Bismillah, melanjutkan seri Apa dengan ULTAH (1)...

Dalam logika duniawi kita, misalkan kita punya sejumlah tabungan lalu setiap periode tertentu jumlahnya berkurang, sehingga kita sadar pada suatu saat nanti tabungan kita akan habis karena berkurangnya telah pasti sementara tidak ada penambahan (misalkan juga karena kita tidak mengambil ribanya). Kira-kira kita dalam posisi yang gembira atau gelisah? Tanpa memasukkan faktor-faktor lain (misalnya memang berkurangnya itu untuk infaq dan kita berharap pahala dari Allah), tentunya kita tidak senang dengan berkurangnya harta kita. Namun kelihatannya kita melupakan logika ini ketika berurusan dengan umur kita. Coba perhatikan, banyak diantara manusia yang begitu gembiranya tatkala umurnya berkurang setahun demi setahun. Bagaimana kita tahu bahwa mereka gembira? Ya dari pesta ulang tahun yang mereka adakan, dari senangnya mereka menerima perhatian dan ucapan selamat dari teman-teman dan saudara.

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang menjadi perhatian dalam tema ini adalah telah ditulisnya 4 hal dan salah satunya Ajal. Maksudnya, sampai kapan Ajal seseorang datang telah dituliskan. Ajal berkaitan erat dengan Umur seseorang. Ajal sama dengan panjang-pendeknya umur seseorang. Sebagai ilustrasi, jika seseorang ditetapkan berumur 60 tahun, berarti setiap tahun yang berlalu mengurangi jatah umurnya, yang berarti pula semakin dekat dengan masa ditentukannya Ajal.

Jika kita menyadari hal ini, masihkan kita bisa bergembira dengan berlalunya tahun sementara amal kita tidak bertambah? Masih bisakah kita berpesta merayakan hari kelahiran kita padahal kita tidak tahu apakah amalan kita diterima Allah atau tidak? Senangkah kita menerima ucapan saudara dan sahabat kita yang pada hakikatnya adalah “selamat ya, sekarang umurmu berkurang lagi, dan engkau semakin dekat dengan kematianmu”?

Mungkin sebenarnya hal-hal diatas sempat melintas dalam pikiran kita, tapi sayangnya seringkali kita abaikan karena lebih memperturutkan kesenangan kita. Atau karena takut dianggap tidak gaul atau kuno. Atau bimbang karena banyaknya orang yang melakukannya (ada syubhat/keragu-raguan/kerancuan dalam dada). Lalu kita pun mulai membuat pembenaran-pembenaran.

Diantara pembenaran itu adalah perkataan “Lho…kita kan sedang mensyukuri nikmat Allah, karena kita masih diberi kehidupan yang baik, masih diberi kesempatan untuk hidup, diberi rejeki yang cukup, lalu kita ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara dan sahabat”.

Niat yang baik. Semuanya berawal dari niat yang baik. Bersyukur dan berbagi. Sungguh sebuah niat yang mulia. Dan setiap kita memang diperintahkan untuk bersyukur, demikian juga berbagi. Tapi Islam sebagai agama yang sempurna tidaklah melupakan bimbingan kepada umatnya tentang bagaimana cara bersyukur dan berbagi. Bukanlah Islam jika tidak mempunyai aturan dalam hal Niat dan Cara mencapainya. Dalam Islam terdapat prinsip “Niat yang baik harus diikuti dengan cara yang baik”. Tujuan tidak menghalalkan cara. Suatu perbuatan tercela tidak akan menjadi baik hanya karena niat yang baik.

Memangnya…apa tercelanya merayakan ulang tahun?

Baiklah…bagi yang telah membaca tulisan pertama “Ada Apa dengan Ultah?” pastilah sudah bisa menarik sedikit kesimpulan tentang betapa tercelanya asal-usul perayaan ulang tahun ini ditinjau dari kacamata Islam. Nah…bagi yang belum sempat membacanya, kami sarankan untuk membacanya terlebih dahulu supaya mempunyai gambaran yang jelas.

Dari uraian di tulisan pertama, jelas sekali bahwa kaum musyrikin-lah yang pada mulanya menciptakan acara perayaan ulang tahun. Penyebutan kaum musyrikin disini untuk mewakili golongan yang beribadah kepada selain Allah, namun bukan dari golongan dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), karena dalam Al Qur’an Allah membedakan orang kafir menjadi 2: Ahli Kitab dan orang-orang Musyrik (lihat Surat Al-Bayyinah ayat 1 dan 6). Dan pencatatan sejarah menjelaskan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani generasi awal tidak merestui perayaan ini karena berasal dari Paganisme.

Jika Yahudi dan Nasrani kuno saja tidak mau ikut-ikutan dalam perayaan ulang tahun, bagaimana mungkin Islam meridhoi acara ini? Bagaimana seorang muslim bisa menikmati dan berbangga diri larut dalam acara ini dengan segala sesuatu yang berkaitan dengannya…sedangkan Islam, telah mempunyai landasan yang tegas sebagaimana hadits berikut ini:

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Ya…dengan merayakan ulang tahun berarti telah meniru kaum yang mempelopori acara tersebut. Dan dengan meniru suatu kaum membawa konsekuensi menjadi bagian dari kaum yang ditiru. Bagaimana jika yang ditiru adalah kaum musyrikin? Allahul Musta’an.

Islam lahir dengan tuntunannya yang lengkap untuk menyelisihi segala bentuk kekafiran di muka bumi, serta berlepas diri dari setiap bentuk kekafiran dan para ahlinya (orang-orang kafir). Yang berkaitan dengan tema ini, tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah merayakan dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah, maka beliau bersabda:  “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya yang kalian bermain-main di dalamnya pada masa jahiliyah, dan Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian : “Hari raya kurban (Idul Adha) dan hari berbuka (Idul Fithri)”. [HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i]

Lalu bagaimana mungkin kaum muslimin hari ini asyik melestarikan hari raya (yaitu suatu perayaan yang berulang-ulang) yang dipelopori orang kafir? Dimanakah kemuliaan dan kewibawaan umat Islam?

Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]

Lalu apa dong yang bisa kita lakukan di hari ulang tahun kita?

Ya…biasa saja. Tidak perlu mengadakan perayaan khusus.

Kalau kita ingin mensyukuri nimat Allah, seharusnya dilakukan kapan saja dan bukannya hanya setahun sekali. Dan mensyukuri nikmat Allah itu dilakukan dengan mengumpulkan 3 perkara: Mengakui bahwa nikmat itu dari Allah, Menyebut-nyebut nikmat tersebut, dan Menggunakan nikmat tersebut dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Jika kita menganggap ulang tahun itu untuk muhasabah, introspeksi, atau refleksi diri…seharusnya pun dilakukang sesering mungkin, bukan hanya setahun sekali. Karena bisa jadi akan sangat terlambat jika harus menunggu tahun depan untuk muhasabah.

Bagaimana kalau kita mendapat undangan perayaan ulang tahun dari saudara, teman, atau sahabat?

Maka kita berusaha semampu kita untuk menyampaikan prinsip yang kita yakini dan amalkan, serta meminta pengertian dari mereka. Dengan cara ini sebenarnya kita sudah mendakwahi mereka secara tidak langsung. Namun jika kita merasa bisa mendakwahi secara langsung, maka memberikan nasehat yang baik, lemah lembut, dan dengan niat yang ikhlas, mudah-mudahan dapat diterima dan lebih-lebih diamalkan.

Hanya kepada Allah kita senantiasa memohon Taufiq dan pertolongan.