Rumusan Kaidah Fikih yang kedua adalah:

الدِّينُ مبني على المصالح  في جلبِها والدرء للقبائح

“Agama ini dibagun atas dasar kemaslahatan dalam penetapan syariatnya dan untuk menolak kerusakan”

Dalam kitab Mulakhos Mandhumah Fiqhiyyah yang di ringkas oleh Abu Humaid Abdullah al Falasi dari kitabnya Syeikh Muhammad Sholeh al Utsaimin, di katakan dalam kaidah pertamnya الدين جاء لسعادة البشر  yang artinya “agama (islam) datang untuk kebahagian manusia”. Dalam konteks lain dikatakan: الدين كله جلبٌ للمصالح ودفعٌ للمفاسد yang artinya “Agama ini ( islam) seluruh syariatnya adalah untuk mendatangkan maslahat dan untuk menolak kerusakan”

Dan kaidah ini adalah kaidah umum dalam agama Allah Ta’ala, yang padanya dikembalikan urusan agama ini.

المراد بالدِّين: الشريعة، مأخوذ من الفعل دان بمعنى: أطاع فمن دان لغيره، وأطاعه فإنه قد سلم الدين له، ولما كان أهل الإيمان يطيعون الله – عز وجل – سميت شريعة الله الدين، قال -سبحانه-: { إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ } (آل عمران:19) فقوله هنا مبني على المصالح يعني: أن الشريعة راعت في وضع أحكامها المصالح ، المراد بالمصالح :واحدتها المصلحة، وهي المنفعة.

Karena makna الدين (agama) adalah: الشريعة diambil dari kata fi’il  دان yang artinya أطاع “taat”, maka jika dikatakan دان لغيره artinya “taat kepada selainnya” , dan makna أطاع adalah menyerahkan semua ketaatan kepadnya. Maka tatkala orang yang beاللَّهِ الْإِسْلَامُ riman mentaati Allah Ta’ala maka syariat Allah dinamakan الدين  “agama”, sebagaimana firmannya  إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ “sesunggunya agama yang benar disisi Allah hanyalah islam (Ali Imran: 19)

Dari firman Allah disini dapat dipahami bahwa agama islam di bagun untuk kemaslahatan. Artinya semua syariat baik dalam bentuk perintah maupun larangan serta hukum-hukumnya adalah untuk masholihi (manfaat-manfaat) dan masholihi adalah jamak dari maslahat, yaitu: manfaat.

Sebagai contoh, Allah melarang minuman keras dan judi  karena mudharat (bahayanya) lebih besar dari pada manfaatnya,  sebagaimana dikatakan dalam Al Baqarah: 219

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” [Al Baqarah: 219]

Manfaat dan maslahat dari agama ini tidaklah kembali kepada Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya Allah maha kaya sebagaimana firmanya  يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” [Al Faathir: 15].

Sesungguhnya Allah maha kaya dan maslahat serta faedahnya kembali untuk hambaNyA dan bukanlah yang dimaksud disini adalah sesuai dengan hawa nafsu dan apa-apa yang diinginkan nafsu manusia, karena hal itu menyelisihi makna الدين (agama) dan ketaatan, sedangkan ketaatan dibangun diatas iltizam (berpegang teguh) dengan perintah serta larangan Allah, maka untuk inilah syariat islam melarang untuk mengikuti dan memperturutkan hawa nafsu sebagaimana firmanNya وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ “janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga kamu tersesat dari jalan Allah” [Shaad: 26]. Hal ini karena mengikuti hawa nafsu akan menumbulkan bahaya yang banyak, kejelakan serta kehinaan, dan tidak ada di dalamnya maslahat serta manfaatnya sedikitpun dalam mengikuti hawa nafsu. Jika hal ini diterima, maka sumber hukum mana yang kita ambil tatakala mempertimbangkan: “ini adalah bermanfaat dan baik buat manusia ataupun sebaliknya?”

Dari sini ada 2 golongan manusia yang mensikapi agama ini :

  1. Orang yang tidak memperdulikan dan tidak bersungguh-sungguh dalam mempertimbangkan masalah manfaat dan mudharat, yang  ada pada mereka adalah hanya semangat sehingga tidak memperhatikan qaidah fiqh, menjauhi ilmu fiqh dan usul serta qaidahnya.
  2. Orang yang menimbang dengan timbangan yang shahih dalam menolak mudharat dan mengambil manfaat dalam beragama, berkata dan berfatwa, dan ini harus dengan dalil dan syari’at Allah, bukan hanya sekedar perasaan dan dengan akal, lebih-lebih hawa nafsu.

Karena pentingnya Kaidah ini, maka ulama merasa cukup dan bersungguh sunguh dalam meperhatikan Kaidah ini bahkan Al-Imam Al-Izzi bin Abdussalam telah mengemukakannya dalam kitabnya yang lengkap, dan menjadikan hukum-hukum syari’ar semuanya berputar dan bersumber dari qaidah ini.

Artikel 5 Penjagaan Islam dapat menjadi tambahan penjelasan akan penerapan kadiah ini dalam Islam, dimana ada 5 hal utama yang dijaga kemaslahatannya .

————————–

www.pustakaalatsar.wordpress.com

Diringkas dan dirapikan dari: myquran.org