Telah dimaklumi oleh kebanyakan kaum muslimin bahwa memenuhi undangan adalah wajib, bahkan tidak terjadi perselisihan di kalangan ulama. Namun terkadang pemahaman ini masih perlu dirinci lagi, karena ada diantara kaum muslimin yang berdalil dengan kewajiban ini sehingga tidak memperhatikan batasan-batasan syariat lainnya. Para ulama merinci dengan memberi 3 syarat sebagai berikut (dari tulisan Muhammad Abduh Tuasikal):

(1) orang yang mengundang adalah seorang muslim,
(2) orang yang mengundang tidak terang-terangan dalam berbuat maksiat, dan
(3) tidak terdapat maksiat yang tidak mampu dihilangkan dalam acara yang akan dilangsungkan.

Kewajiban memenuhi undangan ini bermula dari hadits: “Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad), dan hal ini dikuatkan dengan hadits: “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, mayoritas ulama berpendapat bahwa undangan yang wajib dipenuhi hanya undangan walimahan (resepsi pernikahan). Sedangkan undangan selain walimahan hanya dianjurkan (tidak wajib) untuk dipenuhi (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Ibnu Utsaimin). Kewajiban ini diperkuat dengan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ”Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy (resepsi pernikahan, pen), penuhilah.” (HR. Muslim), dan juga sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang artinya,”Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah/pernikahan, sungguh dia telah durhaka pada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim).

Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang kewajiban ini dan beliau memberikan jawaban sebagai berikut: “Wajibnya mendatangi undangan walimah nikah tidaklah mutlak, tapi harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya:

1. Jika undangan itu yang pertama kali pada walimah itu. Jika ada undangan lagi untuk hari kedua, dan ketiga, maka tidak wajib memenuhi udangan itu.

2. Yang mengundang harus seorang muslim. Apabila si pengundang bukan muslim, maka tidak wajib menghadirinya.

3. Orang muslim tersebut harus seorang yang multazim (muslim taat). Jika ia orang yang biasa memamerkan maksiatnya, dan ada maslahat untuk tidak menghadiri walimahnya, maka (hendaknya) ia tidak menghadirinya.

4. Si pengundang bermaksud memilih orang yang diundangnya, baik lewat telpon, atau langsung menemuinya, atau lewat kartu undangan khusus, hingga kita tahu bahwa ia benar-benar menginginkan kita hadir dalam acaranya. Karena sebagian undangan yang dikirim, tidak dimaksudkan agar yang diundang benar-benar menghadirinya, tapi hanya mujamalah (basa-basi). Buktinya si pengundang tidak meneliti undangannya, dan jika ada undangan yang tidak hadir, si pengundang tidak menanyakannya “kenapa anda tidak hadir?”. Maka undangan yang seperti ini, tidak wajib dihadiri.

5. Tidak adanya kemungkaran di tempat acara walimah itu. Jika di tempat itu ada kemungkaran, maka ada dua kemungkinan:

Adakalanya ia bisa merubah kemungkaran itu, maka ia tetap wajib menghadirinya, karena dengan begitu, ia berarti melakukan dua hal yang baik: di satu sisi ia mendatangi undangan walimah, dan di sisi lain ia bisa menghilangkan kemungkaran yang ada. Misalnya jika orang itu pemuka masyarakat, yang jika hadir, ia bisa menghilangkan kemungkaran, melarangnya, dan mereka mau meninggalkannya.

Adakalanya ia tidak bisa merubah kemungkaran yang ada, maka ia tidak boleh menghadirinya, karena orang yang menghadiri kemungkaran itu seperti orang yang melakukannya, meski ia tidak melakukannya. Sebagaimana firman Alloh ta’ala: “Sungguh Alloh telah menurunkan (ketentuan) bagi kalian di dalam kitab (Alqur’an), bahwa bila kalian mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan dihina, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (jika tetap duduk bersama mereka), tentulah kalian serupa dengan mereka. Sungguh Alloh akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafirin di neraka jahanam”. (Annisa: 140). Dan orang yang menghadiri kemungkaran, meski tidak melakukannya, ia menyerupai orang munafik.

Sebagian Ulama mengatakan: “Bila di sana ada kemungkaran, tapi ia tidak mendengar ataupun melihatnya, maka ia bisa memilih, antara meninggalkannya atau menghadirinya”. Tapi, tidak diragukan lagi, yang lebih utama bagi dia adalah meninggalkannya, karena dengan hadirnya dia, padahal di sana ada kemungkaran, itu menunjukkan kerelaannya terhadap kemungkaran yang ada. Oleh karena itu, bila tidak kita katakan wajib, maka (paling tidak) yang lebih utama bagi dia adalah meninggalkannya. (diambil dari:  http://addariny.wordpress.com)

Jika syarat-syarat yang disebutkan diatas terpenuhi, maka tidak memenuhi undangan menyebabkan seseorang berdosa berdasarkan hadits “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Bagaimana jika tidak diundang?

Seseorang tidak wajib datang jika tidak diundang. Jika ingin mendatangi undangan atau bertamu, dia harus meminta ijin dari tuan rumah atau yang mempunyai acara. Hal ini berdasarkan hadits: “Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Syuaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari).