“Islam itu tinggi, tidak ada (agama) yang lebih tinggi darinya”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan : “Pada tahun 16 atau 17 atau 18 H, saat pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu para sahabat sepakat untuk menjadikan awal kalender Islam dari hijrihnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ceritanya, suatu ketika disampaikan kepada Umar sebuah kertas perjanjian hutang yang tertulis padanya bahwa jatuh tempo pelunasan hutang tersebut adalah bulan Sya’ban. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sya’ban kapan ini ? Sya’ban tahun ini, tahun lalu atau tahun yang akan datang ?” kemudian beliau mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah tentang pembuatan kalender sehingga bisa mengetahui waktu pelunasan hutang atau yang lainnya. Maka ada yang mengusulkan : “Buat saja kalender seperti kalender orang Persia!” namun Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menyukainya. Ada lagi yang mengusulkan : “Buat saja kalender seperti orang Romawi!” Umar pun tetap tidak menyukainya. Ada yang usul lagi : “Buat kalender dari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” yang lain mengusulkan : “Dari sejak diutusnya beliau .” Ada yang mengusulkan : “Dari hijrah beliau.” Yang lain mengusulkan:”Dari tahun wafatnya beliau.” Akhirnya khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu cenderung pada menetapkan kalender dengan hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kemasyhuran peristiwa itu dan para sahabat pun sepakat dan menyetujuinya.”[Al-Bidayah wan Nihayah 4/510-511 dengan sedikit diringkas, dari http://ibnuabbaskendari.wordpress.com]

Sehingga salah satu yang bisa dijadikan komitmen untuk hijrah adalah mulai melirik kalender hijriyah, yaitu kalendernya umat Islam. Setidaknya berniat untuk lebih mengenal, memantau perubahannya dari waktu ke waktu. Hal ini akan insya Allah akan meningkatkan rasa wala’ (loyalitas) kepada Islam dan sikap bara’ (berlepas diri) dari budaya-budaya orang kafir, serta terhindar dari sikap tasyabbuh (menyerupai orang kafir, dimana hal ini dilarang dalam Islam). Disamping itu juga berkaitan dengan puasa sunnah di pertengahan bulan 13,14,15 (hari-hari putih…bukan puasa mutih), dan bulan-bulan yang diantaranya telah dipilih Allah Ta’ala untuk diutamakan atas yang lainnya. Dengan mengikuti kalender Hijriyah, insya Allah tidak terlewatkan untuk meraih keberkahannya.

Meski 1 bulan terlambat, “biar lambat asal Hijrah”, ada kalender hijriyah yang bisa di download di: http://www.makkahcalendar.org/en/islamicCalendarDownload.php

Berikut ini sedikit catatan tentang kalender masehi dan hal-hal yang terkait dengan asal usulnya, semoga menambah kemantaban untuk melirik kalender Hijriyah.

Bagaimana dengan Kalender Masehi beserta hari-harinya?

  • Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang memengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruh-nya bergantian dari jam ke jam, dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnus-lah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, Ternyata, jika kita menghitung hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1, memang jatuh pada hari Sabtu.
  • Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikut-nya jatuh pada Matahari. Jadi-lah hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day adalah Moon’s day (Monday). Hari berikutnya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikut-nya adalah Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan Romawi kuno). Berikut-nya lagi Thor’s day (Thursday). Thor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa Petir, raja para dewa Romawi). Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewi Venus (dewi kecantikan Rowawi kuno).
  • Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo, yang berarti hari Tuhan. Ini berdasar-kan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit.

Penanggalan yang pertama adalah penanggalan yang berdasarkan bulan (Siria, Babilonia, Egypt, Cina, Islam, Semit), diambil dari ISLAM DIHUJAT, Irene Handono, yang diposting di http://erzal.wordpress.com/category/berhala-di-kabah/)

  • Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan matahari. Hal ini berkaitan erat dengan rekayasa perayaan natal 25 Desember dan pengaruh pemikiran-pemikiran pagan yang berporos pada penyembahan dewa Re (dewa matahari) dalam Kristen.
  • Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme. Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus). Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, Juga diputuskan: Pertama , hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari. Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang. Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.