Shalat dengan beralaskan Sajadah adalah hal yang lumrah dilakukan oleh kaum muslimin hari ini. Berbagai bentuk, ukuran, dan corak Sajadah pun berkembang dari waktu ke waktu, bahkan sekarang sudah menjadi pemandangan biasa jika karpet masjid bercorak Sajadah dengan ukuran yang beragam pula. Entahlah…apakah ini merupakan bukti kreativitas manusia atau kelihaian tipu daya syaitan untuk menggoda anak Adam. Lho! Apa hubungannya Sajadah dengan syaitan la’natullah?

Mendirikan Shalat berjamaah adalah disyariatkan bagi muslim laki-laki. Sekian banyak dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang shahih mengarah kepada hukum wajibnya shalat berjamaah. Meskipun ada pendapat lain yang menyimpulkan hukum yang berbeda, namun tidak akan dibahas pada tulisan ini.

Diantara kesempurnaan dalam shalat berjamaah adalah meluruskan dan merapatkan shaff (barisan shalat), sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan kepada para sahabatnya sebelum memulai takbir:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. [Shahih Muslim 433]

Makna dari “luruskan shaf-shaf kalian” yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf. Dan dikatakan bahwa meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalatyakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30.

Selain memerintahkan untuk meluruskan shaf, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan untuk menyambung atau merapatkan shaf, sebagaimanan diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. [HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah 743]

Lalu, apa yang terjadi jika setiap anggota jamaah membentangkan sajadahnya masing-masing dan tiap-tiap orang berdiri di tengah-tengah sajadahnya? Atau pada masjid-masjid yang sudah dipasang karpet bermotif Sajadah, lalu setiap jamaah menganggap bahwa setiap kotak adalah “jatahnya” sehingga masing-masing pun berdiri di tengah-tengah tiap kotak sajadah. Akhirnya, yang terlihat adalah kerenggangan shaf dengan jarang kerenggangan yang berbeda-beda tergantung dari lebar masing-masing sajadah. Menyedihkan! Itulah yang banyak dijumpai di masjid-masjid kaum muslimin di negeri kita. Tidak semuanya, tapi pemandangan seperti itu paling banyak dijumpai. Ditambah lagi, kebanyakan Imam langsung “tancap gas” (bertakbir begitu iqomat selesai) tanpa melihat jamaah dan mengatur shaf. Padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selalu mengatur barisan sebelum takbiratul ihram seperti beliau mengatur barisan pasukan perang.

Entah apa yang menjadi latar belakangnya. Apakah sikap meremehkan dengan dalih “ah…yang penting kan shalat berjamaah”, atau karena kebodohan kaum muslimin yang sudah sedemikian parah sehingga untuk urusan shaf saja tidak tahu. Laa haula walaa quwwata illa billah. Padahal telah shahih contoh dari suri tauladan yang paling baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diiringi pula dengan perintah beserta motivasi dan ancaman.

Padahal, jika keutamaan meluruskan dan merapatkan shaf ini diketahui, tentu setiap muslim akan bersemangat untuk mengamalkannya disaat banyak orang melalaikannya. Janji yang begitu besar disampaikan dari ‘A`isyah -radhiallahu Ta’ala ‘anha- berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga” [HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H]

Dan jika setiap muslim telah mengetahui adanya ancaman yang serius bagi siapa yang tidak meluruskan dan merapatkan shaf, tentu seorang muslim tidak akan pernah melanggarnya. Pada hadits sebelumnya telah dikabarkan bahwa ketidakrapatan shaf memberi celah kepada syaitan, sedangkan ketidaklurusan shaf bisa menyebabkan kaum muslimin berselisih, sebagaimana hadits berikut ini:

لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

“Kalian akan benar-benar meluruskan shaf, atau Allah benar-benar akan membuat hati-hati kalian berselisih”. [HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (717), dan Muslim dalam Shohih-nya(436)]

Adanya Sajadah tidaklah menjadi masalah, selama tidak ada gambar makhluk hidup atau motif-motif lain yang bisa mengganggu kekhusyu’an dalam shalat. Namun terkadang adanya Sajadah menjadi masalah, tatkala yang punya Sajadah tidak mengetahui ilmu tentang mengatur barisan shalat. Betapa indahnya, jika setiap muslim memahami dan mengamalkan perintah meluruskan dan merapatkan shaf ini, sehingga sesama jamaah bisa saling berbagi Sajadah, bahu dan kaki saling menempel sehingga ukhuwah pun semakin kuat.

Kapan ya? Yuk, kita mulai dari diri sendiri🙂 Insya Allah bersambung dengan Tata Cara Meluruskan dan Merapatkan Shaf, dengan memohon Taufik dari Allah Ta’ala.

———————————————————————————————————

Judul tulisan dibuat di kampung halaman,  isi diselesaikan di kampung halaman Istri ketika melihat fenomena yang sama. Semoga kaum muslimin menyadari dan berkeinginan untuk mengangkat kejahilan dari diri-diri mereka. Allahul musta’an.