Menshalatkan jenazah termasuk salah satu sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang hukumnya fardhu kifayah, dimana jika telah ada yang melaksanakannya maka gugurlah kewajiban bagi selainnya.

Berikut ini adalah sebuah ringkasan yang mudah-mudahan mencukupi sebagai panduan untuk mendirikan shalat jenazah. Sengaja kami persingkat dengan menempatkan dalil pendukung sebagai catatan kaki.

Fadhilah Shalat Jenazah

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kemudian dishalatkan oleh empatpuluh orang yang tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa’at kepada mereka untuknya. [HR Muslim].

Dan fadhilah itu juga ada untuk yang menshalatkannya, sebagaimana hadits:

“Barangsiapa yang mengiringi jenazah hingga dishalatkan, maka ia akan memperoleh satu qiraath. Barangsiapa yang mengiringinya hingga dikebumikan, maka ia akan memperoleh dua qiraath.” Para Sahabat bertanya “Bagaimana ukuran dua qiraath itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Seperti dua buah gunung besar.” (Muttafaqun ‘alaih. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 2186).

Tempat Shalat Jenazah

Boleh melakukan shalat jenazah di dalam masjid maupun di luar masjid, kedua-duanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.[1]

Waktu-waktu Terlarang untuk Shalat Jenazah

Tidak diperbolehkan shalat jenazah pada tiga waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat [2], kecuali karena darurat, yaitu:

  1. Ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak,
  2. Ketika matahari sepenggalah hingga tergelincir, dan
  3. Ketika matahari condong ke barat hingga terbenam.

Posisi Imam

Ketika jenazah diletakkan untuk dishalati, bila jenazahnya lelaki, imam berdiri di belakangnya pada posisi kepala. Adapun jika jenazahnya wanita maka imam berdiri pada posisi tengahnya. [3]

Jumlah Shaf

Disunnahkan makmum yang ikut shalat jenazah tersebut membentuk tiga shaf atau lebih di belakang imam. [4]

Tata Cara Shalat Jenazah: Bertakbir 4 kali, demikian pendapat mayoritas shahabat, jumhur tabi‘in, dan madzhab fuqaha seluruhnya. [5]

Rinciannya sebagai berikut:

  1. Takbir pertama dengan mengangkat tangan, lalu tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri (sedekap) [6], dan tidak mengangkat tangan pada takbir yang lainnya [7].
  2. Kemudian membaca ta‘awwudz, lalu membaca Al-Fatihah dan surah lain dari Al-Qur`an, secara sirri (perlahan). [8]
  3. Takbir kedua, lalu bershalawat untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana lafadz shalawat dalam Shalat pada waktu tasyahhud. [9]
  4. Takbir ketiga, lalu berdoa secara khusus untuk si mayat secara sirr (perlahan). [10] Dalam hal ini, mengucapkan doa yang pernah diajarkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam lebih utama daripada mengamalkan yang selainnya, diantaranya adalah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Ya Allah, berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya semula, isteri yang lebih baik dari isterinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah dari adzab kubur dan adzab neraka. [HR Muslim dari ‘Auf bin Malik]

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا

Ya Allah, ampunilah orang yang hidup di antara kami dan orang yang mati, yang hadir dan yang tidak hadir, (juga) anak kecil dan orang dewasa, lelaki dan wanita kami. [HR At Tirmidzi]

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menambahkan:

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيْمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ

Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dia di atas keimanan. Dan orang yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah ia di atas keimanan. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau sesatkan kami sesudahnya. [HR Abu Dawud].

  1. Pada takbir terakhir, disyariatkan berdoa sebelum mengucapkan salam [11]
  2. Kemudian salam seperti salam dalam shalat lima waktu, dan yang sunnah diucapkan secara sirr (perlahan), baik ia imam ataupun makmum. [12]

Untuk keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kembali pada kitab-kitab fikih sunnah, atau kitab-kitab yang telah mengumpulkan permasalah hukum jenazah (dalam hal ini, kitab Ahkamul Jana’z karya Syaikh Nashiruddin al-Albani termasuk kitab yang komprehensif dalam mengulas hukum seputar jenazah).

