Menyembelih hewan qurban adalah suatu bentuk qurbah, yaitu pendekatan diri kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini ada 3 jenis sembelihan yang merupakan qurbah, yaitu al-hadyu (untuk yang sedang berhaji), udh-hiyah (pada waktu idul adh-ha bagi yang tidak berhaji), dan ‘aqiqah (setelah kelahiran anak). Maka menyembelih adalah suatu ibadah, sehingga dalam pelaksanaannya haruslah memperhatikan 2 prinsip utama dalam ibadah: Ikhlas dan Ittiba’.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am: 162). Makna nusuk adalah sembelihan atau kurban, yaitu melakukan taqarrub (pendekatkan diri) dengan cara mengalirkan darah. Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa sholat dan menyembelih adalah ibadah, sehingga ia harus ditujukan kepada Allah semata. (Lihat At-Tamhiid li Syarhi Kitabi at Tauhiid, 143, Syaikh Shalih Alu Syaikh). Inilah yang disebut dengan ikhlas.

Sedangkan untuk menyelaraskan ittiba’, dalam hal ini ada beberapa petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam:

  1. Hewan ternak yang disembelih sesuai dengan jenis yang telah ditentukan yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406).
  2. Waktu penyembelihan adalah sesudah pelaksanaan shalat ‘ied dan khutbah, dan tidak dianggap sebagai qurban (tidak sah) jika dilakukan sebelum shalat ‘ied. Sebagaimana dalam hadits “Barangsiapa menyembelih sebelum shalat (‘ied) maka itu tidak termasuk bagian ibadah sedikitpun, bahkan ia adalah daging yang diberikan untuk keluarganya” (HR. Bukhari 10/16  dan Muslim no. 1961 (6) dari hadits al-Bara’ bin ‘Azib)
  3. Disunnahkan untuk menyembelih qurban dengan tangannya sendiri, dan apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya (mewakilkannya). Keduanya pernah dikerjakan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana hadits: “Rasulullah menyembelih kedua (kambing tersebut) dengan tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966). Juga hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau diperintah oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk menangani unta-untanya.
  4. Terkadang Nabi shallallahu’alaihi wasallam membagi daging qurban dan terkadang pula beliau bersabda, “Barangsiapa yang mau, silakan memotong (mengambil) sendiri”. Beliau shallallahu’alaihi wasallam biasa melakukan keduanya. Hal ini berdasarkan keterangan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/444) dan Muslim (no. 1317), juga Abu Dawud (no. 1765) dan Ahmad (4/350). Keterangan ini dinukil dari Zadul Ma’ad, Pasal Petunjuk Beliau shallallahu’alaihi wasallam tentang al-Hadyu, udh-hiyah, dan ‘aqiqah.
  5. Termasuk petunjuk beliau shallallahu’alaihi wasallam, bahwa seekor kambing dapat mencukupi (sebagai qurban) bagi seseorang dan keluarganya (istri dan anak), meski jumlah mereka cukup banyak. Seperti dikatakan oleh ‘Atha’ bin Yasar, “aku bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari, ‘bagaimana qurban pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam?’ Ia menjawab, ‘dahulu seseorang berqurban dengan seekor kambing untuk diri dan keluarganya, mereka makan dari daging itu, dan juga memberi makan” (at-Tirmidzi no. 1505, al-Muwaththa’ 2/37, dan ibnu Majah no 3147. Sanad-sanadnya hasan, dan at-Tirmidzi berkata “hadits ini hasan shahih”. [Zadul Ma’ad Pasal Petunjuk Beliau shallallahu’alaihi wasallam tentang al-Hadyu, udh-hiyah, dan ‘aqiqah]
  6. Disyariatkan untuk memakan sebagian dari hewan qurban tersebut. Dalilnya adalah firman Allah:“Maka makanlah sebagian darinya.” (Al-Hajj: 28). Juga tindakan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang memakan sebagian dari hewan qurbannya.
  7. Diperbolehkan menyimpan daging qurban tersebut walau lebih dari tiga hari. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dahulu aku melarang kalian menyimpan daging qurban lebih dari 3 hari. (Sekarang) tahanlah (simpanlah) semau kalian.” (HR. Muslim no. 1977 dari Buraidah)
  8. Disyariatkan untuk menyedekahkan sebagian dari hewan tersebut kepada fakir miskin. Allah Ta’ala berfirman: “Berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28). Juga firman-Nya: “Beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
  9. Dalam pembagian dagingnya, diperbolehkan memberikan sebagian dagingnya kepada orang kaya sebagai hadiah untuk menumbuhkan rasa kasih sayang di kalangan muslimin. Diperbolehkan juga memberikan sebagian dagingnya kepada orang kafir sebagai hadiah dan upaya melembutkan hati. Sebab qurban adalah seperti shadaqah sunnah yang dapat diberikan kepada orang kafir. Adapun shadaqah wajib seperti zakat, maka tidak boleh diberikan kepada orang kafir. Dan yang dimaksud dengan kafir disini adalah selain kafir harbi. Al-Lajnah Ad-Da`imah mengeluarkan fatwa tentang hal ini (11/424-425, no. 1997).
  10. Diperbolehkan membagikan daging qurban dalam keadaan mentah ataupun masak. Diperbolehkan pula mematahkan tulang hewan tersebut.

