Cara Benar Dakwah Tauhid

Leave a comment

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Kami sering mendapatkan pertanyaan yang membuat bingung sejumlah dai. Ada seorang yang tiba di sebuah negeri muslim akan tetapi kemusyrikan tersebar di negeri tersebut semisal orang yang melakukan kemusyrikan di dekat kubur dengan berdoa dan meminta bantuan kepada orang yang sudah mati. Dalam kasus ini timbul pertanyaan apakah cara dakwah yang tepat adalah mendakwahi mereka untuk mengerjakan shalat dengan baik dan membuat hati mereka untuk lapang dada menerima dakwah kemudian baru di kemudian hari baru ada penjelasan tentang kemusyrikan yang mereka lakukan dan mengajak mereka kepada tauhid yang benar ataukah langsung mendakwahi mereka kepada tauhid dengan menyampaikan bahwa meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati adalah kemusyrikan?

Jawabannya, sikap yang lebih baik adalah mendakwahi mereka untuk melakukan hal hal yang disepakati semua pihak sebagai suatu hal yang diperintahkan sehingga jiwa dan hati mereka mantap dan tenang menerima dakwah yang kita sampaikan. Hal ini kita lakukan sebagai batu loncatan untuk mendakwahkan tauhid dan tidak berhenti di situ saja. Dengan demikian kita menjadi orang yang ‘cerdas’ mendakwahkan Islam kepada masyarakat”

[Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin jilid 27 hal 67, cet pertama 1430 H terbitan Dar Tsuraya Riyadh].

reposting dari: ustadzaris.com

Bersabar dalam Bergaul

Leave a comment

Dalam pergaulan dengan manusia tidak akan lepas dari 2 kemungkinan, apakah mewarnai atau diwarnai. Mewarnai maksudnya memberikan pengaruh, sedangkan diwarnai maksudnya terpengaruh. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberikan perumpamaan yang sangat baik, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang pergaulan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Demikian juga beliau shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa keadaan agama seseorang itu dapat dilihat dari keadaan agama teman dekatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Demikian itu menunjukkan betapa pentingnya dalam memilih teman bergaul.

Setelah memahami rambu-rambu dalam pergaulan dan segala kemungkinan yang akan terjadi, akankah kita tetap bergaul dengan manusia atau lebih baik hidup menyendiri jauh dari manusia yang kebanyakan melakukan perbuatan yang melampaui batas? Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perangai buruk mereka lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan perangai buruk mereka.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Albani). More

Pembicaraan yang Bermutu dalam Rumah Tangga

Leave a comment

Orang tua pasti menginginkan manfaat untuk anak-anaknya. Para orang tua bekerja keras, membanting tulang, berpeluh dan berdarah demi memberikan manfaat dan membahagiakan buah hatinya. Demikian pula seorang anak yang baik pasti ingin memberikan manfaat untuk orang tuanya, kelak ingin membalas jasa orang tua ketika sudah mempunyai kemampuan untuk membalasnya.

Akan tetapi waktu untuk melakukan itu semua sangat terbatas, sebatas kehidupan yang diberikan Allah Rabb semesta Alam kepada makhlukNya. Bahkan tidak jarang, segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan ataupun diharapkan. Tak jarang orang tua kecewa atas balasan yang diterima dari anaknya setelah segala upaya dikerahkan untuk memberikan manfaat kepada anaknya. Tidak sedikit juga orang tua yang membiarkan anak-anaknya terlantar di dunia ini.

Namun itu semua belum seberapa. Ada yang lebih patut mendapat perhatian daripada sekedar akibat di dunia yang hanya sementara ini. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memperingatkan akan datangnya suatu hari, dimana antara orang tua dan anaknya tidak akan lagi dapat saling memberi manfaat, tidak dapat lagi saling menolong, yaitu suatu hari dimana setiap makhluk harus berdiri sendiri dihadapan Rabbnya. More

Memahami Arti Jihad

Leave a comment

Tidak diragukan lagi bahwa jihad adalah amal kebaikan yang Allah syari’atkan dan menjadi sebab kokoh dan kemuliaan umat islam. Sebaliknya (mendapatkan kehinaan) bila umat Islam meninggalkan jihad di jalan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shohih [1],

