ConfusingKata-kata “Sunnah” memang sudah tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Seringkali disampaikan oleh para ustadz, khatib, guru, dan bahkan sering diucapkan oleh kebanyakan muslim. Tapi siapa sangka, ternyata kata “Sunnah” sering dipahami dengan maksud lain. Bisa saja dilakukan semacam survey singkat, informal, dengan menanyakan kepada kaum muslimin secara tentang yang mereka pahami sebagai “Sunnah”. Hampir bisa dipastikan, jawaban yang paling banyak adalah memaknai kata “Sunnah” dengan definisi “suatu amalan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa”.

Apakah itu salah? Tidak, sama sekali tidak. Namun perlu diketahui, definisi itu adalah definisi “Sunnah” dalam konteks tingkatan hukum Islam. Definisi “Sunnah” ini disebutkan oleh para ahli Fikih ketika membahas Hukum Taklifiyyah (yaitu hukum beban syariat), sebagaimana dikenal ada Lima tingkatan: Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, dan Mubah. Dimana “Sunnah” (disebut juga Mandub, Mustahabb, Nafilah, Masun) didefinisikan sebagai “Sesuatu yang diperintahkan oleh Syar’i tetapi tidak secara ilzam (wajib)“, dan “Sesuatu yang mandub (sunnah) itu pelakunya mendapat pahala jika didasari karena melaksanakan perintah, dan yang meninggalkannya tidak mendapat hukuman“. [Al-Ushul min ilmil Ushul].

Ketika ada sebuah ungkapan “Kita harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah”, atau dari salah satu sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam “Ikutilah sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-rasyidin”, apakah tepat jika kata “sunnah” ini dibawa kepada makna hukum fikih sebagaimana disebutkan sebelumnya? Tentu tidak. Maka dalam konteks ini, makna “Sunnah” yang dimaksud adalah “Sunnah” menurut istilah syari’at, yaitu “segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan/persetujuan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam”. [Qawaa’idut Tahdits (hal. 62), Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, cited in almanhaj.or.id]. Contoh sunnah yang berbentuk ucapan beliau shallallahu’alaihi wasallam seperti dalam hadits “sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya” [HR. Bukhari no.1]. Contoh sunnah yang berupa perbuatan beliau seperti pada hadits “Adalah Rasulullah apabila tiba dari safar beliau mendatangi masjid dan shalat dua raka’at” [HR. Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769, cited in Bekal Safar menurut Sunnah Nabi]. Sunnah dalam bentuk taqrir (penetapan atau persetujuan beliau terhadap perbuatan sahabat), seperti dalam hadits “Nabi Shalkallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal setelah selesai shalat Shubuh, ‘Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku sebaik-baik amalan yang telah engkau kerjakan dalam Islam, karena aku telah mendengar suara terompahmu di dekatku di Surga?’ Ia menjawab, ‘Sebaik-baik amal yang aku kerjakan ialah, bahwa setiap kali aku berwudhu’ siang atau malam mesti dengan wudhu’ itu aku shalat (sunnah) beberapa raka’at yang dapat aku laksanakan’” [HR. Al-Bukhari no. 1149 dan Muslim no. 2458 cited in almannhaj.or.id] yang menunjukkan persetujuan beliau shallallahu’alaihi wasallam terhadap perbuatan Bilal yang senantiasa menjaga wudhu dan senantiasa shalat sunnah sesudah berwudhu.

Sedangkan “Sunat” yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah “khitan”, yang dalam bahasa Indonesia disebut Sunat, yaitu memotong kulit yang menutupi kepala zakar bagi laki-laki, atau memotong daging yang menonjol di atas vagina, disebut juga dengan klitoris bagi wanita [Tharhut Tatsrib, Iraqi (2/75), Fathul Bari, Ibnu Hajar (10/340) cited in almanhaj.or.id]. Maksud dibawakannya kata ini adalah adanya kemiripan kata itu sendiri. Terlebih lagi, kata Sunnah itu sendiri sering dilafadzkan dengan bunyi “sunat”, sebagaimana yang sering didengar “Shalat Sunat”, padahal yang dimaksud tidak lain adalah Shalat Sunnah (yang hukumnya tidak wajib). Tapi kata “Sunat” yang bermakna “Khitan” ini memang merupakan salah satu “Sunnah Nabi”, yang dimulai dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kemudian berlanjut bagi semua Rasul dan pengikut mereka. Lebih-lebih Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan bahwa khitan termasuk sunnah fitrah, sebagaimana dalam hadits: “Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis” [HR Muslim dalam Minhaj (1/541) dan Bukhari dalam Fathul Bari (10/334) cited in almanhaj.or.id].

Dengan demikian, ketika mendengar kata-kata sunnah, hendaknya dilihat konteks pembicaraan. Apakah sedang membicarakan jalan hidup atau tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam atau sedang membicarakan tingkatan hukum dari sebuah amalan. Dan hendaknya kita senantiasa berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, baik itu yang Wajib maupun yang Sunnah. Wallahu a’lam.

 

—————-

Kuala Belait, 4 Safar 1435 AH, bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2013 jam 22:56

[ketiga kata ini pernah ditanyakan seorang sahabat beberapa tahun yang lalu, dan beberapa kali dilakukan ‘survey’ spontan dan singkat terhadap pemahaman makna kata ‘Sunnah’]