Tolong menolong adalah sebuah ungkapan yang berkonotasi positif. Ketika kata-kata ini diucapkan untuk menggambarkan keadaan seseorang, yang terbayang adalah bahwa orang yang disebutkan sedang berbuat kebajikan. Benarkah setiap yang dikatakan tolong  menolong itu pasti sesuatu yang hakikatnya baik?

Islam telah mengatur batasan-batasan dalam perkara tolong menolong dengan batasan yang jelas. Dalam penggalan surat Al Maa’idah ayat 2 disebutkan:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”

Dari penggalan ayat tersebut terdapat 2 perkara:

1. Perintah untuk saling menolong dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan

2. Larangan untuk saling menolong dalam mengerjakan perbuatan dosa dan pelanggaran

Demikianlah kesempurnaan petunjuk Allah Ta’ala yang selalu memasangkan antara perintah dan larangan, antara berita gembira dan peringatan, antara kebaikan dan keburukan, dan lain sebagainya, sehingga menjadi jelaslah permasalahan yang disampaikan dan menjadi mudah untuk dipahami bagi siapa yang ingin memahaminya.

Ibnu Abbas mengatakan,

“Yang dimasud dengan birr adalah hal-hal yang diperintahkan. Sedangkan yang dimaksud dengan takwa adalah segala hal yang dilarang” (Diriwayatkan oleh Thabari, hasan. Lihat at Tafsir al Muhtashar al Shahih hal 121).

Ibnu Sa’di mengatakan,

“Hendaknya sebagian kalian menolong sebagian yang lain untuk melakukan birr. Yang dimaksud dengan birr adalah segala sesuatu yang Allah cintai dan Allah ridhai baik berupa amal badan ataupun amal hati, baik terkait dengan hak Allah ataupun hak sesama manusia. Sedangkan yang dimaksud dengan takwa dalam ayat ini adalah meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah dan rasulNya baik berupa amal badan maupun amal hati” (Taisir al Karim al Rahman hal 228, terbitan Dar Ibnul Jauzi).

Maka memberikan pertolongan untuk melakukan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah serta meninggalkan apa-apa yang dibenci  oleh Allah dan RasulNya adalah sesuatu yang dikehendaki oleh syariat. Dalam ayat ini Allah tidak menyebutkan dengan siapa saja kita diperkenankan untuk mengadakan kerja sama dalam melakukan amal kebajikan. Hal ini menunjukkan bahwa kita boleh bekerja sama dengan siapa pun asalkan untuk mewujudkan amal kebajikan.

Ibnul Qayyim mengatakan,

“Sesungguhnya orang musyrik, ahli bid’ah, ahli maksiat, pemberontak, dan orang-orang zalim jika meminta suatu hal yang dengan hal tersebut mereka bermaksud untuk mengagungkan hal-hal yang mulia di sisi Allah maka permintaan mereka direspon dan dibantu. Apa yang mereka minta diberikan. Meskipun mereka mencegah orang lain (dari kebaikan).”

Mereka ditolong untuk melakukan perbuatan yang mengandung pengagungan terhadap hal-hal mulia dan agung di sisi Allah. Mereka tidak boleh ditolong untuk melakukan kekafiran dan kezaliman. Mereka dicegah dan dilarang untuk melakukan perbuatan selain itu.

Semua orang yang meminta bantuan untuk melakukan hal yang Allah cintai dan Allah ridhai itu direspon, siapapun dia. Hal ini dilakukan jika membantu orang tersebut untuk melakukan sesuatu yang Allah cintai tersebut tidak menimbulkan perkara yang Allah benci yang lebih besar .

Ini adalah termasuk perkara yang paling rumit dan sulit serta sangat berat untuk diterima oleh jiwa” (Zaadul Ma’ad 3/269, Muassasah Risalah cetakan keempat tahun 2005).

Setelah mendapatkan petunjuk tentang tolong-menolong ini, maka sudah seharusnya kita melihat-lihat sebelum terlibat dalam suatu perbuatan. Tidak selalu kata-kata “tolong-menolong” itu pasti sesuatu yang terpuji dan membuat pelakunya mendapat kebaikan.

Menolong seseorang dalam ketakwaan akan memberikan faedah kepada orang yang menolong, yaitu mendapatkan kebaikan yang serupa tanpa mengurangi bagian (pahala) orang yang ditolong. Hal ini sebagaimana dalam hadits berikut ini:

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” [HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Demikian juga ketika seseorang terlibat dalam tolong-menolong namun dalam kemaksiatan, bukan dalam ketakwaan, maka siapa saja yang terlibat akan mendapatkan dosa tanpa mengurangi dosa orang yang ditolong. Hadits berikut ini cukup jelas memberikan gambaran bagaimana orang yang terlibat dalam perbuatan dosa.

“Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, orang yang mau berhutang dengan cara riba, penulis dan saksi dalam transaksi riba”. Rasulullah bersabda, “Mereka itu dosanya sama” [HR Muslim no 4177].

Fitrah manusia yang lurus seringkali tergerak untuk memberikan pertolongan dan kadang merasa sungkan jika tidak terlibat dalam hal-hal yang umumnya dilakukan masyarakat. Maka disini diperlukan ilmu agar dapat menimbang dan melihat sebelum terlibat dalam suatu perbuatan. Jangan sampai niat yang baik justru membawa kepada kemurkaan Allah. Niat yang baik harus diikuti dengan cara yang baik. Wallahu a’lam.