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud) More

Adil dan Pertengahan

1 Comment

Inshaf (adil dan pertengahan) terhadap orang yang menyelisihi kebenaran merupakan manhaj ahli sunnah wal jamaah. Al-Quran dan As-sunnah menjelaskan bahwa sikap inshaf adalah akhlak mulia yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Adab-adab yang terkait dengannya, sangat penting untuk diperhatikan agar seorang muslim tidak terjatuh kepada perbuatan aniaya dan zalim, yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Berikut ini adalah diantara adab-adab yang mesti diperhatikan itu:

1. Obyektif dan berusaha untuk tidak berlebihan ketika berbicara atas orang-orang yang menyelisihi.

Sering kali maksud dalam berbicara atas orang lain yang dianggap melakukan pelanggaran menjadi samar dan bias. Terkadang ada maksud ingin dikenal, dendam, membela diri, atau membela kelompoknya. Ibnu Taimiyyah memperingatkan orang-orang yang membantah ahli bid’ah dari bias-nya maksud dan niat, “… dan begitu juga bagi orang yang membantah ahli bid’ah baik dari kalangan rafidhah atau yang lainnya, ketika mencela bid’ah atau kemaksiatan dengan sangat keras, tujuannya adalah menjelaskan keburukan itu, agar manusia berhati-hati darinya, sebagaimana yang terdapat dalam nashush (teks-teks) syar’i yang berupa ancaman. Terkadang seseorang dihajr (boikot) dalam rangka menghukumnya, dan maksud semua itu adalah untuk membuatnya dan orang-orang yang semisalnya jera, sebagai bentuk kasih sayang dan kebaikan, bukan balas dendam”. Ibnul Qayyim juga memperingatkan, “Setiap kelompok akan menilai kelompok dan perkataannya dengan lafadz-lafadz yang paling baik, sementara menilai perkataan orang-orang yang bersebrangan dengannya dengan lafadz-lafadz yang paling buruk. Namun bagi orang yang dikaruniai bashirah oleh Allah, maka ia akan mampu menyingkap apa yang ada dibalik lafadz-lafadz itu dari kebenaran atau kebatilan. Maka, jangan tertipu dengan sekedar lafadz sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair: More

eh, Mas…Mas…itu Shalat apa?

1 Comment

Dalam salah satu perjalanan safarku, aku menginap di sebuah hotel dan ada sebuah masjid kecil yang berjarak kurang dari 100 meter dari hotel.  Pada suatu fajar, ketika aku sampai di masjid itu, rupanya muadzin sedang mengumandangkan iqomah, maka aku segera bergabung dengan jamaah. Waktu itu aku belum shalat sunnah Qabliyah Subuh di kamar hotel, karena memang biasanya aku lakukan di masjid mengingat di sini tidak ada standar jarak yang baku antara adzan dan iqomah. Berbeda dengan tempat aku muqim dimana antara adzan dan iqomah untuk shalat Subuh 25 menit, jadi aku bisa shalat Qabliyah di rumah.

Aku tidak ingin kehilangan 2 rakaat yang sangat dianjurkan ini (muakad), sebagaimana hadits ‘Aisyah berikut ini:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dua rakaat fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” [HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Rak’atai Sunnah al-Fajr wa al-Hatsu ‘alaihima wa Takhfifuhuma ‘alaihima wa Bayan Ma Yustahab ‘an Yaqra’a fihima, no. 725]

Dan terlebih lagi, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun tidak pernah meninggalkannya baik di kala muqim maupun safar, sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad, “Di antara contoh petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safarnya adalah mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat fardhu, dan tidak diketahui bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudahnya (shalat fardhu), kecuali shalat witir dan sunnah rawatib Subuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan keduanya pada keadaan mukim ataupun bepergian.” [Zad al-Ma’ad: 1/456]

