Orang tua pasti menginginkan manfaat untuk anak-anaknya. Para orang tua bekerja keras, membanting tulang, berpeluh dan berdarah demi memberikan manfaat dan membahagiakan buah hatinya. Demikian pula seorang anak yang baik pasti ingin memberikan manfaat untuk orang tuanya, kelak ingin membalas jasa orang tua ketika sudah mempunyai kemampuan untuk membalasnya.

Akan tetapi waktu untuk melakukan itu semua sangat terbatas, sebatas kehidupan yang diberikan Allah Rabb semesta Alam kepada makhlukNya. Bahkan tidak jarang, segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan ataupun diharapkan. Tak jarang orang tua kecewa atas balasan yang diterima dari anaknya setelah segala upaya dikerahkan untuk memberikan manfaat kepada anaknya. Tidak sedikit juga orang tua yang membiarkan anak-anaknya terlantar di dunia ini.

Namun itu semua belum seberapa. Ada yang lebih patut mendapat perhatian daripada sekedar akibat di dunia yang hanya sementara ini. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memperingatkan akan datangnya suatu hari, dimana antara orang tua dan anaknya tidak akan lagi dapat saling memberi manfaat, tidak dapat lagi saling menolong, yaitu suatu hari dimana setiap makhluk harus berdiri sendiri dihadapan Rabbnya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (Luqman 33

Dalam surat at-Taghaabun, Allah Ta’ala memberikan gambaran sekaligus sebagai peringatan, bagaimana antara orang tua dan anak-anak itu tidak bisa memberikan manfaat. Hal itu karena diantara pasangan hidup dan anak-anak bisa menjadi musuh satu sama lain.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (14) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (15

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (14). Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (15).

Sehingga Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan kepada orang-orang beriman agar berhati-hati dalam mempersiapkan pasangan hidup serta anak-anak keturunannya. Berhati-hati sejak memilih calon pasangan hidup, yaitu memilih pasangan hidup karena agamanya. Kemudian mempersiapkan calon buah hati agar terlindung dari syaitan, lalu mendidiknya dengan pendidikan terbaik yaitu dengan bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah diatas pemahaman generasi terbaik umat ini.

Keimanan menjadi tali penghubung yang abadi antara anggota keluarga. Tanpa keimanan dan amal shaleh, maka kedekatan, kekerabatan, bersambungnya nasab, tidaklah memberikan manfaat sedikitpun pada hari dimana setiap makhluk harus mempertanggungjawabkan kehidupannya di dunia.

Oleh karena itu, menjaga kestabilan iman dan amal shaleh dalam keluarga harus senantiasa diusahakan. Setelah dicukupkan rizki dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka pembicaraan dalam keluarga mestinya lebih banyak berkisar pada hal-hal yang dapat menjaga serta meningkatkan iman dan amal shaleh. Pembicaraan tidak lagi didominasi perkara-perkara dunia yang sepele dan remeh temeh. Hendaknya pembicaraan dalam keluarga dihiasi dengan tadabbur ayat-ayat Allah maupun sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, kisah-kisah teladan generasi terbaik, hingga hikmah-hikmah dari kehidupan yang dijumpainya untuk diambil pelajaran darinya. Sehingga kecintaan kepada pasangan, anak-anak, dan harta, serta kemesraan kita bersama mereka tidak menjadikan kita lalai dari mengingat Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al Munafiquun 9)

Ketika kestabilan iman dan amal shaleh telah diusahakan dengan upaya yang maksimal serta tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, maka hubungan kekeluargaan tersebut baru akan bermanfaat di akhirat kelak.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (ath Thuur 21)
Betapa inginnya setiap kita dapat saling memberikan manfaat kepada keluarga kita, di dunia maupun di akhirat. Maka, usahakanlah!

——————————————————————
Diantara catatan yang dikumpulkan selama safar, Maret 2012, Sleman