Yang utama dalam penyembelihan qurban adalah menyembelih dengan tangannya sendiri, karena pada saat itu dia sedang beribadah, sedang berdzikir kepada Allah Ta’ala. Ingatlah bagaimana pada waktu itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hendak menyembelih anaknya Ismail ‘alaihissalam karena semata-mata menjalankan perintah Allah Ta’ala. Maka disinilah intinya, yaitu pengorbanan, memberikan persembahan kepada Allah Rabbul ‘Alamin, sebagai bentuk penyerahan diri kepada Pemilik seluruh makhluk.

Untuk melakukan penyembelihan, ada beberapa hukum dan adab yang merupakan petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

Tata cara penyembelihan:

  • Membaca Basmalah dan bertakbir. Berdasarkan hadits Anas yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5565) dan Muslim (no. 1966), bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam berqurban dengan dua kambing kibasy yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk: “Beliau membaca basmalah dan bertakbir.”.
  • Dan beliau meletakkan kakinya pada rusuk kedua kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966).
  • Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, terimalah (sembelihan ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967, dari Aisyah)

  • Jika menyembelih untuk orang lain, maka mengucapkan

    اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانِ

    “Ya Allah, sembelihan ini dari Fulan.”

Mengalirkan darah, dimana ini akan terwujud dengan dua ketentuan:

  • Alatnya tajam, terbuat dari besi atau batu tajam. Tidak boleh dari kuku, tulang, atau gigi. Disyariatkan untuk mengasahnya terlebih dahulu sebelum menyembelih. Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khadij, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: “Segala sesuatu yang memancarkan darah dan disebut nama Allah padanya maka makanlah. Tidak boleh dari gigi dan kuku. Adapun gigi, itu adalah tulang. Adapun kuku adalah pisau (alat menyembelih) orang Habasyah.” (HR. Al-Bukhari no. 5498 dan Muslim no. 1968). Juga perintah Rasulullah n kepada Aisyah radhiyallahu’anha ketika hendak menyembelih hewan qurban: “Wahai Aisyah, ambilkanlah alat sembelih.” Kemudian beliau berkata lagi: “Asahlah alat itu dengan batu.” (HR. Muslim no. 1967)
  • Dengan memutus al-wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan. Inilah persyaratan dan batas minimal yang harus disembelih menurut pendapat yang rajih. Sebab, dengan terputusnya kedua urat tersebut, darah akan terpancar deras dan mempercepat kematian hewan tersebut.

Mengenal Urat dan Mana yang Harus Terputus

Pada bagian leher hewan ada 4 hal:

1-2. Al-Wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan

3. Al-Hulqum yaitu tempat pernafasan.

4. Al-Mari`, yaitu tempat makanan dan minuman.

Rincian hukumnya terkait dengan penyembelihan adalah:

– Bila terputus semua maka itu lebih afdhal.

