Khuf adalah sesuatu yang dikenakan pada kaki, yang terbuat dari kulit atau selainnya dan menutupi mata kaki. Diantara kemudahan dalam syariat Islam adalah dibolehkannya mengusap Khuf ketika ber-wudhu, sebagaimana hal ini telah shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dimana Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu berkata:

“Aku pernah menyertai Nabi shallallahu’alaihi wasalalm dalam satu safar, (tatkala beliau berwudhu) akupun menjulurkan tanganku untuk melepas dua khuf yang sedang beliau kenakan. Namun beliau berkata: “Biarkan dua khuf ini (jangan dilepas) karena aku memasukkan keduanya (maksudnya kaki beliau) dalam keadaan suci.”  Beliaupun mengusap di atas kedua khuf tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 206 dan Muslim no. 274).

Dan masih banyak lagi riwayat tentang mengusap kedua khuf ini, hingga Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menukilkan kesepakatan ulama dalam masalah pengusapan khuf (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/164).

Syarat bolehnya mengusap Khuf adalah:

1. Dipakai setelah bersuci secara sempurna, baik dari hadats kecil maupun besar (sebagaimana hadits diatas)

2. Khuf bersih dari najis, sebagaimana ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama para shahabatnya dalam keadaan beliau mengenakan sandal, tiba-tiba di tengah shalat beliau melepaskan sandalnya tersebut. Selesai shalat, beliau sampaikan kepada para shahabatnya bahwa Jibril ‘alaihissalam memberitahukan pada kedua sandal beliau ada kotoran (HR. Abu Dawud no. 555. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’us Shahih, 1/526).

3. Mengusapnya pada waktu yang ditetapkan, yaitu sehari semalam untuk orang yang mukim dan tiga hari tiga malam untuk musafir. Sebagaimana hadits “Bagi orang yang musafir tiga hari tiga malam dan bagi orang yang mukim satu har satu malam” [Ahmad hadits no. 710, Abu Dawud hadits no. 135 dan Tirmidzi hadits no. 140, Tirmidzi menilai shahih hadits ini.]

Bagian mana yang diusap?

Bagian yang diusap adalah sebagian besar dari khuf di bagian punggung kaki, mulai dari ujung jari sampai tengah-tengah tulang kering (depan betis), tidak perlu mengusap bagian bawahnya (telapak kaki) serta bagian belakang (tumit ke atas). Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Sunnan-nya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap khuf (dengan cara) meletakkan tangan kanannya diatas khufnya yang kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas khufnya yang kiri, kemudian mengusap bagian atasnya dengan satu kali usapan.

Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata “Kalau sekiranya agama itu dengan ra’yu (pikiran) tentulah bagian bawah khuf (sepatu, kaos kaki) lebih utama diusap daripada bagian atasnya. Sungguh saya melihat Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap pada bagian atas khufnya” [HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/100]

Bagaimana cara mengusapnya?

Cara pengusapannya dilakukan dengan kedua tangan secara bersama-sama di atas kedua kaki, yakni tangan kanan mengusap kaki kanan sedangkan tangan kiri mengusap kaki kiri pada saat yang bersamaan, sebagaimana mengusap kedua telinga. Demikian dzahir yang ditunjukkan dalam As Sunnah dengan ucapan Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu: “Beliau shallallahu’alaihi wasallam mengusap di atas kedua khufnya.” Al-Mughirah tidak mengatakan Nabi memulai dari kaki kanannya.

Ada orang yang memulai pengusapan dengan kaki kanannya kemudian kaki kirinya, dan kebanyakan manusia mengusap dengan kedua tangannya di atas kaki kanan dan setelahnya mengusap dengan kedua tangannya di atas kaki kiri. Cara seperti ini jelas tidak ada asalnya dari apa yang kami ketahui, bahkan ulama hanya mengatakan: “Mengusap dengan tangan kanan di atas kaki kanan dan tangan kiri di atas kaki kiri. Namun bagaimana pun cara pengusapan dilakukan tetaplah mencukupi, hanya saja yang lebih utama adalah apa yang telah kami sebutkan” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/177)

Bagaimana dengan Kaos Kaki?

Sebagaimana hari ini sangat jarang yang memakai Khuf, sedangkan lebih banyak orang memakai kaos kaki dan sandal maka mengetahui hukum tentangnya menjadi sangat perlu.

Dari al Azraq bin Qais, ia berkata: “Aku pernah melihat Anas bin Malik berhadats. Maka ia membasuh mukanya, dua tangan dan mengusap dua kaos kakinya yang terbuat dari wol”. Aku bertanya,”Engkau mengusapnya?” Dia menjawab,”Keduanya adalah khuf, hanya saja terbuat dari wol”.[Dishahihkan Ahmad Syakir; ad Dulabi (1/179)]

Pada riwayat tersebut Anas radhiyallahu’anhu menegaskan, kata khuf lebih umum tidak hanya sekedar terbuat dari kulit saja. Dan ia adalah seorang sahabat yang pakar dalam bahasa.

Maka boleh hukumnya mengusap dua kaos kaki secara mutlak, meskipun tipis. Inilah zhahir madzhab Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah dan dipilih oleh Syaikh al ‘Utsaimin dan ‘allamah asy Syinqithi. Dan inilah pendapat yang rajih (Abu Malik Kamal Ibnu Sayid Kamil – Shahih fiqih Sunnah)

Wallahu a’lam.

————————————————-

Tulisan ini adalah ringkasan dari fikih mengusap Khuf dan Kaos Kaki tanpa menyebutkan perbedaan pendapat yang ada dalam masalah ini. Bagi yang ingin melihat pembahasan lebih lengkap silakan menelusuri pembahasan pada risalah berikut ini:

Fiqh Wudhu : Hukum Mengusap Khuf, Mengusap Tutup Kepala Dan Kerudung Bagi Wanita

Mengusap Jaurob (Kaos Kaki) Dan Sandal

Mengusap Khuf