Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sampai di Madinah, pertama kali yang dibangun adalah Masjid. Bahkan sebelum sampai di Madinah, yaitu ketika singgah di Quba, beliau shallallahu’alaihi wasallam juga membangun Masjid. Hal ini menandakan bahwa Masjid adalah suatu elemen yang sangat penting bagi kehidupan umat Islam, sehingga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat memperhatikan keberadaan Masjid dan menjadikannya sesuatu yang pertama kali dibangun sebelum membangun umat secara menyeluruh. Kita bisa melihat bahwa syi’ar-syi’ar Islam dihidupkan di Masjid, mulai dari syi’ar harian (yaitu Shalat Fardhu 5 waktu bagi Laki-laki), syi’ar mingguan (Shalat Jum’at), hingga syi’ar tahunan (Qiyamul Lail pada hulan Ramadhan). Bahkan di jaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin, Masjid telah menjadi pusat kegiatan kemaslahatan umat, yang kalau dalam bahasa sekarang dikenal dengan istilah Islamic Center, atau Markaz al-Islam.

Pentingnya Masjid bagi seorang Muslim bagaikan pentingnya Air bagi seekor ikan. Ikan akan hidup di dalam air dan akan mati jika tidak dilingkupi air, cepat atau lambat. Namun permisalan ini bukan kepada jasad seorang muslim, akan tetapi pada hatinya. Hidup dan Matinya hati seorang muslim berkaitan dengan dekat atau jauhnya dia dari masjid. Seorang muslim akan senantiasa hidup hatinya jika hatinya terikat dan tergantung dengan Masjid, dan sangat mungkin akan mati jika hidupnya jauh dari Masjid, cepat atau lambat. Sebagaimana jasad yang mati, secara umum akan didahului dengan penyakit, yang jika tidak diobati akan semakin menggerogoti jasad tersebut hingga lama kelamaan akan mati. Demikian pula dengan hati. Hati tidak akan tiba-tiba mati, melainkan diawali dengan berbagai macam penyakit. Semakin pemilik hati tidak menyadari bahwa hatinya sakit, maka bisa jadi sakitnya akan bertambah parah, hingga membawa kepada kematian hati, yang mana jika hati sudah mati tidak bisa lagi merasakan apa-apa sebagaimana jasad yang mati tidak akan merasakan apa pun meskipun disayat-sayat dengan pisau yang tajam. Hati yang sudah mati tidak lagi bisa mengenali dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan, bahkan baginya kebenaran tampak sebagai kebatilan dan kebatilan dipandang sebagai kebenaran.

Sungguh kematian hati jauh lebih berbahaya daripada kematian jasad. Karena hati adalah rajanya jasad, yang mengendalikan jasad untuk berbuat baik atau buruk. Jika hatinya hidup dan baik, maka jasadnya pun akan baik. Sebaliknya jika hatinya sakit atau mati, maka jasad bagaikan mayat hidup yang berjalan di muka bumi.

Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hambaNya, mengingatkan kepada hambaNya mengenai pentingnya memenuhi panggilanNya dan panggilan RasulNya untuk menghidupkan hati, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada (hati)mu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Al-Anfaal 24)

Mari penuhi seruan Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu’alaihi wasallam untuk menuju kepada segala hal yang dapat menghidupkan hati. Karena Allah lah yang menguasai hati hamba-hambaNya, bahkan hati-hati hamba ini berada diantara dua jari diantara jari-jemari Ar-Rahman.

إِنَّ قُلُوبَ بَـنـِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِـعِ الرَّحْمَنِ كَـقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَـشَاءُ. ثُمَّ قَـالَ رَسُولُ اللهِ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati Bani Adam semuanya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahman, seperti hati satu orang, Dia palingkan kemana Dia kehendaki.” Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati-hati kami pada ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 2654)

Dan menjadikan hati senantiasa terpaut dengan Masjid ternyata memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu akan mendapat naungan Allah Ta’ala dihari dimana tidak ada naungan selain naunganNya.

“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (hari kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

_____________________________________

Muscat, 11 Rajab 1433H

Artikel Pustaka Al-Atsar