– Bila terputus al-wadjan dan al-hulqum maka sah.

– Bila terputus al-wadjan dan al-mari` maka sah.

– Bila terputus al-wadjan saja maka sah.

– Bila terputus al-hulqum dan al-mari`, terjadi perbedaan pendapat. Yang rajih adalah tidak sah.

– Bila terputus al-hulqum saja maka tidak sah.

– Bila terputus al-mari` saja maka tidak sah.

– Bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53)

Praktek Penyembelihan

Berikut ini petunjuk praktis penyembelihan hewan qurban, dan tentunya syarat terputusnya urat harus dipenuhi ketika menyembelih, sebagaimana keterang diatas.

1. Merebahkan hewan tersebut dan meletakkan kaki pada rusuk lehernya, agar hewan tersebut tidak meronta hebat dan juga lebih menenangkannya, serta mempermudah penyembelihan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, tentang tata cara penyembelihan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا

“Dan beliau meletakkan kakinya pada rusuk kedua kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)

Juga hadits Aisyah radhiyallahu’anha:

فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ

“Lalu beliau rebahkan kambing tersebut kemudian menyembelihnya.”

2. Disunnahkan bertakbir ketika hendak menyembelih qurban, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas radhiyallahu’anhu di atas, dan diucapkan setelah basmalah.

3. Bila hanya mengucapkan:

بِسْمِكَ اللَّهُمَّ أَذْبَحُ

“Dengan nama-Mu ya Allah, aku menyembelih”, maka sah, karena sama dengan basmalah.

4. Bila dia menyebut nama-nama Allah selain Allah, maka hukumnya dirinci.

  • Bila nama tersebut khusus bagi Allah Ta’ala dan tidak boleh untuk makhluk, seperti Ar-Rahman, Al-Hayyul Qayyum, Al-Khaliq, Ar-Razzaq, maka sah.
  • Bila nama tersebut juga bisa dipakai oleh makhluk, seperti Al-‘Aziz, Ar-Rahim, Ar-Ra`uf, maka tidak sah.

5. Tidak disyariatkan bershalawat kepada Nabi n ketika menyembelih, sebab tidak ada perintah dan contohnya dari beliau shallallahu’alaihi wasallam maupun para sahabatnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/408)

6.  Tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan salafush shalih tentang berwudhu sebelum menyembelih qurban. Namun bila hal tersebut terjadi, maka sembelihannya sah dan halal dimakan, selama terpenuhi ketentuan-ketentuan di atas.

7. Diperbolehkan berdoa kepada Allah l agar sembelihannya diterima oleh-Nya. Sebagaimana tindakan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, terimalah (sembelihan ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967, dari Aisyah radhiyallahu’anha)

8. Tidak melafadzkan niat, sebab tempatnya di dalam hati menurut kesepakatan ulama. Namun dia boleh mengucapkan:

اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانِ

“Ya Allah, sembelihan ini dari Fulan.”

Dan ucapan tersebut tidak termasuk melafadzkan niat.

9. Tidak disyaratkan menghadapkan hewan ke kiblat, sebab haditsnya mengandung kelemahan. Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu ‘Ayyasy Al-Mu’afiri, dia majhul. Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2795) dan Ibnu Majah (no. 3121).

10. Termasuk bid’ahan adalah melumuri jidat dengan darah hewan qurban setelah selesai penyembelihan, karena tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan para salaf. (Fatwa Al-Lajnah, 11/432-433, no. fatwa 6667)

Demikian yang dapat kami susun seputar penyembelihan hewan qurban, dan petunjuk yang lebih luas dapat dilihat kembali di kitab-kitab fiqih sunnah maupun fatwa-fatwa ulama. Wallahu a’lam bish-shawab.

——————————————————-

Disusun dari beberapa sumber:

1. Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

2. Tulisan Al-Ustadz Abu Abdullah Muhammad Afifuddin di Majalah AsySyariah online Tata Cara Menyembelih Hewan Qurban (Kajian Utama edisi 36)