Nikmatnya Berbuka Puasa

Setelah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar, tentu yang diiginkan oleh para shoimun (orang yang berpuasa) adalah segera meneguk air untuk membasahi kerongkongannya ketika adzan Maghrib mulai dikumandangkan. Maka berbahagialah mereka yang berpuasa. Mereka mempunyai dua kebahagiaan, yaitu bahagia karena telah menyelesaikan ibadah yang difardhukan Allah, dan bahagia karena Allah Ta’ala telah menghalalkan apa-apa yang sejalan dengan tabiatnya berupa makanan, minuman, dan jima’ yang sebelumnya dilarang selama rentang waktu puasa.

Ada sebuah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sepertinya tidak mungkin ditinggalkan oleh kaum muslimin karena sejalan dengan tabiatnya, yaitu Menyegerakan Berbuka. Bahkan lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa: “Manusia senantiasa dalam dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari 4/173 dan Muslim no. 1098 dari Sahl bin Saad As-Sa’idi).

Beliau shallallahu’alaihi wasallam menganjurkan berbuka puasa dengan makan Kurma. Jika tidak ada kurma, maka diganti dengan air. Ini adalah wujud kesempurnaan kasih sayang pada umatnya dan nasihat bagi mereka. Sebab, memberi tubuh sesuatu yang manis di saat perut sedang kosong akan sangat mudah diterima oleh tubuh dan cepat menghasilkan kekuatan. Terutama sekali kekuatan pikiran, dimana ia menyerap kekuatan darinya. Adapun air, sesungguhnya hati (liver) akan sedikit mengering dengan sebab puasa, jika dibasahi dengan air, maka ia dengan mudah mencerna makanan sesudahnya. Oleh karena itu, hal paling utama bagi yang kehausan dan kelaparan adalah memulai dengan meminum sedikit air, setelah itu dilanjutkan dengan makan. [Zaadul Ma’ad Pasal Petunjuk Beliau shallallahu’alaihi wasallam tentang Puasa]

Barangsiapa mendapatkan kurma maka hendaklah ia berbuka dengannya, dan siapa yang tidak mendapatkan kurma maka hendaklah berbuka dengan air, sesungguhnya ia mensucikan” (Shahih, HR. Abu Dawud 2355, at-Tirmidzi 694, Ahmad 4/17, dan yang lainnya). Syaikh Abdul Qadir al-Arna’uth memberikan komentar pada Tahqiqnya di Kitab Zaadul Ma’ad, bahwa perintah dalam hadits ini dipahami dalam konteks istihbab (disukai).

Makan Sahurlah!

Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur (Riwayat Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf 4/226, no. 7591; dishohihkan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath dan Al-Haitsami di dalam Al-Majma’, hlm. 62). Kalau dalam berbuka ada anjuran untuk menyegerakan, maka dalam makan sahur justru ada anjuran untuk mengakhirkannya. Ini adalah suatu bukti kasih sayang beliau shallallahu’alahi wasallam kepada umatnya, sehingga jarak antara makan sahur dan berbuka menjadi lebih pendek.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat menekankan untuk makan sahur. Hikmah darinya sangat jelas, yaitu memberikan asupan makanan pada tubuh sehingga memberikan kekuatan ketika harus menahan dari makan-minum selama seharian. Namun ada rahasia lain disamping hikmah yang tampak secara lahir. Yaitu adanya keberkahan dalam makan Sahur dan adanya bentuk penyelisihan terhadap ahli kitab. Sebagaimana sabda beliau: “Makan sahurlah, sesungguhnya pada sahur ada berkah” (HR. Bukhari 4/120 dan Muslim no. 1095 dari Anas bin Malik). Sedangkan dalam hal penyelisihan terhadap ahli kitab, beliau bersabda “Pemisah antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur” (HR. Muslim 1096, At-Tirmidzi no. 708, dan yang lainnya).

Bangun di waktu malam untuk makan sahur bukanlah hal yang mudah, namun demikian setelah mengetahui hikmah dan fadhilah dari makan sahur, janganlah sampai meninggalkan makan sahur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya menelan seteguk air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur” (HR. Ahmad, no. 11384; 11706; dan Ibnu Abi Syaibah dari Abu Sa’id al-Khudri). Maka jelaslah fadhilah dari Makan Sahur, yaitu: Adanya Keberkahan, Menyelisihi ahli kitab, mendapat Shalawat dari Allah dan Malaikat, dan Memberi Kekuatan.

Dan untuk Makan Sahur pun, beliau shallallahu’alaihi wasallam menganjurkan agar menjadikan Kurma sebagai salah satu menu dari makanan Sahur. Dari Abu Huroiroh, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah kurma”. (HR. Abu Dawud, no. 2347; Ibnu Hibban; dan Al-Baihaqi).

Maka jika memungkinkan, hendaknya Kurma senantiasa tersedia sebagai menu makanan keluarga muslim, khususnya di bulan Ramadhan, demi menyambut Sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua.

***********************************************************

Artikel Pustaka Al-Atsar

Muscat, 3 Ramadhan 1433H

 

Rujukan:

– Riyadhush Shalihin syarah Syaikh Al-Utsaimin

– Zaadul Ma’ad tahqiq oleh Syaikh Al-Arna’uth

Hukum dan Adab Seputar Sahur (nukilan hadits-hadits)