Kepentingan mendesak dan paling utama bagi para hamba adalah mengetahui Rasul, mengetahui apa yang dibawanya, membenarkan apa yang dikabarkannya, dan mentaati apa yang diperintahkannya. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali melalui bimbingan para Rasul. Tidak ada pula jalan mengetahui baik dan buruk secara rinci kecuali dari jalur mereka. Ridha Allah Ta’ala tidak pernah dicapai tanpa arahan mereka. Perkara baik diantara amalan, perkataan, dan akhlak, tak lain hanyalah berdasarkan petunjuk dan keterangan yang mereka bawa.

Kebutuhan kepada mereka (para Rasul) lebih besar daripada kebutuhan badan terhadap ruhnya, mata terhadap cahayanya, dan ruh terhadap kehidupannya. Kepentingan dan kebutuhan apapun yang dibuat pengandaian, maka kepentingan dan kebutuhan terhadap para Rasul masih jauh lebih tinggi daripadanya.

Allah memilih yang terbaik dari tiap-tiap jenis makhluk, lalu mengkhususkan untuk diriNya dan meridhainya melebihi yang lain. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan tidak mencintai kecuali yang baik. Tidak mau menerima amalan, perkataan, dan sedekah, kecuali yang baik. Terbaik dari segala sesuatu adalah pilihanNya.

Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, kepercayaanNya terhadap wahyuNya, yang terbaik diantara ciptaanNya, duta antara diriNya dengan hambaNya, diutus membawa agama yang sempurna dan manhaj (metode) yang lurus. Allah Ta’ala mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam, imam bagi orang-orang yang bertaqwa, dan hujjah bagi semua ciptaan. Allah Ta’ala mengutusnya pada masa kevakuman Rasul. Allah memberi petunjuk dengannya kepada cara sempurna dan jalan yang terang.

Allah Ta’ala mewajibkan kepada para hamba untuk mentaati beliau shallallahu’alahi wasallam, mengukuhkan, menghormati, mencintai, dan melaksanakan hak-haknya. Allah menutup semua jalan menuju surgaNya. Surga tidak akan dibukakan kecuali melalui jalannya. Allah Ta’ala melapangkan dada beliau shallallahu’alaihi wasallam, meninggikan sebutannya, menghapus dosa darinya, dan menetapkan kehinaan serta kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahnya.

Apabila kebahagiaan seorang hamba di dua negeri (dunia dan akhirat) terkait dengan petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam, maka menjadi kewajiban bagi setiap yang menasehati dirinya, mencintai keselamatan dan kebahagiaannya, untuk mengetahui petunjuk beliau shallallahu’alaihi wasallam, sejarahnya, dan urusannya.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'” [Ali Imraan: 31]

*************************************

Artikel Pustaka Al-Atsar

Muscat,1 Ramadhan 1433H

Diringkas dari beberapa Pasal di Kitab Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, karya Ibnu Qayyim al-J