Kata-kata “mencetak insan yang shalih” itu memang terdengar indah, tetapi ia jauh lebih berat daripada gunung. Adalah mudah untuk sekedar bersemangat mewujudkannya, tetapi berproses mewujudkannya lebih pahit daripada empedu. Tapi itulah tujuan kita dalam mendidik anak. Sebuah tujuan yang mulia, besar, dan jauh lebih besar daripada tujuan sistem pendidikan secara umum.

Semua sistem pendidikan di dunia, baik Timur maupun Barat, memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menyiapkan anak bangsa yang berkualitas, namun masing-masing berbeda dalam hal kemasan dan warnanya. Bisa jadi, si anak bangsa yang dimaksud adalah orang yang mengagungkan kerja dan produktivitas. Mungkin juga ia adalah orang yang fanatik terhadap bangsanya sendiri sehingga memandang rendah bangsa lain. Dan sebagainya, yang mana ukuran kualitasnya sangat berbeda satu sama lain tergantung selera para pendidiknya.  Sedangkan Islam sejak awal hingga akhir berusaha mencapai tujuan yang jauh lebih luhur, lebih besar, dan lebih sempurna, yakni menyiapkan insan yang shalih.

Shalih dan Mushlih

Pendidikan Islam mempunyai tujuan tidak hanya untuk menyiapkan insan yang shalih, melainkan juga  “insan yang mushlih”, yang bisa menduplikasi keshalihannya kepada generasi selanjutnya. Seorang muslim bukanlah orang statis yang mungkin saja shalih secara pribadi, menghunuskan pedangnya ke wajah setan, akan tetapi mengisolasi dirinya sendiri, tidak aktif berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakatnya dalam rangka melakukan perubahan yang diperlukan.

Namun seorang muslim adalah insan yang shalih sekaligus mushlih. Insan yang sepanjang hidupnya menghamba kepada Allah dalam arti yang sebenarnya, yaitu akhlaknya mencerminkan kalimat laa ilaha illallah. Insan yang seimbang, baik sebagai makhluk individual maupun sosial, sekaligus manusia yang bersama orang lain membentuk suatu masyarakat yang tiap anggotanya adalah pribadi-pribadi yang memiliki keberadaan hakiki sekaligus saling mengandalkan satu sama lain.

Untuk itu Perlu Sarana!

Mendidik anak berarti menyiapkan bekal hidupnya agar ia mampu menjalani kehidupannya masa kini dengan tenang sekaligus mampu mempersiapkan masa depannya. Kehidupan adalah suatu realita yang bisa saja dipenuhi aneka masalah, yang semuanya harus dihadapi supaya masalah tidak menumpuk sehingga menjadi tidak sanggup dipikulnya.

Untuk menyiapkan anak-anak kita, sarana yang menunjang haruslah dimiliki oleh orang tua sebagai pendidik anak. Dalam mendidik anak untuk mempersiapannya sebagai generasi yang shalih sekaligus mushlih, haruslah memadukan keikhlasan dalam mendidik dengan praktek pendidikan yang benar, sehingga akan membuahkan hasil di dunia sekaligus diterima Allah Ta’ala.

Ilmu. Cinta saja tidak cukup, perlu ilmu untuk mendidik anak-anak kita. Dengan ilmu yang benar, kita dapat mengetahui tujuan pendidikan yang hakiki, sarana yang diperlukan, lingkungan sekitar anak-anak, serta sisi psikologis dan mental anak-anak. Dengan demikian, ilmu dan pengetahuan untuk mendidik anak tetap merupakan hal yang sangat penting.

Keteladanan. Anak-anak belajar dengan meniru, maka jika orang tua mengamalkan ilmunya pastilah anak akan mengambil manfaatnya. Dari sini diperlukan keteladanan, sesuai perkataan dengan perbuatan. Masalah terbesar yang dihadapi orang tua dalam mendidik anak-anak mereka adalah jarak-jarak yang memisahkan antara ucapan orang tua dengan perbuatannya. Maka dari itu, menjadi kewajiban orang tua agar mengawasi perilakunya secara ketat. Ingatlah, bahwa anak yang hidup bersama orang tua yang komit pasti akan menjadi orang yang komit.

Dua hal diatas merupakan sarana yang utama dalam mempersiapkan anak-anak menjadi generasi yang shalih sekaligus mushlih. Mengusahakan tersedianya 2 sarana diatas tentu tidak mudah, sama tidak mudahnya anak-anak kita menjalani kehidupannya hari ini. Jadi bisa dikatakan, menjadi orang tua hari ini adalah sulit, sama sulitnya menjadi anak-anak hari ini.

 

***************

Pustaka Al-Atsar

Al Khobar, 25 Dzul Hijjah 1433

Diringkas dari Pengantar Penulis “Sentuhan Jiwa untuk Anak Kita” Dr. Muhammad Muhammad Badri