Masih melanjutkan tulisan tentang bulan baru. Negeri tempat kami tinggal, kebetulan tahun ini berlebaran pada hari Rabu 31 Agustus 2011, sementara kami memulai puasa Ramadhan bersama-sama dengan saudara-saudara dari negeri lain yang berlebaran hari Selasa 30 Agustus 2011. Artinya, kami berpuasa 30 hari dan sebagian besar saudara muslim lainnya berpuasa 29 hari.

Tanggal 1 September 2011 yang lalu, saya mendapat SMS dari teman di Indonesia, yang mana beliau ingin mengkonfirmasi apakah benar Saudi Arabia telah keliru melihat bulan sehingga keliru dalam menetapkan 1 Syawal, dan telah membayar kafarat (tebusan) sebesar 1 Milyar Saudi Riyal. Saya malah merespon teman saya itu, kalau bulan yang saya lihat sekarang ini kelihatan lebih “tua” dari yang seharusnya, yang artinya justru kelihatannya 1 Syawal-nya sebenarnya 30 Agustus 2011. Namun yang menjadi tanda tanya dan rasa penasaran saya sebenarnya adanya pembayaran kafarat 1 Milyar SR itu. Kalaupun ada kesalahan, mungkin bisa saja terjadi, tapi soal membayar kafarat karena salah melihat bulan, belum pernah saya jumpai atau saya dengar ilmunya. Setelah saya telusuri di dunia maya, ternyata saya temukan beritanya sekaligus bantahan dan komentar-komentar yang panjang.

Tanggal 12 September, saya menerima SMS lagi dari teman yang sama, mengabarkan bahwa running text di Metro TV menyatakan kalau malam ini Purnama sehingga 1 Syawal di Indonesia yang benar adalah 30 Agustus 2011. Dan berita ini sekaligus menguatkan bantahaan adanya berita bohong kesalahan penetapan 1 Syawal di Saudi.

Disini saya tidak sedang membahas polemik 1 Syawal Saudi, akan tetapi bagaimana menyikapi kenyataan bahwa bulan yang kita lihat ternyata lebih “tua” dari yang seharusnya. Apakah berarti telah terjadi kesalahan penetapan dan membawa konsekuensi hukum lainnya; seperti membayar kafarat karena telah berpuasa di hari tasyrik? apakah memang ada tuntunannya dalam hal ini?

Jika suatu negara telah melakukan penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal berdasarkan ru’yah (melihat bulan), berarti dia telah melakukan cara yang benar. Karena memang demikianlah tuntunan dari Sunnah.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jika kalian melihatnya (hilal bulan Romadhon) maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal bulan Syawwal) maka berhari rayalah, akan tetapi jika ia (hilal) terhalang dari pandangan kalian maka kira-kirakanlah”, dalam riwayat lain “…maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun jika memang tidak dapat dilihat, maka itu adalah ketentuan Allah Ta’ala, yang dengan hikmahNya menjadikan bulan tidak terlihat pada sebagian bumiNya namun dapat dilihat pada belahan bumi yang lain. Jika memang suatu negeri telah melihatnya (artinya bukan dengan metode hisab, tapi betul-betul ru’yah) sehingga berbuka setelah 29 hari, maka itulah yang diambil dan diikuti. Sedangkan negeri lain yang tidak dapat melihatnya lalu menggenapkan hingga 30 hari, maka dia juga sedang mengamalkan tuntunan Sunnah. Dengan demikian, selama keduanya melakukan ru’yah, tidak ada yang salah dalam penetapannya.

Sederhana sekali. Dan sederhana dalam sunnah masih lebih baik daripada mempersulit diri dengan sesuatu yang bukan dari Sunnah, misalnya merasa bersalah, lalu dengan diam-diam melakukan sesuatu yang justru tidak pernah disyariatkan. Bukankah Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu mengatakan, “Bersikap sederhana di atas Sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tapi di atas bid’ah”. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Sekali-kali tidak, demi Robbmu, pada hakekatnya mereka belum beriman sampai mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam apa yang diperselisihkan diantara mereka, kemudian mereka tidak menaruh rasa berat pada diri mereka terhadap apa yang sudah kamu putuskan dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

Wallahu a’lam bi shawab.