Hati adalah sebagaimana badan. Jika badan membutuhkan makan dan minum agar terus hidup, maka hati pun lebih membutuhkan makanan dan minuman supaya hati tidak sakit atau mati, dan makanan-minuman hati adalah ilmu. Begitu juga badan bisa lelah jika terus menerus melakukan aktivitas., demikian pula hati bisa lelah dan bosan setelah melakukan rutinitas.

Kelelahan hati ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu’alahi wasallam dalam hadits berikut ini:

لكل عمل شرة ولكل شرة فترة. فمن كانت فترته إلى سنتي فقد اهتدى ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك

Setiap amal perbuatan ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lemahnya. Barangsiapa yang masa lemahnya menuju pada sunnahku, maka sungguh dia telah mendapatkan petunjuk. Namun barangsiapa yang masa  lemahnya menuju pada selainnya, maka sungguh dia telah binasa [Shahih, riwayat Ahmad, Ibnu H ibban, dan lainnya]

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam terkadang juga mengistirahatkan jiwa dengan senda gurau dan tertawa bersama istri dan keluarganya.

Salah satu sarana untuk mengistirahatkan jiwa dari rutinitas adalah dengan bepergian atau ber-safar. Bepergian merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Di dalamnya ada kedekatan dan keramahan dengan sesama, melapangkan kepenatan, mendapatkan pengalaman baru dalam kebaikan, bahkan bisa jadi ajang berlomba menuju kebaikan. Bepergian juga bisa menjadi salah satu sarana dakwah yang baik, berbagi rizki yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Oleh sebab arti penting seperti inilah bepergian dibolehkan, bahkan pahala pun bisa diraih selama bepergian.

Beberapa alasan penting mengapa perlu bepergian:

1. Bertafakkur (merenungi, memikirkan) terhadap ayat-ayat kauniyah Allah, bagaimana Dia telah menciptakannya. Tafakkur merupakan ibadah yang sangat besar nilainya di sisi Allah Ta’ala yang dengannya para hamba ini beribadah kepada Allah yang Maha Pencipta.

2. Membuahkan kelapangan jiwa, membuang kepenatan dan beban pikiran sekaligus memberikan suasana baru bagi jiwa dan memberikan penyegaran (refreshing)

3. Menghilangkan kejenuhan dan kebosanan sebab telah lama berada dalam pergaulan yang monoton.

4. Mengambil pelajaran serta nasehat kehidupan dari para pendahulu yang telah berlalu, dimana bagaimanapun juga manusia pada akhirnya akan mati juga.

5. Berlatih tabah menahan kelelahan hidup dan himpitan beban-beban kehidupan. Sebab perjalanan itu sendiri pada hakikatnya adalah penderitaan, kelelahan, dan kesulitan-kesulitan. Misalnya sulitnya mendapat makanan seperti yang diinginkan, sulitnya menjaga kebersihan sebagaimana ketika sedang muqim, lelah dan bosannya perjalanan, dan kesulitan-kesulitan lainnya yang menuntut kesabaran karena semua itu dilakukan untuk menuju kegembiraan yang telah direncanakan.

Maka dari itulah, diantara do’a ketika bepergian adalah “Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepadaMu di dalam perjalanan kami ini amal baik dan ketaqwaan serta amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan dekatkanlah kepada kami jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti(ku) yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

6. Belajar memperbaiki akhlak dengan senantiasa memeliharanya di sepanjang perjalanan, seperti sabar, mulia dan dermawan, tabah dan berharap pahala, dan berbagai akhlak mulia lainnya.

7. Setelah kembali dari perjalanan akan menyemangati jiwa agar gemar beribadah dan menunaikan ketaatan. Telah ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengenai do’a ketika kembali dari bepergian:

“Kami kembali, bertaubat, tetap beribadah, dan senantiasa memuji Rabb kami” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Lapangnya jiwa merupakan sebab yang kuat yang memunculkan kemauan serta semangat baru.

8. Selama bepergian merupakan kesempatan yang cocok untuk mendidik dan memberi pengarahan kepada keluarga. Betapa banyak serta beragamnya kejadian yang didapati saat bepergian sehingga seorang pendidik bisa memberikan arahan tentang sikap apa yang harus diambil di saat seperti itu.

9. Ketika bepergian akan benar-benar terwujud makna ukhuwah, persaudaraan serta kasih sayang, yang semuanya itu merupakan ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Tentunya masih banyak alasan-alasan lain yang bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.

Setelah memahami alasan mengapa perlu mengadakan perjalanan (safar), maka selanjutnya kita perlu mengetahui apa saja yang dapat dikatakan sebagai perjalanan yang Islami, yaitu suatu perjalanan (yang dimaksud adalah perjalanan dalam rangka liburan) yang sesuai dengan syariat Islam, atau minimal dibolehkan secara syariat, dan kalau bisa adalah yang diperintahkan atau dianjurkan.

Berikut ini hanya beberapa contoh yang dapat dijadikan rujukan agar liburan meraih pahala:

1. Mengunjungi keluarga dan kerabat yang mana pada hari-hari biasa tidak sempat atau jarang dikunjungi. Inilah yang disebut dengan silaturrahim, yang manfaatnya sudah sangat dipahami oleh sebagian besar kaum muslimin, yaitu akan diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

2. Mengikuti acara pelatihan keagamaan (biasa disebut dengan istilah Dauroh). Biasanya banyak acara Dauroh yang diadakan selama liburan sekolah.

3. Melaksanakan Umrah, bagi yang diberi kelapangan rizki. Diantara keutamaan Umrah adalah menghapuskan dosa diantara dua Umrah.

4. Rekreasi atau Wisata Alam. Ini adalah dalam rangka men-tafakkuri ciptaan Allah Ta’ala. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah hendaknya tidak mengunjungi tempat-tempat yang murni maksiat, penuh dengan syiar-syiar kekafiran, atau tempat yang banyak maksiatnya, karena itu adalah pintu yang sangat halus dari setan dan bala tentaranya untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah Ta’ala.

5. Menyalurkan hobi yang bermanfaat. Terkadang, karena kesibukan yang rutin, seseorang tidak bisa menyalurkan hobinya. Selama hobi itu sifatnya positif, mubah (boleh) secara syariat, tidak ada unsur pelanggaran terhadap syariat, maka sah-sah saja untuk disalurkan, selama hal yang mubah tidak dilakukan secara berlebihan.

Pada prinsipnya, sebagaimana kaidah umum “asal segala sesuatu (adat istiadat, selain ibadah) adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya”, maka rekreasi atau memanfaatkan waktu liburan untuk hal-hal yang tidak ada unsur haramnya dalam syariat adalah boleh.

فإذا فرغت فانصب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”                    [Al-Insyiroh 7]

———————————————————————————-

Diringkas dari beberapa artikel di Majalah Al-Mawaddah vol. 41 dengan beberapa tambahan, di sela-sela masa liburan di rumah orang tua.