Jangan Salah Pilih Teman

Menjelang hari Jum’at yang barokah, dimana disunnahkah bagi kita untuk membaca surat Al-Kahfi, berikut salah satu ayat di surat yang mulia tersebut, ayat 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.
Diantara faedah dari ayat diatas sebagai berikut:
  1. Kewajiban bersabar dalam bermuamalah, dimana hal ini termasuk kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, yang merupakan kesabaran yang tertinggi diantara tiga jenis kesabaran (bersabar dalam ketaatan kepada Allah; bersabar dalam menahan diri dari yang diharamkan Allah; bersabar dari Takdir Allah). Karena kesempurnaan kesabaraan dalam ketaatan akan membantu kesempurnaan kesabaran dalam selainnya. Kesabaran jenis ini (dalam ketaatan kepada Allah) membutuhkan usaha yang keras.
  2. Bergaul dengan orang-orang yang sholeh mungkin akan dijumpai hal-hal yang tidak sesuai dengan selera kita, karena mereka bermuamalah berdasarkan level kesholehan mereka sedangkan kita bermuamalah sesuai dengan level kita. Maka kita bersabar untuk berusaha menyesuaikan dengan kesholehan mereka.
  3. Ayat ini juga mengandung jenis kesabaran dalam meninggalkan sesuatu yang diharamkan Allah. Dimana orang sholeh pun pasti mempunyai kekurangan, maka bersabarlah dalam begaul dengannya.
  4. Persaudaraan diatas agama lebih kokoh dibandingkan persaudaraan diatas nasab, karena persaudaraan diatas nasab akan terputus jika beda agama, sedangkan persaudaraan diatas agama tidak akan putus sekalipun beda nasab.
  5. Barangsiapa yang mencari saudara yang tidak ada aibnya, maka selama-lamanya dia tidak akan mempunyai saudara.
  6. Kesabaran terhadap orang sholeh dengan cara sabar dalam menyamai kesholehan mereka, dan sabar dalam menyikapi kekurangan mereka.
  7. Jika bergaul dengan orang Sholeh harus sabar, maka bergaul dengan orang awam harus lebih sabar.
  8. Anjuran untuk beribadah, berdzikir, di pagi dan petang. Dua waktu ini senantiasa disebutkan dengan anjuran berdzikir padanya. Makna dzikir: 1) dzikir secara umum-dengan hati dan lisan; 2) dzikir dengan membaca Al-Qur’an. Orang yang hanya dzikir lisan saja masih belum sempurna, akan tetapi masih dalam kebaikan karena minimal lisannya selamat dari sesuatu yang sia-sia.
  9. Penetapan Wajah Allah Ta’ala.
  10. Menurut Syaikh Utsaimin: تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا — merupakan isyarat, bahwa jika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berpaling dari mereka karena alasan agama, maka tidak termasuk dalam larangan pada ayat ini. Jadi dalam hal ini tidak mutlak dilarang berpaling dari orang-orang dhuafa jika  yang menjadi pertimbangan adalah maslahat agama.

Ilmu agama akan meningkatkan kepekaan kita dalam beribadah dan bermuamalah, karena ilmu agama adalah cahaya yang dengannya menjadi terang segala sesuatu. Dan solusi dari mempunyai ilmu agama yang mendalam adalah dengan terus menerus mempelajari ilmu agama. Kita akan bisa menikmati sesuatu jika tahu ilmunya.

Artikel Pustaka Al-Atsar 

Catatan dari kajian Ustadz Abu Yaman