Dua faktor penyebab manusia melakukan urusan yang melampaui batas, melakukan kedhaliman dan berbagai kemaksiatan lainnya, yaitu:

  1. Lalai dari mengingat Allah (Dzikir)
  2. Mengikuti hawa nafsu.

Sebagaimana hal ini diterangkan dalam surat Kahfi ayat 28, dimana Allah Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Kahfi: 28]

Diantara hikmah dari dzikir-dzikir yang ada dalam ajaran Islam adalah membuat kita senantiasa terhubung dengan Allah, mengingat Allah, sehingga merasakan keagungan Allah, merasakan Rahmat Allah, dan merasakan Pengawasan Allah Tabaraka Ta’ala, sehingga akan mencegah dari melakukan perbuatan maksiat.

Namun, masih ada satu faktor yang bisa membuat manusia melakukan perbuatan yang melampaui batas, yaitu memperturutkan hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang diberi hawa nafsu, yang dengannya manusia dapat bertahan hidup, berkompetisi, dan berkembang-biak. Islam tidak mengebiri hawa nafsu, tapi Islam mengajarkan untuk menundukkan hawa nafsu. Karena sifat dasar nafsu adalah menyuruh kepada kejahatan, kecuali bagi yang berhasil menundukkannya atas rahmat Tuhannya.

إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” [Yusuf: 53]

Maka untuk mencegah dari perbuatan yang melampaui batas, perhatikan dengan sungguh-sungguh kedua faktor yang mempengaruhi tersebut. Keduanya dapat saling mendukung. Jika seseorang kuat dalam berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang sebenar-benarnya, penuh kekhusyu’kan, penuh penghayatan, menyatu antara hati dan lisan, insya Allah akan membantu menundukkan hawa nafsu. Karena dengan dzikir yang khusyu’ dan penuh penghayatan, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah sehingga akan merasa malu untuk melanggar laranganNya maupun melalaikan perintahNya. Dan untuk menundukkan hawa nafsu pun perlu taufiq dari Allah Azza wa Jalla.

Artikel: Pustaka al-Atsar