Toleransi tanpa Ketegasan adalah ketidakberdayaan, namun Ketegasan tanpa Ilmu adalah Keberingasan. Toleransi dan Ketegasan diatas ilmu adalah Kebijaksanaan.

Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Diantara sisi keindahan islam adalah toleransinya terhadap umat yang beragama lain. Tentunya toleransi yang diinginkan Islam adalah toleransi yang berdasarkan ilmu dari Islam itu sendiri, serta mempunya ketegasan yang juga berdasarkan ilmu dari Islam. Sehingga kita mampu mempertahankan kewibawaan islam sekaligus keindahannya. Dan itulah salah satu sisi kesempurnaan islam.

Diantara hal-hal yang harus diperhatikan antara lain (ini tidak membatasi hal selain yang disebutkan dibawah ini, silakan di-explore lagi):

1. Tetap waspada 

Allah Ta’ala berfirman yang artinya : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”‌. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”‌ [Al-Baqarah : 120]

Hendaknya setiap muslim tetap waspada terhadap setiap ajakan atau pengaruh mereka terhadap muslim, setelah mendapatkan kabar dari langit berupa ayat diatas (ayat diatas bukanlah satu-satunya ayat yang memperingatkan kaum muslimin agar senantiasa waspada terhadap orang kafir). Mungkin mereka tidak akan secara terang-terangan mendakwahi kaum muslimin atau terang-terangan menyerang kaum muslimin, karena mereka tahu akan mendapatkan perlawanan yang nyata. akan tetapi mereka masuk melalui jalur yang disebut “perang pemikiran”, propaganda budaya, gaya hidup bebas, dll yang merupakan “sahabat karib” syahwat manusia, sehingga sedikit demi sedikit umat islam dijauhkan dari ajarannya. Kita berlindung kepada Allah dari semua ini.

2. Tidak mencintai mereka dan Tidak menjadikan teman setia

Dalam surat Mujaadilah ayat 22 Allah berfirman “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka
dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”.

Syaikh Utsaimin menjelaskan setelah membawakan ayat diatas [Fatawa  Al-Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 226-227]: Berdasarkan ini, tidak boleh terjadi di dalam hati seorang muslim kecintaan terhadap musuh-musuh Allah yang sebenarnya juga musuh-musuhnya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yang Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang ; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” [Al-Mumtahanah : 1]

3. Mendakwahi dengan Perhitungan yang baik

Adapun seorang muslim memperlakukan mereka dengan halus dan lembut karena mengharapkan Islamnya mereka, maka yang demikian ini tidak apa-apa, karena ini merupakan cara mengajak untuk memeluk Islam. Tapi jika mereka tidak bisa diharapkan, hendaknya mereka diperlakukan sesuai dengan haknya. Hal ini telah dibahas secara gamblang di dalam buku-buku para ahli ilmu, terutama pada buku Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, karya Ibnul Qayyim rahimahullah. [Fatawa Al-Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 226-227]

4. Tidak bergembira atas hari raya mereka, apalagi mengucapkan selamat

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan berkata “Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya”.

Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam kitab Ahkam Ahli Adz-Dzimmah mengatakan, “Dan adapun memberikan ucapan selamat untuk syi’ar-syi’ar kekufuran yang bersifat khusus maka ia adalah haram secara ijma’, seperti mengucapkan selamat untuk hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan : “Hari raya yang diberkahi untuk anda”. Maka yang seperti ini kalaupun orang yang mengucapkannya
selamat dari kekufuran maka perbuatan itu termasuk yang diharamkan. Dan ia sama dengan memberikan selamat untuk sujudnya kepada salib. Bahkan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai oleh Allah daripada memberikan selamat atas perbuatannya meminum khamar, membunuh, melakukan zina dan yang semacamnya. Dan banyak orang yang tidak memiliki penghormatan terhadap Ad-Dien terjatuh dalam hal itu dan ia tidak mengetahui apa yang telah ia lakukan”. Selesai tulisan beliau.

