Kebanyakan kaum muslimin mempunyai anggapan bahwa shalat Jama’ dan Qashar itu satu paket, artinya dimana ada jama’ disitu harus qashar, atau sebaliknya. Padahal, belum tentu demikian adanya. Sebaliknya, banyak juga diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan shalat Jama’ dan Qashar dengan berbagai alasan yang “dianggap” baik (kebanyakan menganggap shalat yang sempurna lebih baik, juga menganggap banyak waktu sehingga tidak perlu jama’ atau qashar, dan berbagai alasan lainnya).

Berikut ini adalah sebuah risalah yang mencoba menjelaskan prinsip shalat Jama’ dan Qashar secara ringkas. Perbedaan pendapat di kalangan ulama tidak akan diulas disini melainkan hanya dipilih pendapat yang dianggap paling rajih (kuat/unggul) dan diikuti oleh penulis, untuk itu pembaca disarankan merujuk kepada kitab-kitab fikih besar yang membahas shalat Jama’ dan Qashar secara rinci berikut tata cara dan berbagai persoalan yang mungkin dijumpai dalam prakteknya.

Jama’ artinya mengumpulkan. Shalat jama’ maksudnya mengumpulkan atau melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Dzuhur dan Ashar di waktu Dzuhur, yang kemudian disebut Jama’ Taqdim (mengumpulkan di waktu shalat yang pertama), atau melakukannya di waktu Ashar, yang kemudian dinamakan Jama’ Ta’khir (mengumpulkan di waktu shalat yang terakhir). Demikian juga disebut shalat jama’ ketika mengumpulkan pelaksanaan shalat Maghrib dan shalat Isya’ baik di waktu Maghrib atau di waktu Isya’.

Semua shalat fardhu boleh di-jama’ kecuali shalat Shubuh. Shalat Shubuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh di-jama’ dengan shalat Dzuhur atau dengan shalat Isya’.

Qashar artinya memendekkan. Shalat qashar maksudnya meringkas shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Seperti shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya’. Sedangkan shalat Maghrib dan shalat Shubuh tidak bisa diringkas/di-qashar.

Shalat Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar shalatmu” (An Nisaa: 101), dan itu merupakan shadaqah (pemberian) dari Allah Ta’ala yang disuruh oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk menerimanya (HR. Muslim)

Meng-qashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir), baik ketika dalam perjalanan maupun sedang menetap sementara di tempat tujuannya. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: “Saya bersahabat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (sebegitu lama), akan tetapi dalam safar beliau tidak pernah shalat lebih dari 2 rakaat. Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (HR. Al-Bukhari no. 1102). Riwayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan Khulafa’ur Rasyidin adalah meng-qashar shalat ketika dalam perjalanan. Adapun mengenai pengambilan kesimpulan hukum meng-qashar shalat, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Sedangkan men-Jama’ shalat bukan hanya untuk musafir, tetapi boleh juga dilakukan oleh orang yang muqim (tidak bepergian), atau orang yang sedang sakit, karena hujan lebat dan banjir, atau adanya hal-hal yang menyulitkan seorang muslim untuk bolak-balik ke masjid. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam men-jama’ shalat Dzuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan, “bukan karena takut, hujan dan musafir”. Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim, V/215 mengatakan, “Mayoritas ulama membolehkan men-jama’ shalat bagi mereka yang tidak sedang musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai kebiasaan. Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Al-Marwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbas ketika mendengarkan hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam diatas, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan alasan men-jama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”.

Dengan demikian jelaslah bahwa antara shalat Jama’ dengan Qashar adalah 2 hal yang tidak harus selalu dikumpulkan bersama. Pada saat safar, seorang muslim berhak meng-qashar shalatnya. Dan jika dia mau atau melihat adanya kesulitan, maka boleh men-Jama’-nya. Kemudian ketika sedang menetap untuk sementara waktu, maka dapat meng-qashar tanpa men-jama’. Perjalanan haji Nabi shallallahu ‘alahi wasalah telah memberikan gambaran praktek shalat qashar dan jama’. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berada di Mina untuk bermalam (baik sebelum atau sesudah hari Arofah), beliau hanya meng-qashar shalat tanpa menjama’nya. Semua shalat fardhu dikerjakan pada waktunya dengan meng-qashar shalat yang 4 rakaat. Ketika beliau berada di Arofah untuk wukuf, beliau meng-qashar dan men-jama’ shalat Dhuhur dengan Ashar. Begitu juga ketika berada di Muzdalifah beliau meng-qashar dan menjama’ shalat Maghrib dengan Isya’. Dari praktek tersebut kita bisa mengambil pelajaran, ketika di Mina kondisi beliau dan para sahabat adalah dalam keadaan menetap untuk sementara, tidak sedang dalam perjalanan, namun status masih safar (meskipun dilahirkan di Makkah, karena telah hijrah dan menetap di Madinah, maka beliau adalah penduduk Madinah, sehingga perjalan ke Makkah dalam rangka Haji maupun yang lainnya termasuk safar), sehingga beliau meng-qashar shalat yang 4 rakaat. Namun ketika berada di Arofah dan Muzdalifah, beliau dalam keadaan di tengah-tengah perjalanan, maka selain meng-qashar beliau juga menjama’nya.

Sedangkan bagi muslim yang mukim (tidak sedang dalam perjalanan), maka tidak berhak meng-qashar shalat. Meskipun demikian, menjama’ shalat masih mungkin dilakukan jika terdapat kondisi-kondisi yang menyulitkan atau memang dibutuhkan untuk dilakukan, dengan catatan tidak dijadikan kebiasaan serta tidak bermudah-mudahan dalam menjama’nya.

Shalat jama’ dan qashar ini tidaklah berarti menggugurkan kewajiban shalat berjamaah bagi muslim laki-laki. Jika perjalanan dilakukan oleh suatu rombongan, maka disyariatkan untuk mendirikan jamaah ketika dalam perjalanan. Jika seorang musafir sedang menetap untuk sementara waktu selama masa perjalanannya, maka muslim laki-laki tetap disyariatkan untuk mendatangi masjid untuk shalat berjamaah dan mengikuti imam dalam jumlah rakaatnya (tidak meng-qashar shalatnya). Wallahu a’lam.