Ketika kita bermakmum, terkadang kita menjumpai Imam yang diantara gerakan shalatnya tidak sama dengan yang kita yakini dan kita amalkan. Keadaan ini menjadikan berbenturnya 2 sunnah (petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam), yaitu Menyempurnakan gerakan/bacaan yang disunnahkan, dengan Mengikuti Imam yang mana juga merupakan perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Ada beberapa kasus dalam shalat yang memungkinkan berbedanya pilihan gerakan/bacaan antara Makmum dengan Imam, dan dalam artikel kali ini mengambil contoh kasus “duduk istirahat”, yaitu duduk iftirasyi sejenak setelah sujud kedua sebelum berdiri untuk rakaat berikutnya.



Permasalah berbedanya makmum dengan Imam berkutat pada hadits Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam:

إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا وإذا رَفَعَ فَارْفَعُوا وإذا قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وإذا صلى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Hanyalah dijadikan imam adalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku’ maka ruku’lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata “Sami’allahu liman hamidahu” ucapkanlah “Robbanaa wa lakalhamdu”. Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk”[Hadits riwayat Al-Bukhari no 657]

Hadits diatas juga senada dengan hadits berikut:

َمَا يَخْشَى الَّذِيْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَا

Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai?”[Hadits riwayat Muslim]

Dari hadits diatas terdapat gambaran jelas bahwa terlarangnya penyelisihan makmum terhadap Imam adalah Jika perselisihan tersebut terjadi pada Hal-hal yang dzohir dan dapat membuat makmumnya tertinggal atau mendahului Imam.

Imam Nawawi berkata:

“Adapun sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti) maka maknanya menurut Syafi’iy dan sebagian ulama adalah di dalam perbuatan-perbuatan yang dhahir ” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Bin Al-Hajjaj 4/134]

Ibnu Taimiyah menyinggung sebuah perbedaan yang boleh dilakukan oleh makmum ketika dia sedang berimam dengan orang yang berbeda pendapatnya tentang duduk istirahat.

Beliau ditanya tentang seseorang yang sholat menjadi makmum dan melakukan duduk istirahat antara rakaat sementara Imam tidak melakukannya. Apakah itu boleh? Kalau itu boleh, apakah tidak mengurangi pahalanya karena tidak bersegera mengikuti Imam

Beliau menjawab:

“Duduk istirahat merupakan hal yang telah valid dilakukan oleh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didalam kitab sohih, akan tetapi para ulama berselisih antara apakah Nabi melakukannya karena kebutuhan beliau yang sudah tua?, ataukah Nabi melakukannya karena termasuk sunnah dalam sholat? Barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan kedua maka ia menganggapnya mustahab sebagaimana pendapat As-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Ahmad. Dan barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan pertama maka ia tidak menganggapnya mustahab kecuali jika memerlukannya sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Malik, dan salah satu riwayat dari Ahmad.

Barangsiapa yang melakukan duduk istirahat maka tidak boleh diingkari meskipun posisinya sebagai makmum (sementara imam tidak melakukannya-pent) karena keterlambatannya mengikuti (imam yang tidak duduk istirahat) hanya sedikit dan tidak termasuk keterlambatan yang dilarang –menurut mereka yang berpendapat akan mustahabnya duduk istirahat.

Bukankah ini cuma perbuatan yang merupakan perkara ijtihad? Karena sesungguhnya telah bertentangan antara melakukan sunnah ini –yaitu menurutnya- dengan bersegera mengikuti imam?, sesungguhnya mengikuti imam lebih utama daripada terlambat. Akan tetapi keterlambatan tersebut hanya sedikit, maka perkaranya seperti jika imam berdiri dari tasyahhud awal sebelum makmum menyelesaikan (bacaan) tasyahhud awal padahal makmum memandang mustahabnya menyempurnakan bacaan tasyahhud awal (sehingga akhirnya sang makmum terlambat beridiri-pent). Atau seperti jika imam salam padahal sang makmum masih ingin berdoa sedikit lagi, apakah sang makmum segera salam ataukah menyempurnakan dahulu doanya?. Permasalahan-permasalahan seperti ini termasuk permasalahan ijtihad, dan yang paling kuat adalah bahwa bersegera mengikuti imam itu lebih utama dari pada terlambat karena melakukan perkara yang mustahab. Wallahu A’lam[Majmû Al-Fatâwâ Jilid 22/451-452]

Pendapat ini dikuatkan oleh Faqihuzzaman Muhammad Bin Sholih al Utsaimin

Jika duduk tasyahud bisa gugur karena mengikuti Imam (yang lupa, pent) maka duduk istirahat juga bisa gugur karena mengikuti Imam. Tapi aku menganggap ketinggalan yang ringan dalam duduk istirahat tidak dianggap menyalahi Imam dan tidak batal sholat kalau ia melakukannya, tapi saya memerintahkan agar tidak duduk istirahat (mengikuti imam, pent)[Majmû Al-Fatâwâ Jilid 13/538]

Jadi jelas untuk hal-hal yang merupakan ijtihad dan bisa mempengaruhi dalam hal tertinggal atau mendahului imam dan atau terlihat mencolok secara dzohir maka makmum wajib mengikuti Imam. Namun jika tertinggalnya ringan saja, maka makmum boleh melakukannya namun tetap disarankan untuk mengikuti Imam.

**********************************************************

Mengambil faedah dari artikel “Berselisih dengan Imam” www.syaikhulislam.wordpress.com