Seakan-akan sudah menjadi “adat-istiadat” atau “umumnya” ketika memasuki tahun baru saling mengucapkan “Selamat Tahun Baru” atau bahkan menunggu detik-detik pergantian tahun dengan berkumpul bergembira bersama dengan keluarga atau sahabat. Dengan adanya jejaring sosial, ucapan selamat beriring do’a kerap kali muncul di “status” maupun “comment“. Di sebagian tempat bahkan diadakan pawai keliling dengan meniup terompet. Kalau di negara barat, pemandangan seperti itu jangan ditanya lagi.

Diantara kaum muslimin yang telah menyadari sejarah tahun baru Masehi kemudian mulai meninggalkan kegiatan semacam itu. Mereka mulai bisa berlepas diri darinya untuk kemudian memberikan perhatiannya kepada tahun Hijriyah, yaitu penanggalan yang berdasarkan bulan dan merupakan penanggalan Islam. Namun sebagian lagi masih bertanya-tanya, apakah merayakan tahun baru Islam itu sesuatu yang dibolehkan dalam Islam atau justru termasuk diantara bentuk penyerupaan terhadap kaum lainnya. Sementara itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongannya”.

Seseorang menanyakan suatu permasalahan tahun baru Islam ini kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Telah banyak tersebar di berbagai negara Islam perayaan hari pertama bulan Muharram pada setiap tahun, karena itu merupakan hari pertama tahun hijriyyah. Sebagian mereka menjadikannya sebagai hari libur dari bekerja, sehingga mereka tidak masuk kerja pada hari itu. Mereka juga saling tukar menukar hadiah dalam bentuk barang. Ketika mereka ditanya tentang masalah tersebut, mereka menjawab bahwa masalah perayaan hari-hari besar kembalinya kepada adat kebiasaan manusia. Tidak mengapa membuat hari-hari besar untuk mereka dalam rangka bergembira dan saling tukar hadiah. Terutama pada zaman ini, manusia sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan mereka dan terpisah-pisah. Maka ini termasuk bid’ah hasanah. Demikian alasan mereka.

Bagaimana pendapat engkau, semoga Allah memberikan taufiq kepada engkau. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan ini termasuk dalam timbangan amal kebaikan engkau.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala menjawab :

Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat. Oleh karena itu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“

Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.

Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriyyah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.

Ditulis oleh :

Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn

24 – 1 – 1418 H

[dinukil dari Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn pertanyaan no. 8131]

Lalu bagaimana kita menyikapi kenyataan yang ada, dimana saudara, teman, dan sahabat memberikan perhatiannya dengan mengucapkan selamat serta mendo’akan?

Syaikh Utsaimin memberikan keterangan:

Jika seseorang mengucapkan selamat,maka jawablah, akan tetapi jangan kita yang memulai. Inilah pandangan yang benar tentang hal ini. Jadi jika seseorang berkata pada anda misalnya:”Selamat tahun baru!, anda bisa menjawab “Semoga Allah jadikan kebaikan dan keberkahan ditahun ini kepada anda” Tapi jangan anda yang mulai, karena saya tidak tahu adanya atsar salaf yang saling mengucapkan selamat hari raya.Bahkan Salaf tidaklah menganggap 1 muharram sebagai awal tahun baru sampai zaman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.

Semoga umat Islam semakin loyal terhadap ajaran Islam dan berlepas diri dari sikap mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang kafir yang telah menjadi syi’ar mereka, sehingga umat Islam mulia dan berwibawa.

——————-

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin diambil dari artikel di alqiyamah.wordpress.com