—————————————————–

Risalah ini saya post-kan pada saat meninggalnya salah satu saudara kami, sahabat dan guru kami (beliau rahimahullahu dengan sabar sempat mengajari kami bermain Tenis lapangan), yang meninggal pada hari Jum’at 20 Muharram 1433 di Muscat (jauh dari tanah air dan keluarganya), in-sya’a Allah husnul khatimah sebagaimana disebutkan bahwa salah satu tanda husnul khatimah adalah mati pada hari Jum’at.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi. Hadits ini memiliki syahid dari hadits Anas, Jabir bin Abdillah g dan selain keduanya, maka hadits ini dengan seluruh jalannya hasan atau shahih)

Sementara itu, shalat jenazah masih belum bisa diselenggarakan karena proses administrasi yang harus dipenuhi. Kami bersabar untuk tidak mendirikan shalat ghaib mengingat masih ada kesempatan untuk mendirikan shalat jenazah, yang mudah-mudahan bisa menjadi syafa’at bagi beliau. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya, merahmatinya, dan semoga keluarga yang ditinggalkannya diberikan kesabaran.

Catatan Kaki:

[1] Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata “Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal, para istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyuruh agar jenazahnya dihamparkan di masjid sehingga mereka dapat menshalatinya. Para pembawa jenazah pun kemudian meletakkannya di serambi dan mereka (para istri Nabi) menshalatinya. Kemudian jenazah Sa’ad dikeluarkan lewat pintu jenazah. Ketika orang-orang mengetahuinya, mereka mengecamnya, seraya mereka berkata “Ini adalah bid’ah. Sebelumnya tidaklah pernah jenazah dimasukkan ke dalam masjid!”. Berita itu sampai kepadaku dan aku berkata, “Betapa tergesa-gesanya orang bersikap tanpa didasari ilmu yang ada pada mereka. Mereka mengecam kami karena memasukkan jenazah ke dalam masjid. (Demi Allah), tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menshalati Suhail ibnul Baidha’ (dan saudaranya) kecuali di tengah-tengah masjid”. (HR. Muslim). Sedangkan shalat jenazah di luar masjid, maka banyak riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, di dalam HR. Bukhari, Al Hakim, dan Imam Ahmad.

[2] Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, ia berkata “Ada tiga waktu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melarang kami untuk melakukan shalat atau menguburkan mayit, yaitu ketika matahari terbit hingga naik setinggi tombak, ketika matahari sepenggalah hingga tergelincir, dan ketika matahari condong ke barat hingga terbenam” (HR Muslim, Abu Dawud, dan yang lainnya, kemudian Al-Baihaqi menambahkannya “Aku tanyakan kepada Uqbah,  ‘apakah dengan begitu berarti boleh dikubur di malam hari?’, ia menjawab, ‘Benar, dan Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu’anhu telah dikebumikan di malam hari” dan sanadnya shahih)

[3] Hal ini ditunjukkan dalam hadits Samurah bin Jundab yang dikeluarkan dalam Shahihain. Samurah berkata: “Aku pernah menjadi makmum di belakang Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ketika menshalati seorang wanita bernama Ummu Ka’ab yang meninggal karena melahirkan. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berdiri pada posisi tengah jenazah dan beliau bertakbir empat kali. (Al-Hawil Kabir 3/50, Al-Majmu’ 5/183, Al-Muhalla 3/345, 382, Fathul Bari 3/257, Asy-Syarhul Mumti’ 2/524, Taisirul ‘Allam Syarhu ‘Umdatil Ahkam 1/372)

[4] Al-Majmu’ 5/172, Taudhihul Ahkam 3/195, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits dari Abu Umamah, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah shalat jenazah bersama tujuh orang, maka beliau menjadikan tiga orang berada dalam satu shaf, dua orang yang lain dalam satu shaf dan dua orang yang tersisa dalam satu shaf.”(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (7785) dan Al-Haitsami dalam Al-Majma’ (3/432), pada sanadnya ada Ibnu Lahi’ah, sementara beliau ini diperbincangkan. Namun kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Jana`iz (hal. 127-128) haditsnya bisa dijadikan syahid bagi hadits Malik bin Hubairah berikut ini: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal lalu ia dishalati oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan ia diampuni.” (HR. Abu Dawud no. 3166 bab Fish Shufuf ‘alal Jana`iz, dll.)