Maku aku pun sudah berniat untuk meng-Qadha (mengganti) nya setelah menyelesaikan shalat Subuh berjamaah. Aku sempat khawatir kalau-kalau hal itu menimbulkan ‘kontroversi’ pada jamaah, mengingat praktek seperti itu belum umum di sini, meskipun ilmu tentang itu sudah dimaklumi di tempat aku bermuqim (Oman). Praktek qadha Qabliyah Subuh itu adalah shahih berdasarkan riwayat berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang belum mengerjakan dua rakaat (shalat, ed.) sebelum subuh, hendaklah dia kerjakan setelah matahari terbit.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Dari Qais bin Qahd radhiallahu ‘anhu, bahwa dia pernah shalat shubuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia belum sempat mengerjakan shalat qabliyah. Tepat setelah shalat subuh berjamaah selesai, Qais langsung berdiri dan mengerjakan dua rakaat shalat qabliyah subuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan tidak mengingkarinya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Thabrani; dan dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)

Dan benar saja, ketika aku baru saja mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, 2 orang (Imam dan Muadzin) berusaha menghentikan shalatku, “eh, Mas…Mas…itu Shalat apa?”, sambil tangan si Muadzin dijulurkan di hadapanku. Ketika aku berusaha mengabaikannya, mereka terus berteriak, hingga akhirnya aku batalkan shalat untuk menjelaskan kepada mereka. Hal ini aku lakukan karena membatalkan shalat sunnah itu hukumnya boleh, apalagi demi sebuah maslahat.  Lalu aku jelaskan kalau aku shalat Qabliyah Subuh sebagai Qadha. Alhamdulillah, ada salah seorang jamaah setempat yang mengetahui ilmu ini sehingga membantu menjelaskan kepada Imam. Dan aku pun bisa melanjutkan shalatku.

Sekali lagi, ilmu sangat diperlukan sebelum beramal. Ilmu juga diperlukan sebelum melakukan amar ma’rif nahi munkar. Aku bisa saja meng-Qadha nya setelah matahari terbit, namun saat itu aku juga berniat ingin menunjukkan adanya sunnah ini kepada jamaah. Dengan adanya sedikit dialog (meski sempat mengganggu shalatku), mudah-mudahan hal itu dilanjutkan dengan ditanyakannya kepada orang yang dianggap berilmu oleh jamaah setempat (yang aku ketahui, salah seorang imam Shalat Subuh adalah seorang orang tua yang kelihatannya paham dengan sunnah, sayangnya waktu itu bukan beliau yang menjadi imam).

Aku menduga, mungkin Iman dan Muadzin mengingkari perbuatanku karena mereka mengetahui adanya riwayat dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang menyebutkan waktu-waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)

Memang benar adanya larangan shalat pada waktu-waktu yang telah disebutkan dalam sunnah mengenai pelarangannya, namun larangan ini tidak berlaku untuk praktek qadha Qabliyah subuh, karena telah ada sunnah yang secara khusus menunjukkan praktek tersebut, sehingga khususnya pembolehan itu mengeluarkannya dari keumuman pelarangan. Wallahu a’lam.

———————————————————————————

Pengalaman saat safar di Solo, dan tulisan ini diselesaikan di Jogja

Debat Ibnu ‘Abbas dengan Khawarij

Leave a comment

أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هيي أحسن. إن ربك هو إعلم بمن ضل عن سبيله, وهو أعلم بالمهتدين

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” [An-Nahl: 125]

Dialog antara Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan kaum Khawarij adalah sebuah gambaran praktek dakwah oleh seorang yang mendalam ilmunya serta indah akhlaknya. Banyak hikmah dan faedah yang bisa diambil dari momen yang sangat berharga ini. Ibnul Jauzi membawakan kisah ini dalam kitabnya Talbis Iblis.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali radhiyallahu ‘anhu, berkumpul di satu daerah untuk keluar dari ketaatan (memberontak) kepada khalifah. Mereka ketika itu berjumlah enam ribu orang.

Semenjak Khawarij berkumpul, tidaklah ada seorang yang mengunjungi Ali radhiyallahu ‘anhu melainkan dia berkata –mengingatkan beliau–: “Wahai Amirul Mukminin, mereka kaum Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”

Beliau menjawab: “Biarkan mereka, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan sungguh mereka akan melakukannya.”

Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk waktu dhuhur aku menjumpai Ali radhiyallahu ‘anhu. Aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dhuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Ibnu Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu!”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yang berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.” Maka Ali radhiyallahu ‘anhu mengizinkanku.

“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sungguh aku dapati diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bagaikan lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pusat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku: “Marhaban, wahai Ibnu ‘Abbas. Apa gerangan yang membawamu kemari?”

Aku berkata: “Sungguh aku datang pada kalian dari sisi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, juga dari sisi menantu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Qur’an daripada kalian.”

Pelajaran yang bisa diambil dari perkataan Ibnu ‘Abbas diantaranya:

  1. Sebelum memulai perdebatan, beliau mengingatkan bahwa beliau mewakili kaum yang Allah telah ridho padanya dan mereka pun ridho kepada Allah (lihat surat At Taubah ayat 100)
  2. Beliau mengingatkan akan besarnya kedudukan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang selain sebagai sahabat juga menjadi menantu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
  3. Beliau mengingatkan bahwa sahabat dari Muhajirin dan Anshar adalah kaum yang menyaksikan turunnya Al-Qur’an sehingga merekalah yang paling mengerti maknanya. Dan penggalan ini juga mengisyaratkan bahwa seharusnya cara beragama yang benar adalah dengan mengembalikan kepada pemahaman para Sahabat radhiyallahu’anhum karena mereka adalah kaum yang paling mengerti tafsir dan praktek dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Muqadimah ini seakan-akan sebagai “gertakan” kepada lawan debat (Khawarij) bahwa kebenaran ada pada sisi pendebat (Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma)

Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup –yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka–, berkatalah sebagian Khawarij memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu). Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58)

Perkataan ini menunjukkan kebodohan mereka dalam menafsirkan Al-Qur’an, sementara Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah mendo’akan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu untuk menjadi orang yang paham terhadap agama serta tafsir “اللهم فقه في الدين و علمه تئويل” Ya Allah, faqihkan dia dalam agama dan ajarkanlah dia ta’wil (tafsir) [HR Bukhari – Muslim]

Berkata dua atau tiga orang dari mereka: “Biarlah kami yang akan mendebatnya!”.

Aku berkata: “Wahai kaum, datangkan untukku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah n beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, Tidak ada pula seorang pun dari sahabat yang bersama kalian, dan ia (Ali radhiyallahu’anhu adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Qur’an?”

Mereka berkata: “Kami punya tiga alasan.”

Aku berkata: “Sebutkan (tiga alasan kalian).”

Mereka berkata: “Pertama: Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala berfirman: إن الحكم إلا لله “…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah...” (Yusuf: 40)

Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah l.[3]

Yang dimaksud mereka adalah ketika Ali radhiyallahu’anhu melakukan tahkim (berhukum) dengan keputusan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu dari pihak beliau dan ‘Amr bin Al-Ash radhiyallahu’anhu dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhuma untuk melakukan shulh (perdamaian), demi menjaga darah-darah muslimin setelah sebelumnya terjadi perang Shiffin di bulan Shafar tahun 37 H.

Aku berkata: “Ini alasan kalian yang pertama. Lalu apa lagi?”

Mereka berkata: “Adapun yang kedua, sesungguhnya dia telah berperang dan membunuh tapi dia tidak mau menawan dan tidak mengambil rampasan perang. Padahal (jika) yang diperangi itu orang kafir, maka boleh menawan dan mengambil harta mereka. Andaikan yang diperangi itu orang-orang mukmin, tentunya tidak halal memerangi mereka.”

