Fenomena perilaku mengekor musuh-musuh Allah –yaitu golongan kafir dan musyrik– telah menjalar di tubuh umat Islam dan hampir di segala segi dan tata kehidupan, seperti cara berpakaian, gaya bicara dan penampilan, sampai kepada hal yang lebih besar, yaitu soal-soal ibadah. Padahal

Allah telah mengingatkan kita pada banyak ayat-Nya untuk tidak mengikuti jalan-jalan mereka. Diantara peringatan Allah Ta’ala itu adalah

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan sungguh sekiranya engkau (Muhammad) mengikuti hawa nafsu mereka setelah datangnya kebenaran ini kepadamu, niscaya engkau akan masuk golongan orang-orang zalim.” [Al Baqarah 145]

Bagaimanapun juga, fenomena ini adalah suatu keniscayaan. Sebagaimana Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,

“Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan ikut masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun demikian, bukan berarti kita ridho dengan fenomena seperti ini, bukan pula kita membiarkan fenomena ini terus terjadi tanpa ada usaha mengingatkan saudara-saudara kita baik dengan lisan maupun tulisan, karena pengkabaran Rasulullah shallallahu’alaihi tersebut justru karena beliau ingin menunjukkan betapa tercelanya sikap tersebut. Hingga pada kesempatan lain beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa meniru/menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka.” (HR. Bukhari, Ahmad, Abu Daud, dan yang lainnya)

Kalau dicermati, perilaku meniru ini terjadi akibat terbukanya hubungan dengan negara barat dan timur, dan jarak yang semakin dekat antara satu negeri dengan negeri lainnya karena banyaknya sarana transportasi modern serta kemajuan teknologi komunikasi, yang membuat semakin mudahnya ekspor-impor budaya, ekspor-impor pemikiran dan pemahaman, hingga ekspor-impor agama. Namun yang sebab yang mendasar adalah karena lemahnya iman dalam hati kaum muslim, tidak teguh memegang agamanya dan tidak adanya sifat zuhud seperti yang dimiliki oleh para pendahulu mereka yang shalih. Dengan lemahnya iman tersebut, kaum muslim ada yang terpengaruh oleh apa yang mereka lihat pada musuh-musuh Allah dan kekaguman mereka terhadap musuh-musuh Allah. Padahal kekaguman ini merupakan benih-benih tumbuhnya cinta, dan jika cinta sudah tumbuh maka akan menjadi loyal/setia kepada mereka, sampai membelanya demi menghadapi umat Islam sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpinmu. Sebagian dari mereka adalah pemimpin bagi sebaian yang lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” [Al Maaidah: 51]

Syaikh Sa’di berkata dalam Tafsirnya “Mereka (Yahudi dan Nasrani) saling bahu-membahu menghadapi selain mereka. Maka janganlah kamu mengangkat mereka sebagai penolong-penolong karena mereka adalah musuh yang sebenarnya, mereka tidak mempedulikan penderitaanmu, bahkan tidak menghemat energi sedikitpun demi menyesatkanmu. Maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin kecuali orang yang sama dengan mereka. Karena pengangkatan mereka menjadi pemimpin secara total menuntut perpindahan kepada agama mereka, loyalitas yang sedikit akan mendorong kepada yang banyak, lalu fase demi fase, sehingga seorang hamba menjadi satu dengan mereka”.

Seorang muslim yang kuat imannya tidak akan terpedaya dengan kulit atau penampilan lahiriah yang menggiurkan dan bersikap meniru membabi-buta. Seorang muslim yang memiliki kepribadian tinggi tidak akan mudah terkecoh, karena dia berkeyakinan bahwa kepribadiannya itulah yang membawa kebajikan dan keselamatannya di dunia dan di akhirat. Seorang muslim yang kokoh ilmunya akan memahami konsep al-wala’ wa al-bara’ dan menerapkannya dengan benar, kepada siapa dia harus loyal dan kepada siapa dia harus berlepas diri.

Akhirnya, semuanya bermuara kepada kuatnya Iman. Iman yang benar, yang dilandasi dengan Ilmu yang benar. Maka sudah seharusnya setiap muslim kembali kepada sumber-sumber Ilmu yang benar yang membawa pada kuatnya Iman dan Amal Shalih.

Muscat, Jum’at 19 Shafar 1433H

Artikel Pustaka Al-Atsar

Beberpa nukilan dari:

  • Mukhtaratu min kitabi iktidha‘ush shirathal mustaqim, mukhalafatu ash-habil jahim oleh Muhammad bin Ali Adh-Dhobi‘i
  • Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di