Bani Israil adalah suatu kaum yang sebenarnya mengetahui kedudukan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai utusan Allah Ta’ala kepada mereka, akan tetapi mereka mendustakan Nabi Musa hingga hal ini membuat beliau heran dengan perbuatan mereka. Maka atas berpalingnya mereka dari kebenaran yang telah diketahuinya, yaitu tentang kedudukan Nabi Musa dan sikap apa yang seharusnya diberikan kepada beliau, maka Allah Ta’ala menghukum mereka dengan memalingkan mereka, menjauhkan mereka dari kebenaran itu sehingga mereka tidak kembali kepada kebenaran selama-lamanya. Dan balasan ini sebagaimana perbuatan mereka sendiri. Mereka berpaling, maka mereka dipalingkan.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (QS. Ash Shaff: 5)

Demikianlah peringatan Allah Ta’ala kepada hambaNya yang telah mendapatkan suatu petunjuk, ilmu untuk mengamalkan perintahnya maupun untuk meninggalkan larangannya, sarana-sarana yang mengingatkan untuk menjalankan ketaatan…kemudian berpaling darinya, maka Allah akan memalingkan mereka sehingga seolah-olah dia tidak mempunyai ilmu tentangnya. Yang demikian itu sungguh sangat mudah bagi Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagai sebuah gambaran, ketika seorang hamba telah mengetahui bahwa dirinya diperintahkan untuk memenuhi panggilan Allah Tabaraka wa Ta’ala untuk menyambut kemenangan “hayya ‘ala al-falah” dengan segera mendirikan shalat, mendatangi shalat jama’ah bagi kaum laki-laki yang mukallaf, kemudian dia berpaling dan menunda-nunda pelaksanaannya dengan dalih kesibukan ataupun karena waktunya yang masih panjang, maka bisa jadi dia akan dipalingkan kepada pekerjaannya, disibukkan dengannya hingga tidak teringat lagi bahwa dirinya mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan, lalu tiba-tiba habislah waktu shalat sedangkan dia belum mendirikannya. Maka tidak ada qodho’ (penggantian) pada kewajiban yang ditinggalkan tanpa udzur yang syar’i.

Seperti halnya seorang hamba yang telah memenuhi syarat untuk melaksanakan rukun Islam yang ke-5, pergi haji ke Baitullah, kemudian dia berpaling darinya dengan menunda-nunda kepergiannya karena lebih mementingkan urusan dunianya atau menganggap dirinya akan berumur panjang dan dia merencankan hajinya di hari tuanya kelak, maka bisa jadi dia akan dipalingkan darinya, dilupakan bahwa kewajiban itu masih ada padanya, atau diberikan kepadanya berbagai macam kesulitan yang menghalanginya untuk menunaikan haji, lalu tiba-tiba Malaikat Maut mencabut nyawanya sedangkan dia belum menunaikan salah satu rukun Islamnya padahal dia adalah orang yang mempunyai kemampuan. Maka ingatlah perkataan Umar bin Khaththab radiyallahu’anhu, “silakan pilih mau mau dalam keadaan Yahudi atau Nasrani”. Wal iyya ‘udzu billah.

Atau seorang hamba yang hatinya sedang tertawan oleh syaitan sehingga nafsunya membujuknya untuk melampiaskan syahwatnya, padahal dia telah mengetahui keharaman perbuatan tersebut. Akan tetapi ketika dia berpaling dan mengabaikan pengawasan Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka bisa jadi dia akan dipalingkan sehingga kesadaran yang tadinya ada bersamanya sedikit demi sedikit terkikis lantara mengikuti langkah-langkah syaitan, hingga dirinya lupa sama sekali, dan akhirnya menuruti ajakan nafsunya. Jika hatinya masih sehat, dia akan menyadarinya setelah berlalunya perbuatan itu, dan dia akan merasakan sakitnya karena telah melukai hatinya dengan perbuatan maksiat itu.

Maka tidak ada jalan lain kecuali senantiasa mengingat Allah serta berusaha menundukkan hawa nafsu. Dan jangan pernah lupa memohon pertolongan Allah, dengan memanjatkan do’a:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (Ali Imraan: 8)

 

————————————————-

Muscat, 30 Rajab 1433H/20 Juni 201

Artikel www.pustakaalatsar.wordpress.com