Bayangkan saat ini Anda sedang perlu dioperasi. Menjelang dioperasi, si dokter berbisik kepada Anda, “Harap Anda ketahui, saya ini bukan dokter bedah, bahkan sama sekali bukan dokter. Tetapi Anda tidak usah khawatir, karena saya sangat mencintai pasien-pasien saya dan sangat tulus mengharapkan semua pasien saya sembuh”.

Apakah Anda akan membiarkan orang ini membedah tubuh Anda dengan pisaunya? Tentu saja tidak! Sebab orang tersebut tidak memiliki “ilmu/pengetahuan” yang diperlukan untuk menggapai harapannya yang tulus agar Anda sembuh.

Demikian juga dalam mendidik anak-anak kita. Tidak diragukan lagi kalau setiap orang tua pastilah mencintai anak-anaknya dengan tulus. Bahkan cinta anak kepada orang tua tidak akan bisa menyamai cinta orang tua kepada anak-anaknya. Hanya cinta Allah Ta’ala kepada hambaNya yang melebih cinta seorang ibu kepada anaknya.

Cinta memang suatu keniscayaan dalam mendidik anak, akan tetapi ia harus berarti kemampuan mengasuh. Jika tidak, cinta semata tidak akan memadai untuk mencapai perilaku baik yang kita inginkan bagi putra-putri kita.

Rasa cinta, kasih, dan sayang tergolong hal mendasar dan inti dalam pendidikan, bahkan dalam segala aspek kehidupan, namun Ilmu dan Pengetahuan tetap merupakan hal yang teramat penting.

Kegagalan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka bukan dikarenakan tidak adanya cinta, tapi lebih pada tidak memiliki ilmu yang memadai.

Kebutuhan putra-putri kita akan sosok ayah dan ibu yang “terlatih” sama besar dengan kebutuhan mereka akan sosok ayah dan ibu yang “penyayang”.

**************************************

Pustaka Al-Atsar

Al-Khobar, 26 Dzul Hijjah 1433

Pelajaran dari “Sentuhan Jiwa untuk Anak Kita” karya Dr. Muhammad M. Badri