Dalam sebuah dialog, seorang teman bertanya kepada atasannya, “Apa Visi-mu?”

Sang atasan pun menjawab, “Aku ingin menjadi Pemimpin dalam Bisnis”

Mempunyai Visi adalah suatu hal yang benar. Karena dengan mempunyai Visi, berarti seseorang telah mempunyai gambaran terhadap sesuatu yang ingin dicapai di masa yang akan datang, bahkan jauh ke depan. Dialog diatas mengingatkan kembali akan Visi seorang Muslim dalah hal kepemimpinan. Dimana dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dan dipertanggungjawabkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

Sehingga tidaklah mengherankan, tatkala Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu mendengar pengangkatan beliau sebagai Khalifah, beliau menganggapnya sebagai musibah, sambil berkata “inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” (Tarikh ath-Thabari).

Akan tetapi, Allah Ta’ala sebagai Rabb telah men-tarbiyah hamba-Nya melalui sebuah do’a yang membimbing hamba-Nya kepada permintaan yang lebih tepat dalam hal kepemimpinan, demi keselamatan hamba-Nya.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al Furqaan: 74)

Jadikanlah kami imam/pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” adalah Visi seorang Muslim dalam kepemimpinan. Bahwa seorang Muslim mengharapkan agar bisa menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang senantiasa berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena seorang Muslim yang menyadari betapa beratnya kepemimpinan, betapa besar tanggung jawab yang harus dipikulnya, ketakwaan orang-orang yang dipimpinnya akan membantu meringankan beban yang harus dipertanggungjawabkannya kelak.

Maka milikilah Visi dalam kepemimpinan sebagaimana Allah Ta’ala telah mengajarkan kepada kita.

Kuala Belait, 4 Rabi’ul Awwal 1437