Allah Tabaraka wa Ta’ala Menciptakan dan Memilih. Dia yang Menciptakan bulan-bulan kemudian memilih bulan Ramadhan untuk diutamakan diantara bulan-bulan lainnya. Bulan dimana disyariatkan ibadah Puasa, yaitu meninggalkan makan, minum, dan jimak, serta hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, sejak munculnya bulan sabit awal Ramadhanhingga bulan sabit awal Syawal. Bukan meninggalkannya karena tradisi atau demi badan, akan tetapi demi beribadah kepada Allah Ta’ala.

Ketahuilah, bahwa pada ibadah puasa terdapat keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ibadah yang lain, yaitu hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits Qudsi “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberi balasan degannya” [HR. Bukhari 3/31, 9/175 dan Muslim 3/157-158]. Maka cukuplah hubungan ini sebagai sebuah kemuliaan puasa [1].

Jika setiap amal anak Adam dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat, maka amalan puasa mempunyai nilai yang jauh lebih banyak dari sekedar 700 kali lipat, karena Allah Ta’ala telah berjanji akan membalasnya sendiri.

Keutamaan puasa ada dua, yaitu [2]:

Pertama: Puasa adalah amal yang tersembunyi dan amalan batin yang orang lain tidak bisa melihatnya, dan juga amalan yang tidak bisa dimasuki oleh riya’

Kedua: Puasa adalah amal yang bisa menundukkan musuh-musuh Allah Azza wa Jalla. Karena wasilah yang digunakan musuh adalah syahwat. Syahwat itu hanya bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selama area syahwat subur, maka syaitan bisa bebas bergerak di tempat wilayah gembalaannya itu. Dengan ditinggalkannya syahwat, maka jalan-jalan ke wilayah tersebut akan menjadi sempit.

Oleh karena itu maksud dari puasa adalah menahan jiwa dari syahwat, memisahkannya dari hal-hal yang telah menjadi kebiasaan jiwa, dan mengimbangi kekuatan syahwatnya, untuk bersiap menyambut apa-apa yang terdapat padanya puncak kebahagiaan dan kenikmatannya, menerima hal-hal yang mensucikannya berupa perkara yang terdapat padanya kehidupan abadi baginya, mengalahkan rasa lapar dan haus dari tuntutannya, mengingatkannya akan keadaan fisik-fisik yang kelaparan dari orang-orang miskin, menyempitkan jalur lintas syaitan pada hamba dengan menyempitkan jalur makanan dan minuman, mengekang kekuatan anggota badan dari kebiasannya merambah hal-hal yang membahayakan dunia-akhiratnya, menenangkan setiap anggota badan dari setiap kekuatan yang liar, dan mengekang dengan kekangannya. Maka dia adalah pengekang bagi kaum muttaqin, perisai bagi yang berperang, taman orang-orang baik yang didekatkan, dan ia khusus untuk Rabb semesta alam diantara amal-amal lainnya.[3]

Sesungguhnya orang yang berpuasa tidak melakukan apa-apa. Hanya saja ia meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena sembahannya. Maka puasa adalah meninggalkan kecintaan jiwa dan kelezatannya demi mengedepankan kecintaan Allah dan keridaan-Nya.[4]

Puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam memelihara anggota badan yang nampak dan kekuatan batin, melindunginya dari percampuran yang mendatangkan zat perusak, dimana bila zat itu mampu menguasainya niscaya akan merusaknya. Puasa berfungsi pula mengeluarkan zat-zat buruk yang menghalangi kesehatan. Maka puasa memelihara kesehatan hati dan anggota badan sekaligus serta mengembalikan kepadanya apa-apa yang telah dirampas tangan-tangan syahwat. Ia adalah penolong paling besar atas ketakwaan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertakwa” [Al-Baqarah: 183]

Dan sebagaimana juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:

الصوم جنة

“Puasa adalah perisa” [HR. Bukhari 4/87 & 94, Muslim no. 1151]

Maksudnya, oleh karena maslahat puasa disaksikan akal sehat dan fitrah yang suci, maka Allah Ta’ala mensyariatkannya untuk hamba-hambaNya sebagai rahmat atas mereka, kebaikan untuk mereka, dan pelindung serta perisa bagi mereka. Adapun petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam padanya merupakan petunjuk paling sempurna, paling baik dalam meraih maksudnya, serta sangat mudah bagi jiwa.[5]

Oleh karena menyapih jiwa dari kebiasaan-kebiasaan dan syahwatnya merupakan perkara yang paling susah dan rumit, maka kewajiban puasa diakhirkan hingga masa pertengahan islam sesudah hijrah, disaat jiwa-jiwa telah menempati tahuid serta shalat dan sudah terbiasa dengan perintah-perintah Al-Qur’an, maka jiwa-jiwa itu pun diarahkan kepada puasa secara berangsur-angsur.[6]

***********************************************************

Artikel Pustaka Al-Atsar, 30 Sya’ban 1433H (waktu Muscat, Oman)

Maraji’:

[1] & [2] Minhajul Qashidin, Kitab Puasa

[3 – 6] Zaadul Ma’ad, Petunjuk Beliau shallallahu’alaihi wasallam tentang Puasa