[5] Boleh pula dilakukan 5-9 kali, semuanya ada keterangan dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Namun jumlah 4 kali takbir paling banyak disebutkan dalam hadits (Ahkamul Jana`iz , hal. 141). Adapun pernyataan adanya ijma’ ulama yang menetapkan takbir shalat jenazah hanya 4 kali dan tidak lebih, merupakan anggapan yang batil. Sebagaimana hal ini ditegaskan Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (3/347, 348-351). Sedangkan hadits yang menyatakan: “Akhir (jumlah maksimal) takbir yang dilakukan Rasulullah n terhadap jenasah adalah sebanyak empat kali.” yang dijadikan sebagai dalil pembatasan takbir hanya 4 kali adalah hadits yang dha’if. Al Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam At-Talkhish (2/677): “Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu jalan, namun semua jalannya dhaif.”

[6] sebagaimana hal ini dilakukan pada shalat-shalat lain. Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan berkata: “Ulama bersepakat bahwa orang yang menshalati jenazah, ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya pada takbir yang awal.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/186).

[7] Ibnu Hazm  menyatakan: “Adapun mengangkat tangan ketika takbir dalam shalat jenazah, maka tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam melakukannya, kecuali hanya pada awal takbir saja.” (Al-Muhalla, 3/351). Asy-Syaikh Al-Albani  berkata: “Tidak didapatkan dalam As-Sunnah adanya dalil yang menunjukkan disyariatkannya mengangkat tangan pada selain takbir yang pertama. Sehingga kita memandang mengangkat tangan di selain takbir pertama tidaklah disyariatkan. Demikianlah pendapat madzhab Hanafiyyah dan selain mereka. Pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaukani (Nailul Authar 4/83) dan lainnya dari kalangan muhaqqiq.” (Ahkamul Jana`iz , hal.148)

[8] Thalhah bin Abdillah bin ‘Auf berkata: “Aku pernah shalat jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas, ia membaca Al-Fatihah dan surah lain. Ia mengeraskan (menjahrkan) bacaannya hingga terdengar oleh kami. Ketika selesai shalat, aku memegang tangannya seraya bertanya tentang jahr tersebut. Beliau menjawab: “Hanyalah aku men-jahr-kan bacaanku agar kalian mengetahui bahwa (membaca Al-Fatihah dan surah dalam shalat jenazah) itu adalah sunnah dan haq (kebenaran)”. Ibnu Qudamah berkata: “Bacaan (qira`ah) dan doa dalam shalat jenazah dibaca secara sirr. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini di kalangan ahlul ilmi. Adapun riwayat dari Ibnu ‘Abbas di atas, maka kata Al-Imam Ahmad: ‘Hanyalah beliau melakukan hal itu (men-jahr-kan bacaan) untuk mengajari mereka’.” (Al-Mughni, fashl Al-Israr bil Qira`ah wad Du’a` fi Shalatil Janazah). Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Jumhur ulama berpendapat tidak disunnahkan menjahrkan bacaan dalam shalat jenazah.” (Nailul Authar 4/81)

[9] Al-Mughni, fashl Al-Israr bil Qira`ah wad Du’a` fi Shalatil Janazah, Asy-Syarhul Mumti’, 2/526.

[10] menurut pendapat jumhur ulama. (Al-Minhaj 7/34) Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian menshalati mayat, khususkanlah doa untuknya.” Kata Al-Munawi  menerangkan makna hadits di atas: “Yakni doakanlah si mayat dengan ikhlas dan menghadirkan hati karena maksud dari shalat jenazah tersebut adalah untuk memintakan ampun dan syafaat bagi si mayat. Diharapkan permintaan tersebut akan dikabulkan dengan terkumpulnya keikhlasan dan doa dengan sepenuh hati.” (Catatan kaki Ahkamul Janaiz, hal. 156)

[11] Dengan dalil hadits Abu Ya‘fur dari Abdullah bin Abi Aufa z ia berkata: “Aku menyaksikan Nabi shallallahu’alihi wasallam (ketika shalat jenazah) beliau bertakbir empat kali, kemudian (setelah takbir keempat) beliau berdiri sesaat –untuk berdoa–.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi (4/35) dengan sanad yang shahih, kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Jana`iz). Al-Imam Ahmad berpendapat disunnahkan berdoa setelah takbir terakhir ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Masa`il Al-Imam Ahmad (153). Demikian pula pendapat dalam madzhab Asy-Syafi‘iyyah. (Ahkamul Jana`iz, hal. 161)

[12] Al-Hawil Kabir 3/55-57, Nailul Authar 4/82