Yaitu perang Jamal tahun 36 H. Perang antara barisan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu dan barisan Aisyah radhiyallahu’anha. Hal yang harus diketahui tentang perang Jamal, bahwasanya dalam perang tersebut sama sekali Ali bin Abi Thalib maupun Aisyah tidak menginginkan adanya peperangan. Yang terjadi adalah keinginan Aisyah untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) antara dua barisan kaum muslimin. Berangkatlah Aisyah menuju Bashrah bersama Thalhah, Az-Zubair dan sejumlah kaum muslimin dengan tujuan ishlah. Perdamaian pun terjadi di antara kedua belah pihak. Namun para penyulut fitnah tidak tinggal diam dengan ketenangan dan perdamaian yang terwujud. Mereka melakukan makar dengan memunculkan penyerangan dari dua kubu sekaligus. Maka Ali menyangka beliau diserang, sehingga harus membela diri. Demikian pula Aisyah menyangka diserang sehingga harus membela diri, hingga terjadilah peperangan yang sesungguhnya tidak diinginkan. Yang harus diketahui pula, bahwasanya tidak ada seorang sahabat pun yang ikut dalam fitnah tersebut. (Lihat Al-Bidayah wa Nihayah seri Khulafa’ur Rasyidin karya Ibnu Katsir)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Lalu apa alasan kalian yang ketiga?”

Mereka berkata: “Ketiga: Dia telah hapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”

Perkataan mereka ini menunjukkan betapa mereka sangat cepat memberikan vonis kafir dan memberontak kepada pemimpin yang sah dengan pemahamannya sendiri.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Adakah pada kalian alasan selain ini?” Mereka berkata: “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini!”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Ucapan kalian bahwa Ali radhiyallahu’anhu telah menggunakan manusia dalam memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan syubhat kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yang benar)?”

Perhatikan persyaratan yang diajukan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma sebelum menyelesaikan perdebatan, yaitu menentukan tempat kembali jika ternyata yang didebat berada pada kesalahan. Sehingga perdebatan yang dilakukan membawa hasil yang diinginkan, yaitu mengajak kembali kepada Rabb (Surat An-Nahl 125). Maka perdebatan yang baik untuk mengajak/menyeru untuk kembali kepada Rabb ‘Azza wa Jalla adalah debat yang diperintahkan.

Mereka berkata: “Ya, tentu kami akan kembali.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menyerahkan di antara hukum-Nya kepada hukum (keputusan) manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram) Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (Al-Maidah: 95)

Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yang bersengketa, Allah Ta’ala juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (An-Nisa: 35)

Maka demi Allah, jawablah oleh kalian. Apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka lebih pantas untuk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?”

Mereka katakan: “Bahkan inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah pertama?” Mereka berkata: “Ya.”

Ibnu Abbas melanjutkan: “Adapun ucapan kalian bahwa Ali radhiyallahu’anhu telah memerangi tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).

Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita (yakni kafir), kalian sungguh telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalianpun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah Ta’ala berfirman:

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah ini?”

Mereka menjawab: “Ya.”

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata lagi: “Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali radhiyallahu’anhu telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin ‘Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi? Ketika itu Rasulullah n bersabda kepada Ali radhiyallahu’anhu: “Wahai Ali, tulislah perjanjian untuk mereka.” Ali menulis: “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…” Segera orang-orang musyrik berkata: “Demi Allah! Kami tidak tahu kalau engkau rasul Allah. Kalau kami mengakui engkau sebagai rasul Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai Ali tulislah: Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untuk menghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Demi Allah, sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam lebih mulia dari Ali radhiyallahu’anhu. Meskipun demikian, beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Maka kembalilah dua ribu orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”

Sungguh sebuah kisah yang penuh dengan keteladanan dalam mendebat. Tidak ada kata-kata kasar maupun cacian yang keluar dari lisan Ibnu ‘Abbas, padahal yang dihadapi beliau adalah suatu kaum yang merupakan cikal bakal bid’ah, yang darinya muncul cabang-cabang bid’ah yang banyak. Beliau radhiyallahu’anhu tampil dengan penuh percaya diri karena berada diatas kebenaran, mendebat dengan niat yang ikhlas, serta dibarengi dengan ilmu yang mendalam. Maka dari itu, perhatikanlah kisah ini.

Selesai jam 22.21 waktu Muscat, 12 April 2011

Beberapa faedah dicatat dari kajian Ushul Sunnah yang disampaikan Ustadz Abdullah Zaen MA ketika membahas pasal:

“وترك المراء والجدال والخصومات في الدين”

Kisah dialog ini juga terdapat dalam kitab Al-Mustadrak karya Al-Imam Al-Hakim (2/150-152), dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al-Imam Muslim

%d bloggers like this: