Hawa nafsu tidak henti-hentinya mengajak kepada keburukan. Dia akan senantiasa mengintai hati manusia dari berbagai arah. Hati yang lalai dari mengingat Allah tidak akan selamat dari sergapannya. Dua faktor tersebut, yaitu lalai dari mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsu, adalah sebab terjerumusnya manusia dalam perbuatan yang melampaui batas.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. [QS. Kahfi: 28]

Bahkan keduanya saling berkaitan satu sama lain. Hati yang lalai dari mengingat Allah tidak akan mempunyai pertahanan untuk menolak hantaman bertubi-tubi dari hawa nafsu, hingga tak menyadari bahwa hatinya telah tertawan oleh hawa nafsu.

Terkadang, dzikir hanya membasahi lisan, sedangkan hati tetap berbicara dengan sendirinya, lalai dari meresapi apa yang keluar dari lisan. Jika seperti ini keadaan hati, maka tidak akan cukup kuat menolak tarikan nafsu.

Pintu masuk lain adalah pandangan mata. Dan memang benar, dari mata akan turun ke hati. Nafsu yang akan membisikkan ke dalam hati, mengingatkan akan indahnya apa yang telah dipandang oleh mata, sehingga hal itu akan mengusik hati dan mendorong untuk menindaklanjuti keinginan nafsu.

Begitu juga dengan lisan dan pendengaran. Dikarenakan pembicaraan-pembicaraan tidak selamat dari menanamkan rasa hasad dalam hati. Perkataan adalah sihir. Dia mampu menyihir pendengarnya sehingga membuat pendengarnya membenarkan bahkan mengikuti perkataan tersebut. Dan nafsu akan berusaha mengobarkan rasa ini sampai hati menuruti kemauannya atau membunuhnya.

Karena hati adalah raja, yang memerintah anggota tubuh yang tampak di permukaan. Maka jika dia adalah raja yang sholeh dan adil, akan sholeh dan adil pula apa-apa yang dipimpinnya. Sebaliknya jika dia adalah raja yang dhalim, akan dhalim pula apa-apa yang dipimpinnya.

“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah. Jika baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika buruk, buruk pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah qolbu” (HR. Bukhari & Muslim)

Salah satu cara untuk membuat hati tetap terjaga, adalah dengan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an pada setiap saat dan setiap tempat, kecuali pada tempat-tempat yang tidak selayaknya ucapan mulia ini dilantunkan. Mengulang-ulang sambil merenungi maknanya, keindahan bahasanya, hikmah-hikmah yang ada dibalik setiap hurufnya. Al-Qur’an yang merupakan perkataan Allah, Dzat yang Tanpa Batas, maka makna perkataanNya pun tanpa batas, meskipun seluruh air laut menjadi tinta atau bahkan jika dilipatgandakan, tidak akan cukup untuk menuliskan makna perkataan Allah serta hikmah yang ada dibaliknya. Membaca dan mentadabburinya pasti akan menghidupkan hati.

Maka sungguh perlu mendeteksi gejala-gejala sakitnya hati. Dan kata para ahli, “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

——————————————–

dari catatan harian, 27 Shafar 1433