telah meyakini bahwa apapun hasilnya pasti baik menurut Allah meski tidak baik dalam pandangan manusia.

******************************

Diselesaikan waktu liburan di Solo