Syaikh Abdul Adzim Badawi berkata dalam muqaddimah kitab Al-Wajiz fi fiqhis sunnah wal kitabil aziz.:

Saya mengurutkan bab-bab fiqh sebagai berikut: bab thoharoh (bersuci), bab shalat, bab siyam (puasa), bab zakat, bab haji, bab nikah, bab buyu’ (jual-beli), bab aiman (sumpah), bab ath’imah (makanan), bab washoyaa (wasiat), bab faro’idh (warisan), bab hudud (hukuman), bab jinayat (pidana), bab qodho’ (peradilan), bab jihad dan bab ‘itq (memerdekakan budak).”

Hikmah urutan ini:

Bahwa Allah menciptakan makluk untuk beribadah kepada-Nya, mengesakan-Nya dengan uluhiyah-Nya. Mengingat shalat merupakan dasar ibadah dan tiang agama, maka saya memulai dengan bab shalat. Dan saya mendahulukan bab thaharah (bersuci) dari bab shalat karena bersuci merupakan syarat sah shalat dan syarat lebih didahulukan daripada yang dipersyarati.

Mengingat puasa adalah untuk Allah Ta’ala dan Dia yang membalasnya (secara khusus), maka saya urutkankan setelah bab shalat, saya mendahulukan bab shalat dari bab zakat karena medahulukan ibadah badaniyah daripada ibadah maaliyah (harta), dan kemudian ibadah badaniyah sekaligus maaliyah yaitu bab haji.

Mengingat menikah adalah sebab adanya hamba, maka saya menjadikannya bab pertama setelah bab ibadah.

Kemudian saya lanjutkan dengan bab buyu’ (jual-beli) karena manusia yang ada karena pernikahan, mereka terus-menerus melakukan jual-beli.

Dan sering terjadi sumpah dalam jual-beli, oleh karena itu saya lanjutkan bab buyu’ (jual-beli) dengan bab aiman (sumpah) untuk menjelaskan apa yang sah dan apa yang tidak sah.

Kemudian saya lanjutkan dengan bab ath’imah (makanan), bab washayaa (wasiat), dan bab faraa’idh (warisan), kemudian bab huduud (hukuman) dan bab jinayat (pidana). Kemudian qadha’,  karena qadha’ (peradilan) umumnya yang memutuskan pewarisan, dan sering memutuskan dalam masalah hukuman dan pidana, dan juga karena tidak diizinkan melaksanakan hukuman kepada seseorang kecuali hakim atau wakilnya, maka saya lanjutkan bab-bab tadi dengan bab qadha’

Mengingat kaum muslimin diberi beban setelah menegakkan agama Allah pada diri mereka yaitu berusaha menegakkan agama Allah di bumi Allah dan mendakwahkan manusia untuk beribadah kepada Allah, dan sudah menjadi tradisi sepanjang waktu dan tempat adanya orang-orang yang menghalangi dari jalan Allah, menghalangi dakwah penyampaian agama Allah, maka saya membahas bab jihad dan hukum-hukumnya

Mengingat salah satu hasil dari jihad adalah adanya budak yang mereka berasal dari tawanan perang dari orang kafir dan musyrik, maka saya jadikan ‘itq (memerdekakan budak) setelah bab jihad untuk menjelaskan motivasi islam dalam memerdekakan budak dan motivasi membebaskan tawanan perang.

Dan hikmah menjadikan bab ‘itq  (memerdekakan budak) di akhir bab dari kitab Al-Wajiz adalah keinginan agar Allah menjadikan amal ini sebagai sebab kemerdekaan/keselamatan saya dari api neraka karena sesungguhnya Dia Maha perkasa lagi Maha Pengampun.

 

Demikianlah, ternyata bab-bab ini tidak sembarang disusun, akan tetapi banyak faidahnya diantaranya:

1. Supaya lebih mudah memahami dengan urutan pelajaran

2. Menerapkan kaidah prioritas beramal seperti mendahului ibadah badaniyah di banding maliyah

3. Harapan dan doa

 

Maka, masihkah kita berpaling dari kecerdasan para ulama?

 

—————————

Mengambil faedah tulisan di muslimafiyah.com yang berjudul “Cerdasnya Ulama, Menyusun Bab Fiqh Saja Ada Tujuannya”