Dua hari menjelang hari Arofah 1432H, seorang sahabat menghubungi saya bermaksud mengkonfirmasi apakah nanti akan berpuasa Arofah mengingat pada tahun ini hari Arofah jatuh pada hari Sabtu. Kira-kira 2-3 tahun yang lalu ada hari puasa sunnah yang juga jatuh di hari Sabtu, lalu kita membahasnya. Untuk kali ini, seakan-akan saya belum pernah tahu adanya permasalahan ini. Alhamdulillah, beruntung jika kita mempunyai semangat saling mengingatkan. Pengingat jika lupa, penyemangat jika lemah.

Tentang puasa di hari Sabtu, ada hadits yang menyatakan larangan berpuasa pada hari sabtu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Abdullah bin Bisr As-Sulami, dari saudara perempuannya Ash-Shama, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم, فإن لم يجد أحدكم إلا لحاءعنب أو عود شجرة فليمضغها

“Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian, maka jika salah seorang diantara kalian tidak mendapatkan kecuali kulit anggur atau ranting kayu maka hendaklah ia mengunyahnya”. (HR. Al-Khamsah, dan perawi-perawinya tsiqah, hanya saja hadits ini mudhtharib, Malik menganggapnya munkar, Abu Dawud berkata, “Hadits ini mansukh”).

Syaikh Abdul Qadir Al-Arna’uth dan Syu’aib Al-Arna’uth ketika mentahqiq Zadul Ma’ad mengatakan “sanadnya kuat (valid). Kritik bahwa ia mudhtharib (kontradiktif) tidak mengurangi keakuratannya karena telah dinukil dari jalur-jalur lain yang selamat daripada cacat tersebut”

Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Albani menilai shahih dan dimasukkan dalam Shahih Abi Dawud (2421)

Abu Dawud menilai bahwa hadits tersebut mansukh (terhapus atau tergantikan hukumnya dengan hadits yang lain), dan kemungkinan yang menasakhnya (yang menggantikannya) adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha:

كان يصوم من الأيام يوم السبت و يوم الأحد, و كان يقول: إنهما يوما عيد للمشركين, فأنا أريد أن أخالفهم

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sering berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kedua hari tersebut adalah hari raya orang-orang musyrik, maka aku ingin menyelisihi mereka'” (HR. An-Nasa’i di dalam Al-Kubra 2/146, dan Ibnu Khuzaimah menshahihkannya, dan lafazh ini darinya). Syaikh Al-Albani menilai hasan dalam Shahih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir, no. 8934.

Imam Ash-Shan’ani menafsirkan kedua hadits diatas, bahwa larangan untuk berpuasa pada hari-hari tersebut (Sabtu dan Ahad) adalah pada masa-masa awal datangnya Islam. Pada mulanya Rasulullah shallallahu’alahi wasallam lebih suka meyamai ahli kitab, kemudian pada masa-masa akhir beliau, ia lebih suka berbeda dari mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tersebut secara jelas. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dilarang ialah jika orang tersebut berpuasa pada hari itu saja dan tidak berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya. Hadits ini menjelaskan disunnahkannya berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad untuk menelisihi ahli kitab. Dan zhahir hadits menunjukkan bolehnya berpuasa, baik pada salah satu dari kedua hari tersebut atau pada kedua-duanya. [Subulus Salam Syarah Bulughul Maram di Kitab Puasa]

Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fikih Sunnah memaparkan adanya 2 pendapat dalam memahami hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu.

Pertama, Boleh mengkhususkan hari sabtu dengan puasa sunnah. Ini adalah pendapat Malik, dan yang dipahami dari perkataan Ahmad, juga dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim (karena para imam menganggap riwayat ini cacat). Mereka menganggap hadits ini lemah, dan mereka mengutamakan hadits-hadits shahih yang menganjurkan puasa Arafah, enam hari di bulah Syawwal, Asyura, ayyam al-bidh (hari-hari putih/pertengahan bulan), dan puasa Daud. Karena diantara puasa-puasa tersebut pasti ada yang bertepatan dengan hari sabtu. Demikian pula dengan hadits mengenai keharusan puasa sehari sebelum atau sesudah hari Jum’at, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah:

لا يصومن أحدكم يوم الجمعة, إلا أن يصوم يوما قبله أو يوما بعده

“Janganlah seorang diantara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (Muttafaq ‘alaihi)

dan juga sabda Nabi Shallallahu’alahi wasallam kepada Juwairiyah radhiyallahu’anha pada saat berpuasa pada hari Jum’at, “Apakah kau hendak berpuasa besok?

Kedua, mengkhususkan hari Sabtu dengan berpuasa hukumnya makruh. Ini pendapat mayoritas ulama, madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali (Al Majmu’ 6/440, Al Bada’i 2/79, Al Mughni 4/428). Mereka memahami bahwa hadits tersebut mengisyaratkan larangan berpuasa pada hari Sabtu secara khusus, karena hal itu menyerupai kaum yahudi.

Adapun mengenai hadits Abdullah bin Busr, maka sudah sangat banyak pernyataan ulama yang menilainya cacat, namun demikian tidak ada salahnya untuk berpuasa pada hari Sabtu, terlebih lagi apabila bertepatan dengan puasa sunnah yang dianjurkan oleh syariat. Wallahu a’lam. [Sahih Fikih Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Jilid 2 hal 241 Pustaka Azzam]

Sebagai tambahan faedah, ada sebuah perincian yang bagus, yang saya dapat dari www.rumaysho.com (semoga Allah Ta’ala membalasnya dengan balasan yang baik).

Rincian yang sangat bagus mengenai hal ini telah dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin sebagai berikut.

Keadaan pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqodho’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafaroh (tebusan), atau mengganti hadyu tamattu’ dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.

Keadaan kedua: Jika berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada salah satu istrinya yang berpuasa pada hari Jum’at,

« أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى »

“Apakah kemarin (Kamis) engkau berpuasa?” Istrinya mengatakan, “Tidak.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Apakah engkau ingin berpuasa besok (Sabtu)?” Istrinya mengatakan, “Tidak.” “Kalau begitu hendaklah engkau membatalkan puasamu”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[HR. Bukhari no. 1986.]

Perkataan beliau “Apakah engkau berpuasa besok (Sabtu)?”, ini menunjukkan bolehnya berpuasa pada hari Sabtu asalkan diikuti dengan berpuasa pada hari Jum’at.

Keadaan ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arofah, berpuasa ‘Asyuro (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.

Keadaan keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya .

Keadaan kelima: Mengkhususkan berpuasa sunnah pada hari Sabtu dan tidak diikuti berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya. Inilah yang dimaksudkan larangan berpuasa pada hari Sabtu, jika memang hadits yang membicarakan tentang hal ini shahih. –Demikian penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin-[Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/57-58, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H]

Semoga Allah memberi Taufiq kepada kita semua untuk memhami dan mengamalkan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alahi wasallam

www.pustakaalatsar.wordpress.com