Sebuah refleksi sifat-sifat Allah, yang merupakan buah dari Iman kepada sifat-sifatNya, yang Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah telah diberi taufik untuk menuliskan faedahnya.

Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah). Di dalamnya, Allah tampak melalui sifat-sifatNya. Di dalam beberapa ayat, Allah tampak bagi hamba-hambaNya dalam balutan sifat kehormatan, keagungan, dan kemuliaan.Melaui sifat-sifat itu, kepadal hamba akan tunduk, jiwanya luluh, lidahnya tidak sanggup berkata-kata, dan semua kesombongannya sirna layaknya garam yang larut dalam air.

Sementara, di dalam beberapa ayat lainnya, Allah tampak di hadapan hamba dalam sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan, yaitu kesempurnaan seluruh asma, keindahan semua sifat, dan keindahan segala perbuatanNya yang menunjukkan kesempurnaan DzatNya. Kecintaan seorang hamba kepada Allah akan menggantikan semua kekuatan cintanya kepada selainNya. Semakin dalam seorang hamba mengenal keindahan dan kesempurnaan sifat-sifat Allah, maka semakin besar pula kekuatan cintanya kepadaNya; dan seiring dengan itu, hatinya hanya dipenuhi oleh rasa cinta kepadaNya. Apabila ada cinta lain yang menghampiri dan hendak berbagi dengan cintanya kepada Allah, niscaya hati dan segala isinya akan menolak dengan sekuat-kuatnya.

Di dalam ayat lainnya, Allah tampak bagi hamba-hambaNya dalam sifat kasih, kebajikan, kelembutan, dan kebaikan. Dengan meyakini sifat ini, akan bangkitlah harapan si hamba, terbentanglah impiannya, dan bertambahlah keinginannya kepada Allah. Dengan itu semua, ia berjalan menuju Rabbnya dengan penuh harapan. Setiap kali harapan itu menguat, hamba tersebut semakin giat dalam beramal shalih.

Apabila Allah tampak melalui firmanNya dengan sifat adil dan dendamNya, atau dengan sifat murka, benci dan pembalasanNya, maka terkekanglah nafsu amarah hamba tadi, melemahlah syahwat dan emosinya, hilanglah senda gurau dan sikap main-main, serta keinginannya untuk berbuat sesuatu yang diharamkan. Terkendali pula segala gerak-geriknya, datanglah rasa takutnya, dan meningkatlah kewaspadaannya terhadap perbuatan maksiat.

Jika Allah tampak di dalam firmanNya dengan sifat sebagai pemberi perintah dan larangan, janji dan wasiat, yang mengutus para Rasul, yang menurunkan Kitab-kitab suci, dan menetapkan syari’at, maka timbullah kekuatan dalam diri hamba tersebut untuk melaksanakan perintahNya, mendakwahkan perintah tersebut, saling mengingatkan antar sesama, selalu mengingat-ingat perintah itu, membenarkan kabar dariNya, serta melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya.

Apabila Allah tampat dengan sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat, muncullah rasa malu yang sangat besar pada diri hamba itu. Ia malu jika Allah melihatnya dalam keadaan yang dibenciNya, atau mendengar darinya berita yang dibenciNya, atau menyembunyikan dalam hatinya sesuatu yang dibenciNya, atau membuatNya murka kepadanya. Dengan rasa malu itu, hamba tersebut selalu mengukur semua perbuatan, pembicaraan, dan isi hatinya dengan barometer syari’at; dan tidak membiarkan perbuatannya mengalir bebas begitu saja menuruti kehendak naluri dan hawa nafsunya.

Jika Allah tampak melalui firmanNya dengan sifat maha mencukupi para hambaNya, maha mengurusi mereka, membagi-bagi rizki mereka, mencegah musibah dari mereka, membela para kekasihNya, melindungi mereka, serta menyertai mereka secara khusus, maka timbul pada diri hamba tersebut kekutan untuk bertawakal kepadaNya, berserah diri kepadaNya, serta ridho kepadaNya atas segala yang ditetapkan bagi dirinya. 

Apabila Allah tampak melalui firmanNya dengan sifat kemuliaan dan kebesaranNya, maka jiwa yang tenang di dalam diri hamba tersebut akan merasa hina dan tidak berdaya di hadapan keagunganNYa, tunduk di hadapan kebesaranNya, sehingga hati dan seluruh anggota badannya menjadi khusyu’. Ketentraman dan ketenangan semakin menyelubungi hati, lidah, anggota badan, dan penampilannya. Hingga kemudian, hilanglah keangkuhan, kesombongan, dan kekerasan hatinya.

 

*******************************************************************

Diringkas dari Al-Fawaaid (Ibnul Qayyim al-Jauziyah) oleh Pustaka Al-Atsar

Al-Khobar, 5 Muharram 1434H