Diantara Sunnah yang ada pada bulan Ramadhan adalah shalat Tarawih. Shalat Tarawih sendiri pada hakikatnya adalah shalat malam yang dilakukan berjamaah di bulan Ramadhan. Maka terkadang disebut dengan Qiyam Ramadhan. Dan untuk hal ini ada sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

من قام رمضان إمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa mengerjakan shalat (tarawih) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘Alaih)

Meskipun bulan Ramadhan berulang setiap tahun bersamaan dengan syariat puasa dan shalat malamnya, pembicaraan tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan-amalan tersebut pun berulang bersamaan dengan datangnya bulan yang mulia tersebut. Hal ini berarti kaum muslimin mempunyai keingintahuan yang lebih terhadap agamanya, mempelajarinya, meluruskannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk sesama saudaranya.

Berikut ini diatara FAQ (Frequently Asked Questions), pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan Shalat Tarawih beserta dengan jawabannya berdasarkan petunjuk Nabi Shallallahu’alahi wasallam, para sahabat radhiyallahu’anhum, generasi terbaik sesudahnya, serta keterangan para ulama yang mengikuti mereka dengan baik.

1. Shalat Tarawih berjamaah, sunnah atau bid’ah?

Sesungguhnya berjamaah dalam shalat tarawih itu adalah sunnah, dan bukan bid’ah. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah melakukannya pada beberapa malam. Kalaupun setelah itu beliau meninggalkannya, semata-mata karena beliau khawatir bahwa (berjamaah) itu dianggap wajib oleh umat islam apabila beliau melakukannya terus menerus. Namun kekhawatiran itu tidak berlaku lagi dengan sempurnanya ajaran syariat dengan wafatnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam. [Shalatu at-Tarawih, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani]

2. Berapa jumlah Rakaat Shalat Tarawih?

Dalam hal ini ada khilaf ilmiah (perbedaan pendapat yang sifatnya ilmiah karena didasarkan atas dalil-dalil yang shahih) yang berkisar antara pembatasan 11 rakaat atau tidak adanya pembatasan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272) [Tuntunan Shalat Tarawih]

3. Mana yang lebih utama, berjamaah di masjid sesuah shalat Isya’ atau sendiri di akhir malam?

Jika dihadapkan kepada kedua pilihan, antara mengerjakan shalat tarawih di awal malam berjamaah dengan shalat tarawih di akhir malam seorang diri, maka shalat berjamaah di awal malam lebih afdhal (utama). Sebab terhitung shalat semalam suntuk sebagaimana hadits yang marfu’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam [Qiyam Ramadhan, Syaikh Al-Albani].

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)

4. Bolehkah Shalat Sunnah lagi setelah Witir?

Boleh shalat sunnah meskipun sudah shalat Witir bersama Imam di masjid. Sehingga tetap berkesempatan mendapatkan keutamaan shalat Witir bersama Imam dengan tetap mempunyai kesempatan shalat Tahajjud setelah bangun tidur. Dalilnya adalah perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu’anha:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim no. 738)

Dan setelah itu tidak perlu mendirikan shalat Witir lagi karena “Tidak boleh ada dua Witir dalam satu malam” (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

5. Dua-dua atau Empat-empat Salam?

Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749).

6. Shalat Witir: Tiga rakaat salam atau Dua plus Satu?

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Shalat witir itu haq! Apabila ingin, ia boleh mengerjakannya lima rakaat, boleh juga tiga rakaat, dan bahkan boleh juga satu rakaat” (HR. Ath-Thahawi, al-Hakim, dan lainnya dengan sanad yang shahih).

Shalat Witir yang populer dilakukan secara berjamaah di bulan Ramadhan adalah 3 Rakaat, dengan variasi pelaksanaan: Tiga rakaat dengan sekali tasyahud dan sekali salam; Dua rakaat tasyahud lalu salam kemudian satu rakaat tasyahud lalu salam; Tiga rakaat dengan duduk tasyahud setelah rakaat kedua kemudian berdiri pada rakaat ketiga dengan tasyahud akhir lalu salam.

Syaikh Nashiruddin al-Albani berkata dalam Qiyam Ramadhan, “Adapun shalat witir lima rakaat dan tiga rakaat dengan melakukan tasyahud setiap kali dua rakaat tanpa salam, kami belum menemukan riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Pada asalnya boleh saja, namun Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah melarang mengerjakan Witir sebanyak tiga rakaat menyerupai shalat Maghrib. Beliau bersabda, “Janganlah samakan (shalat Witir) dengan shalat Maghrib” (HR. Ath-Thahawi dan Ad-Daruquthni serta yang lainnya)

Sehingga yang lebih dianjurkan/afdhal, wallahu a’lam, adalah Dua rakaat dengan bertasyahud lalu mengucapkan salam pada rakaat kedua, kemudian melanjutkan satu rakaat lagi dengan tasyahud dan salam.

7. Bagaimana dengan Do’a Qunut pada Shalat Witir?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ (وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ) تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

“Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang pernah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berikanlah berkah terhadap apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku, jauhkanlah aku dari kejelekan apa yang Engkau telah takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan hukum, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Mahasuci Engkau, wahai Rabb kami Yang Mahatinggi”. [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062) [Tuntunan Shalat Tarawih]

8. Adakah Dzikir tertentu setelah shalat Witir?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat “Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” (surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

9. Bagaimana dengan Dzikir berjamaah di sela-sela Rakaat shalat Tarawih?

Petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah sebaik-baik petunjuk. Para Sahabat radhiyallahu’anhum adalah generasi yang paling bersemangat dalam mencintai dan mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ibnu Katsir menyebutkan sebuah kaidah dalam tafsirnya “Lau kaana khoiron lasa baquuna ilaihi” yang artinya “Seandainya suatu perbuatan itu baik, niscaya para pendahulu kita (yakni: Shahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabiin) telah melakukannya”. Dan tidak ditemukan adanya petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hal ini (berdzikir secara berjamaah). Maka hendaknya setiap individu berdzikir sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhannya, karena hal ini lebih selaras dengan sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Ingatlah perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah”.

Tentu saja ke-9 FAQ diatas belumlah mewakili pertanyaan-pertanyaan seputar shalat Tarawih. Namun ke-9 pertanyaan diatas adalah yang paling sering dipertanyakan di “lapangan”. Semoga Allah Ta’ala melapangkan dada kita untuk menerima dan mengikuti sebaik-baik petunjuk, yaitu petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Wallahul muwaffiq.

************************

Artikel Pustaka Al-Atsar

Muscat, 2 Ramadhan 1433