Dalam salah satu perjalanan safarku, aku menginap di sebuah hotel dan ada sebuah masjid kecil yang berjarak kurang dari 100 meter dari hotel.  Pada suatu fajar, ketika aku sampai di masjid itu, rupanya muadzin sedang mengumandangkan iqomah, maka aku segera bergabung dengan jamaah. Waktu itu aku belum shalat sunnah Qabliyah Subuh di kamar hotel, karena memang biasanya aku lakukan di masjid mengingat di sini tidak ada standar jarak yang baku antara adzan dan iqomah. Berbeda dengan tempat aku muqim dimana antara adzan dan iqomah untuk shalat Subuh 25 menit, jadi aku bisa shalat Qabliyah di rumah.

Aku tidak ingin kehilangan 2 rakaat yang sangat dianjurkan ini (muakad), sebagaimana hadits ‘Aisyah berikut ini:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dua rakaat fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 725]

Dan terlebih lagi, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun tidak pernah meninggalkannya baik di kala muqim maupun safar, sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad, “Di antara contoh petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya adalah mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat fardhu, dan tidak diketahui bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudahnya (shalat fardhu), kecuali shalat witir dan sunnah rawatib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan keduanya pada keadaan mukim ataupun bepergian.” [Zad al-Ma’ad: 1/456]

Maku aku pun sudah berniat untuk meng-Qadha (mengganti) nya setelah menyelesaikan shalat Subuh berjamaah. Aku sempat khawatir kalau-kalau hal itu menimbulkan ‘kontroversi’ pada jamaah, mengingat praktek seperti itu belum umum di sini, meskipun ilmu tentang itu sudah dimaklumi di tempat aku bermuqim (Oman). Praktek qadha Qabliyah Subuh itu adalah shahih berdasarkan riwayat berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang belum mengerjakan dua rakaat (shalat, ed.) sebelum subuh, hendaklah dia kerjakan setelah matahari terbit.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dari Qais bin Qahd radhiallahu ‘anhu, bahwa dia pernah shalat shubuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia belum sempat mengerjakan shalat qabliyah. Tepat setelah shalat subuh berjamaah selesai, Qais langsung berdiri dan mengerjakan dua rakaat shalat qabliyah subuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan tidak mengingkarinya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Thabrani; dan dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)

Dan benar saja, ketika aku baru saja mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, 2 orang (Imam dan Muadzin) berusaha menghentikan shalatku, “eh, Mas…Mas…itu Shalat apa?”, sambil tangan si Muadzin dijulurkan di hadapanku. Ketika aku berusaha mengabaikannya, mereka terus berteriak, hingga akhirnya aku batalkan shalat untuk menjelaskan kepada mereka. Hal ini aku lakukan karena membatalkan shalat sunnah itu hukumnya boleh, apalagi demi sebuah maslahat.  Lalu aku jelaskan kalau aku shalat Qabliyah Subuh sebagai Qadha. Alhamdulillah, ada salah seorang jamaah setempat yang mengetahui ilmu ini sehingga membantu menjelaskan kepada Imam. Dan aku pun bisa melanjutkan shalatku.

Sekali lagi, ilmu sangat diperlukan sebelum beramal. Ilmu juga diperlukan sebelum melakukan amar ma’rif nahi munkar. Aku bisa saja meng-Qadha nya setelah matahari terbit, namun saat itu aku juga berniat ingin menunjukkan adanya sunnah ini kepada jamaah. Dengan adanya sedikit dialog (meski sempat mengganggu shalatku), mudah-mudahan hal itu dilanjutkan dengan ditanyakannya kepada orang yang dianggap berilmu oleh jamaah setempat (yang aku ketahui, salah seorang imam Shalat Subuh adalah seorang orang tua yang kelihatannya paham dengan sunnah, sayangnya waktu itu bukan beliau yang menjadi imam).

Aku menduga, mungkin Iman dan Muadzin mengingkari perbuatanku karena mereka mengetahui adanya riwayat dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang menyebutkan waktu-waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)

Memang benar adanya larangan shalat pada waktu-waktu yang telah disebutkan dalam sunnah mengenai pelarangannya, namun larangan ini tidak berlaku untuk praktek qadha Qabliyah subuh, karena telah ada sunnah yang secara khusus menunjukkan praktek tersebut, sehingga khususnya pembolehan itu mengeluarkannya dari keumuman pelarangan. Wallahu a’lam.

———————————————————————————

Pengalaman saat safar di Solo, dan tulisan ini diselesaikan di Jogja