Niat, bukanlah masalah yang sepele. Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal yang besar menjadi sia-sia karena niat. Maka dari itu, meluruskan serta menjaga Niat menjadi sangat penting supaya amal yang kita lakukan tidak sia-sia, bahkan bisa bernilai sangat besar. Maka hendaklah kita senantiasa ingat untuk menetapkan niat-niat yang baik pada setiap amalan kita, sekecil apapun itu. Dan sebuah amalan ketaatan bisa menghasilkan multi pahala jika didasari dengan multi niat.

Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata :

“Ketaatan-ketaatan berkaitan dengan niat dari sisi sahnya ketaatan tersebut dan dari sisi berlipat gandanya ganjaran/pahala ketaatan tersebut. Adapun dari sisi sahnya maka hendaknya ia berniat untuk beribadah kepada Allah saja dan bukan kepada selain-Nya, jika ia meniatkan riya’ maka ketaatan tersebut berubah menjadi kemaksiatan. Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Karena satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Karena setiap niat merupakan kabaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362)

Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits:

“Barangsiapa berniat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi melakukannya maka Allah tabaaraka wa ta’ala mencatat disisi-Nya satu kebaikan sempurna, dan jika ia berniat untuk melakukannya lalu melakukannya maka Allah mencatatnya sepuluh  kebaikan sampai tujuh puluh kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak.” (HR Al-Bukhari no 6491 dan Muslim no 128)

Diantara contoh praktek menggandakan niat-niat kebaikan dalam satu amalan adalah :

Pertama : Duduk di mesjid

Ibnu Qudaamah berkata :

“Sebagai contoh duduk di masjid, maka sesungguhnya hal itu adalah salah satu amalan ketaatan, dengan hal itu seseorang bisa meniatkan niat yang banyak seperti meniatkan dengan masuknya menunggu waktu sholat, i’tikaf, menahan anggota badan (dari maksiat –pent), menolak hal-hal yang memalingkan dari Allah dengan mempergunakan seluruh waktunya untuk di masjid, untuk dzikir kepada Allah dan yang semisalnya. Inilah cara untuk memperbanyak niat maka qiyaskanlah dengan hal ini amalan-amalan ketaatan lainnya karena tidak ada satu ketaatanpun melainkan dapat diniatkan dengan niat yang banyak.” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362 )

Kedua : Menuntut Ilmu

Imam Ahmad berkata: “Ilmu adalah amalan yang termulia bagi orang yang niatnya benar”.

Lalu dikatakan kepada beliau, “Dengan perkara apa agar niat menjadi benar?”, Imam Ahmad berkata, “Ia niatkan untuk bersikap tawadhu’ pada ilmunya, dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya” (Al-Inshoof 2/116)

Imam Ahmad juga berkata: “Tidak ada sesuatupun yang setara dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya”, mereka berkata, “Bagaimana caranya?”. Imam Ahmad berkata, “Yiatu ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga dari orang lain” (Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimiin 26/75)

Ilmu menjadi amalan yang paling mulia tatkala dibarengi dengan banyak niat baik, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad yaitu jika diniatkan untuk agar bisa tawaadhu’ dan juga untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga untuk berdakwah dalam rangka untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain.

Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin menyebutkan beberapa niat yang hendaknya ditanam dalam hati seorang penuntut ilmu tatkala ia menuntut ilmu, diantaranya:

  1. Berniat untuk menjalankan perintah Allah
  2. Berniat untuk menjaga syari’at Islam, karena menuntut ilmu adalah sarana terbesar untuk menjaga kelestarian syari’at (hukum-hukum Islam)
  3. Berniat untuk membela agama, karena agama memiliki musuh-musuh yang ingin merusak agama ini, diantaranya dengan menyebarkan syubhat-syubhat
  4. Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya
  5. Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain

Ketiga : Tatkala berangkat ke mesjid

Bisa dengan meniatkan perkara-perkara berikut:

  1. Memakmurkan masjid, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir” (QS At-Taubah : 18)
  2. Senyum kepada saudara, karena hal itu adalah sedekah
  3. Menyebarkan salam
  4. Menghadiri shalat jama’ah
  5. Memperbanyak jumlah kaum muslimin
  6. Berdakwah dijalan Allah
  7. Merasa bangga karena Allah menyebut-nyebut namamu
  8. Menunggu sesaat turunnya ketenangan untuk mengkhusyu’kan hati
  9. Menghadiri majelis-majelis ilmu
  10. Menunggu turunnya rahma
  11. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah untuk mendapatkan kecintaan Allah

Keempat : Tatkala membaca atau menghafal Al-Qur’an

Dengan meniatkan perkara-perkara berikut:

  1. Berniat untuk mendapat kebaikan pada setiap huruf
  2. Mengingat negeri akhirat
  3. Mentadabburi ayat-ayat al-qur’an
  4. Agar mendapatkan syafa’at al-qur’an
  5. Mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca firman-firman-Nya
  6. Mengamalkan hal-hal yang terkandung di dalam al-qur’an
  7. Mengangkat derajat di surga dengan menghafalkan ayat-ayatNya

Kelima : Tatkala menjenguk orang sakit

  1. Berniat untuk menunaikan salah satu hak seorang muslim, yaitu menjenguknya jika sakit
  2. Mengingat Hadits qudsi “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa jika kamu mengunjunginya maka kamu mendapati-Ku disisinya”
  3. Bersyukur kepada Allah atas penjagaan-Nya  terhadap dirinya dari apa-apa yang menimpa saudaranya
  4. Meminta kepada orang yang sakit untuk dido’akan (karena kedekatannya terhadap Robbnya)

