Kelihatannya hanya soal makan. Tapi ternyata masih banyak yang “lupa” bagaimana cara makan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan demikianlah diantara bukti kesempurnaan Islam, bahkan soal makan pun ada petunjuknya, yang mana tentu saja petunjuk dalam makan-minum ini akan membawa kemaslahatan bagi yang mengamalkannya.

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

“Wahai Ghulam, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Diantara faedah dari hadits diatas adalah: 

1. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengawali tegurannya dengan panggilan sayang kepada seorang anak “Ya Ghulam”, yang kalau dalam bahasa kita seperti “Nak”, “wahai anakku”, yaitu sebuah panggilan yang menunjukkan kedekatan, rasa sayang, sehingga anak tersebut merasa bahwa yang sedang menegurnya adalah seorang yang menyayanginya.

2. Inti dari kesalahan Umar bin Abi Salamah adalah mengambil lauk pauk yang bukan di depannya. Bisa jadi dia mengambil makanan yang ada di depan orang lain. Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak langsung menegur pada inti permasalahan melainkan mengkondisikan si anak dengan perkara-perkara lainnya yang mudah diterima, yaitu menyebut Nama Allah sebelum makan dan makan dengan tangan kanan, baru kemudian mengajarkan diantara adab makan yaitu mengambil makanan yang dekat dengannya.

3. Dengan pengajaran yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, niscaya akan akan membekas pada pribadi anak sebagaimana yang dialami Umar bin Abi Salamah.

4. Menunjukkan petunjuk sunnah dalam hal makan, yaitu menyebut Nama Allah (Bismillah). Dengan menyebut nama Allah, kita mengakui bahwa rizki yang kita makan adalah semata-mata dari Allah, bersyukur kepadaNya. Dengan membaca Bismillah kita memohon pertolongan Allah melalui Nama-namaNya yang Indah, agar rizki yang kita makan menjadi berkah dan menghasilkan energi untuk melakukan aktifitas yang diridhoi Allah.

5. Diantara petunjuk sunnah ketika makan adalah makan dengan tangan kanan. Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat,

« إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».

“Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim no. 2020, Bab Adab Makan-Minum dan Hukumnya)

Betapa hari ini banyak yang “lupa” makan dan minum dengan tangan kanan. Maka sudah seharusnya setiap muslim mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang mengajarkan hingga soal makan dan minum, mengajarkannya kepada keluarganya, dan janganlah ada dalam hati kesombongan untuk menyelesihi petunjuknya, yang bisa jadi akan tertimpa fitnah (musibah/adzab baik di dunia maupun akhirat).

Dalam kitab yang sama disebutkan riwayat lainnya,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021)

****************************

Pustaka Al-Atsar

Al-Khobar, 4 Muharram 1434H