5. Memahami hadits “himpitlah ia ke pinggir”

Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya tentang hadits yang diriwayatkan oleh Imam Musliim dalam kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam. Jika kalian menjumpai salah seorang mereka di suatu jalan, himpitlah ia ke pinggir.”[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam no. 2167]

Bukankah hal ini akan membuat mereka enggan memeluk Islam?

Maka beliau rahimahullahu memberikan Jawaban sebagai berikut: Harus kita diketahui, bahwa singa dakwah adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebaik-baik pembimbing ke jalan Allah adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita mengetahui itu, maka pemahaman apa pun yang kita pahami dari ucapan Rasulullah Saw yang ternyata bertentangan dengan hikmah, harus kita akui bahwa pemahaman kita itu patut dikoreksi, dan hendaknya kita ketahui, bahwa pemahaman kita tentang ucapan Nabi Saw ini keliru; artinya kita tidak boleh mengkiaskan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pengertian akal dan pemahaman
kita, karena akal dan pemahaman kita terbatas. Namun ada kaidah-kaidah syar’iyah yang bersifat umum yang bisa dijadikan rujukan dalam masalah-masalah pribadi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang  artinya : “Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam. Jika kalian menjumpai salah seorang mereka di suatu jalan, himpitlah ia ke pinggir. ”

Artinya janganlah kalian berlapang-lapangan untuk mereka saat berjumpa dengan mereka sehingga mereka mendapat lahan lebih luas dan kalian lebih sempit, tapi teruskanlah perjalanan dan arah kalian, dan biarkanlah kesempitan terjadi jika memang ada kesempitan pada mereka. Dan sebagaimana diketahui petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, bukan berarti bila melihat orang kafir langsung memepetkannya ke dinding hingga menyentuhnya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal ini terhadap kaum Yahudi di Madinah, begitu pula para shahabat beliau tidak pernah melakukannya setelah penaklukan berbagai wilayah.

Jadi pengertiannya, bahwa kalian tidak boleh memulai mereka dengan ucapan salam dan tidak boleh lebih melapangkan bagi mereka. Jika kalian berjumpa dengan mereka, janganlah kalian berpencar sehingga mereka menerobos, tapi tetapkan kalian pada jalur yang tengah ditempuh, biarkan kesempitan menimpa mereka jika jalannya itu memang sempit. Hadits ini tidak berarti membuat mereka lari dari Islam (enggan memeluk Islam), tapi justru ini menunjukkan kemuliaan seorang muslim, dan bahwa seorang muslim tidak menghinakan dirinya kepada orang lain kecuali kepada Rabbnya. [Majmu’ah Fatawa wa Rasa’il, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 3, hal. 38-39]

6. Tidak mendahului mengucapkan salam dan tentang ucapan yang dibolehkan

Ucapan salam yang dimaksud adalah sebagaimana ucapan salam dalam islam yang berisikan do’a keselamatan (Assalaamu’alaikum, Hayyakallah, Barakallahu fiik, dll yang bermakna doa). adapun menyapa dengan ucapan lain yang tidak mengandung do’a tidak mengapa. Intinya, seorang muslim dilarang mendoakan orang kafir kecuali doa agar mendapat hidayah ke dalam islam. maka, misalkan kita bersin lalu orang kafir di sebelah kita mendoakan dengan ucapan yang biasa mereka gunakan “god bless you”, maka kita pun bisa menjawab seperti jawaban yang diucapkan kepada muslim “yahdikumullah” (semoga Allah memberi hidayah kepadamu-kepada Islam). Disamping itu, tidak ada larangan memulai pembicaraan kepada mereka, asalkan jangan dimulai dengan salam. Tapi hendaknya dia memulai dengan salam yang lain selain doa keselamatan, misalnya: selamat pagi, permisi, maaf, dan seterusnya. Wallahu a’lam (http://al-atsariyyah.com/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir.html)

Sekali lagi, 6 points diatas tidaklah membatasi hal-hal yang harus diperhatikan. silakan merujuk ke tulisan ulama-ulama atau ustadz lain yang telah banyak menjelaskan tentang hal ini.