Keenam : Ketika puasa sunnah

  1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan yang paling dicintai-Nya
  2. Agar Allah menjauhkan wajahku dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan
  3. Memerangi hawa nafsu dan menundukkannya untuk melakukan ketaatan
  4. Membelenggu syahwat (meminta penjagaan)
  5. Mengikuti sunnah Rosul shallallhu ‘alaihi wasallam (puasa senin kamis, puasa tengah bulan tgl 13-14-15 )
  6. Memperoleh kemenangan berupa sesaat dikabulkannya do’a bagi orang yang berpuasa
  7. Ikut merasakan apa yang dirasakan orang-orang fakir dan miskin
  8. Agar Allah memasukkan kita ke surga melalui pintu Ar-Rayyan
  9. Barangsiapa yang membuat haus dirinya karena Allah (berpuasa) pada hari yang panas, maka Allah akan memberikan minum pada hari kiamat yang amat panas dan amat menimbulkan dahaga.

Ketujuh : Ketika bersedekah dengan harta

Hendaknya meniatkan:

  1. Barangsiapa menghutangi Allah hutang yang baik maka Dia akan melipatgandakannya.
  2. Berlindung dari neraka walaupun dengan separuh kurma
  3. Membantu dan menyenangkan hati faqir miskin
  4. Untuk mengobati saudara/kerabat yang saikit. Rasulullah bersada “Obatilah orang-orang sakit diantara kalian dengan sedekah”
  5. Kalian tidak akan mencapai derajat birr (kebajikan) sampai kalian berinfak dengan apa-apa yang kalian cintai
  6. Sedekah menghilangkan kemurkaan Allah

Kedelapan : Tatkala mau poligami

  1. Sebagai bentuk cinta kepada sunnah Nabi
  2. Untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan
  3. Untuk memperbanyak pasukan kaum muslimin
  4. Untuk menyenangkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala di akhirat, karena Nabi membanggakan umatnya yang banyak di hadapan para nabi-nabi dan umat-umat yang lain. Beliau bersabda: “Menikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan membanggakan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain”
  5. Untuk menolong para wanita yang butuh perhatian para lelaki, terutama para janda
  6. Untuk memberi teladan kepada kaum muslimin jika pologaminya berhasil dan bahagia

Multi Niat Juga Berlaku Pada Perkara-Perkara Mubah (boleh/halal)

Sebagaimana penjelasan di atas bahwasanya perkara-perkara mubah jika dikerjakan dengan niat yang baik maka bisa berubah menjadi bernilai ibadah. Oleh karenanya sungguh kita telah merugi dan telah membuang banyak waktu dan tenaga dalam urusan dunia jika kita tidak meniatkannya untuk akhirat..terlalu banyak pahala tidak kita raih.

Ibnu Qudaamah berkata: “Tidak ada satu perkara yang mubah kecuali mengandung satu atau beberapa niat yang dengan niat-niat tersebut berubahlah perkara mubah menjadi qurbah (berpahala), sehingga dengannya diraihlah derajat-derajat yang tinggi. Maka sungguh besar kerugian orang yang lalai akan hal ini, dimana ia menyikapi perkara-perkara yang mubah (*seperti makan, minum, dan tidur) sebagaimana sikap hewan-hewan ternak.

Dan tidak selayaknya seorang hamba menyepelekan setiap waktu dan betikan-betikan niat, karena semuanya akan dipertanyakan pada hari kiamat, “Kenapa ia melakukannya?”, “Apakah yang ia niatkan?”. Contoh perkara mubah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah parfum (minyak wangi), ia memakai minyak wangi dengan niat untuk mengikuti sunnah Nabi, untuk memuliakan masjid, untuk menghilangkan bau tidak enak yang mengganggu orang yang bergaul dengannya” (Mukhtasor minhaaj Al-Qoosidhiin hal 362-363)

Sebagai contoh menggandakan niat dalam perkara-perkara mubah:

Pertama : Tatkala makan dan minum

  1. Untuk menguatkan tubuh agar bisa beribadah kepada Allah
  2. Merenungkan nikmat Allah, sebagai pengamalan firman Allah “Apakah manusia tidak melihat kepada makanannya?” (QS ‘Abasa : 24)
  3.  Mensyukuri nikmat Allah
  4. Berusaha menerapkan sunnah Nabi tatkala makan dan minum

Kedua : Tatkala memakai pakaian

  1. Mengingat Allah (dengan membaca do’a berpakaian)
  2. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan
  3. Bersyukur atas nikmat Allah
  4. Menghidupkan sunnah nabi melalui cara berpakaian

Ketiga : Tatkala menggunakan internet

  1. Menyeru kepada jalan Allah
  2. Menghadiri majelis-majelis dzikir (majelis ilmu di dunia maya/internet)
  3. Menyebarkan islam
  4. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada seorang mukmin yang lemah
  5. Menuntut ilmu

Contoh-contoh yang disebutkan diatas hanya beberapa saja dari sekian banyak amalan ketaatan maupun amalan mubah. Hendaknya kita bisa mengambil pelajaran darinya untuk kemudian kita terapkan pada amalan-amalan lainnya. Satu catatan penting adalah “Niat yang baik tidak bisa membuat amal kemaksiatan menjadi amal ketaatan”, makanya dalam tulisan diatas yang disebut adalah amalan ketaatan dan amalan mubah (boleh/halal), karena dalam Islam, “tujuan tidak menghalalkan cara”.

Jadi, jika bisa multi niat, mengapa hanya satu niat?

——————————————-

Sumber utama adalah tulisan Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja “Multi Niat…Multi Pahala” di www.firanda.com dengan sedikit catatan tambahan