Do’a adalah sebuah komunikasi antara hamba dengan Rabbnya. Media dimana seorang hamba memuji Rabbnya, karena hanya Dia yang patut untuk dipuji dengan puji-pujian yang sempurna. Media dimana seorang hamba menyampaikan segala macam keinginannya, karena hanya Dia yang Maha Kaya serta Maha Luas pemberianNya. Bahkan Allah Ta’ala menyuruh hambanya untuk berdo’a kepadanya dan Dia berjanji akan menjawabnya. “Berdo’alah kepadaKu, niscya Aku akan menjawab (do’a)mu”.

Do’a adalah ibadah, yang hanya dilakukan ketika ada perintah atau contoh dari Pembuat Syari’at atau RasulNya ‘alaihimushshalatu wa sallam. Dimana ada petunjuk untuk melakukan do’a dengan cara dan redaksi tertentu, maka lakukanlah dengan cara dan redaksi sebagaimana yang diperintahkan atau dicontohkan. Seperti bacaan-bacaan yang dibaca pada saat Shalat, pada saat Umrah dan Haji, dan pada petunjuk-petunjuk lainnya. Akan tetapi bilamana tidak ada petunjuk untuk melakukannya dengan cara dan redaksi tertentu, maka biarkanlah tanpa menetapkan atau menambahkan cara-cara tertentu sehingga seakan-akan cara itu berasal dari Pembuat Syari’at, atau seolah-olah ada ruang bagi kita untuk menetapkan sebuah syariat.

Ketika do’a merupakan sebuah komunikasi, maka disitu ada kalimat-kalimat yang berisikan maksud dan tujuan dari do’a. Jika do’a dimaksudkan untuk memujiNya, dan ini yang disebut dengan do’a ‘ibadah, maka kalimat-kalimat yang dilafazhkan pun berisi dengan puji-pujian dan sanjungan kepada Allah Ta’ala. Pujian yang sempurna adalah yang menggabungkan antara Pujian dan Pensucian dari yang sebaliknya (atau dari sesuatu yang rendah dan tidak pantas dinisbatkan kepada Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Sempurna). Jika do’a dimaksudkan untuk meminta sesuatu kepada Dzat Yang Maha Kaya serta Maha Luas KerajaanNya, dan ini disebut dengan do’a mas’alah, maka kalimat-kalimat yang disampaikan tentunya mencakup apa-apa yang diminta.

“Jika engkau meminta, mintalah pada Allah”, demikian yang pernah diwasiatkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas radhiyallau’anhuma.

Dan dalam do’a mas’alah, yaitu do’a yang sifatnya permintaan, redaksi-redaksi do’a yang datang dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah menunjukkan kesempurnaan permintaan, sehingga redaksi-redaksi do’a tersebut sudah sangat mencukupi dan mewakili apa yang menjadi permintaan hamba kepada Rabb-nya. Tidak ada masalah seandainya seorang hamba meminta kepada Tuhannya secara lebih spesifik dan mendetail, akan tetapi ada suatu hal yang mestinya dipahami, bahwa ketika Allah Ta’ala berjanji menjawab/memenuhi permintaan hambaNya, hal itu tidak lepas dari 3 keadaan:

1. Allah mengabulkan sebagaimana yang diinginkan hamba, baik cepat atau lambat

2. Allah mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dimana Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana

3. Allah menundanya dan menyimpannya untuk hambanya di akhirat kelak sebagai pahala baginya

Dengan demikian, bisa jadi seorang hamba tidak mendapatkan sebagaimana yang diminta, karena Dzat Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya lebih mengetahui mana yang lebih memberi maslahat kepada hambaNya atau menghindarkan mudharat dari hambaNya. Jika demikian kenyataannya, mengapa tidak kita serahkan kepada Allah tentang detailnya, dan kita berdo’a dengan redaksi yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya.

Salah satu contoh redaksi do’a yang menunjukkan kesempurnaan permintaan dan mencukupi kebutuhan hamba adalah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:

اللهم انفعني بما علمتني وعلمني ما ينفعني وارزقني علما

Artinya: “Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah ilmu kepadaku” [At Tirmidzi no. 3599, Ibnu Majah no. 251 dan 3833, Shahih at-Tirmidzi III/185 no. 2845, Shahih Ibni Majah I/47 no. 203 – dinukil dari Do’a & Wirid karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

Kesempurnaan permintaan dari do’a diatas dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Permohonan agar Ilmu yang telah diberikan Allah kepada kita menjadi manfaat, yaitu kita diberi Taufik oleh Allah Ta’ala sehingga dapat mengamalkan ilmu, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Hal ini karena Ilmu baru berarti jika sudah diamalkan, sebagaimana sebuah syair “Ilmu tanpa Amal bagai Pohon tanpa Buah”.
  2. Permohonan agar Allah hanya memberikan kita Ilmu yang memang bermanfaat untuk kita. Kenyataannya, Ilmu sangatlah banyak. Ada Ilmu Agama, ada ilmu Dunia. Kedua-duanya bisa memberikan manfaat bagi pemiliknya, atau bisa jadi tidak bermanfaat sama sekali. Maka yang diminta dari redaksi do’a ini adalah agar ilmu yang ditakdirkan Allah untuk kita pelajari hanyalah yang memberikan manfaat bagi kita. Jadi bukan banyaknya ilmu yang diinginkan, melainkan manfaatnya. Sebagaimana perkataan ulama “Bukanlah ilmu itu dari banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu dalah rasa takut kepada Allah”. Yang kita minta adalah ilmu yang akan memberi manfaat bagi kita, yaitu menanamkan rasa takut (khasy-yah) kepada Allah Ta’ala.
  3. Permohonan tambahan Ilmu, karena Ilmu Allah sangatlah banyak, yang jika seluruh pohon yang ada di muka bumi dijadikan pena dan seluruh lautan menjadi tintanya tidak akan cukup untuk menuliskan Ilmu Allah. Akan tetapi tambahan ilmu yang diminta tetaplah memenuhi kriteria pada lafazh sebelumnya, yaitu Ilmu yang bermanfaat.

Do’a diatas hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak redaksi do’a yang sangat mencukupi kebutuhan hamba. Perhatikan kembali redaki-redaksi do’a yang ada di Al-Qur’an maupun Sunnah, tadabburilah kata demi katanya, niscaya akan ditemukan hikmah dari kesempurnaan redaksi tersebut. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru (dalam agama) yang diada-adakan.

******************************************

Artikel Pustaka Al-Atsar

Muscat, 8 Ramadhan 1433H