“Ah…nggak usah dipermasalahkan lah, itu kan cuma masalah kulit!”

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan semacam itu, atau dalam redaksi yang sedikit berbeda yang intinya sama, yaitu menganggap sebagian permasalahan dalam agama Islam sebagai kulit (dan sebagaiannya sebagai isi). Yang mengucapkan bermaksud menganjurkan agar lebih memperhatikan isi (esensi) dan meninggalkan kulit (yang tampak di permukaan), ketika misalnya sedang membicarakan hal-hal yang ternyata terdapat beberapa pandangan yang cukup beragam.

Sepintas, kata-kata tersebut terdengar indah, bijaksana, dan terkesan mendalam. Lebih-lebih jika yang mengucapkan adalah seseorang yang dianggap tokoh atau ditokohkan, atau seorang public figure. Jika sudah demikian, yang mendengar bisa-bisa manggut-manggut tanda setuju. Lain halnya jika bagi seseorang yang punya wawasan yang jelas tentang Islam serta mempunyai timbangan yang tepat untuk menilai setiap ucapan yang keluar dari seseorang.

Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah berkata “Setiap pendapat orang bisa diterima atau ditolak, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Konsekuensi ucapan beliau ini adalah bahwa pendapat beliau juga bisa ditolak. Lalu bagaimana pula dengan pendapat dalam agama ini dimana dari segi keilmuan sangat jauh dibawah Imam Malik? Tentu lebih pantas untuk ditolak (atau setidaknya dikritisi) jika nyata-nyata bertentangan dengan syariat Rabbul ‘Alamin.

Dari sisi mana peryataan kulit dan isi ini menyelisihi syariat? Hal ini karena yang membuat pernyataan tersebut bermaksud untuk mengesampingkan, meremehkan, atau bahkan meninggalkan sebagian aturan-aturan syariat (yang dianggap sebagai kulit), serta hanya mengamalkan apa yang mereka anggap sebagai isi.

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali berkata “Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya.  Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” [Al-Baqarah : 85]

Ayat-Ayat al-Qur’An Dengan Tegas Dan Jelas Memerintahkan Agar Kaum Muslimin Berpegang Dengan Islam Secara Total. Diantaranya Allah Azza wa Jalla berfirman

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan Dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” [Al-Baqarah : 208]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini : “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, yang mempercayai Rasul-Nya, agar mereka memegangi seluruh ikatan-ikatan dan syari’at Islam, dan mengamalkan seluruh perintah-perintahnya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangannya semampu mereka”.

Setelah Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara total, Dia memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan. Ini menunjukkan bahwa hanya ada dua jalan saja, yaitu masuk ke dalam Islam secara total, atau mengikuti jalan-jalan setan yang memerintahkan untuk memisah-misahkan syari’at-syari’at Allah dan meremehkan sebagiannya.

Maka jelas sekali perintah Sang Pembuat Syari’at ini agar kita masuk ke dalam Islam secara total, sebagaimana totalnya kita dalam mengusahakan kehidupan dunia kita. Allah tidaklah membebani hambaNya melainkan sebatas kemampuan yang dimilikinya.

Sebelum kita akhiri, mari kita ambil faedah dari Syaikh Muhammad Isma’il (dalam bukunya Tabshiir Uli al-Albab bi Bid’ati Taqsiim ad-Dien ilaa Qisyr wa Lubaab, yang kami nukil dari kitab Ilmu Usul Bida’ karya Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al Halaby al Atsary, ketika beliau berkata:

“Pembagian agama kepada kulit dan isi, dalam hati orang-orang awam memiliki dampak yang sangat buruk. Hal ini telah mewariskan sikap meremehkan hukum-hukum zhahir (lahiriyah) dan melanggar perkara-perkara yang disebut sebagai isi. Hati mereka sama sekali tidak cenderung kepadanya, sehingga hilanglah derajat iman yang paling lemah dalam hatinya (yaitu) berupa pengingkaran dengan hati terhadap berbagai maksiat yang merupakan fardhu ‘ain atas setiap muslim. Dan kami, apabila bersikap toleran dengan pembagian ini, berarti kami mendorong mereka untuk menganalogikan perkara-perkara agama laksana buah-buahan yang memiliki kulit dan isi, bagian zhahir (luar) dan batin (dalam). Kulit yang Allah ciptakan untuk buah-buahan bukan berarti sia-sia, namun memiliki hikmah yang besar, yaitu melindungi bagian isi. Hal ini membawa kita kepada sikap tidak meremehkan kulit sebagai penjaga dan pengaman bagian isi. Demikian halnya dalam perkara-perkara zhahir (lahir) agama”

Sungguh kata-kata yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang dilapangkan dadanya untuk menerima dan mengamalkan kebenaran. Dan semoga kita termasuk diantara yang dilapangkan dadanya untuk mengikuti setiap kebenaran yang dihadapkanNya kepada kita.