Syarah Do’a Pelipur Lara

6 Comments

hujan menghidupkanAda sebuah do’a yang sangat indah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan bahkan beliau sangat menganjurkan agar umatnya mempelajari do’a ini. Do’a ini merupakan do’a “pelipur lara” yang sangat dibutuhkan oleh setiap diri kita.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’aliahi wasallam bersabda: “apabila seorang hamba ditimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia berdo’a:

 اَللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْعَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ وَغًمِّيْ

‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku ada di TanganMu, hukumMu berlaku atasku, TakdirMu adil bagiku. Aku memohon kepadaMu dengan setiap Nama yang Engkau miliki, yang dengannya Engkau namakan diriMu sendiri, atau yang engkau turunkan (nama itu) di dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan (nama itu) kepada seorang dari makhlukMu, atau yang hanya Engkau ketahui sendiri; kiranya Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, pelipur laraku, serta pengusir kecemasan dan keresahanku’

niscaya Allah akan menghilangkan kecemasan dan kesedihannya, kemudian Dia akan menggantikan semua itu dengan kegembiraan”. Kemudian para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkan kami mempelajari (menghafal) kalimat-kalimat tersebut?”. Beliau menjawab, “Ya, hendaknya siapa saja yang mendengarnya mempelajarinya” [Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, al-Hakim, dan yang lainnya, dengan sanad yang shahih]

Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah, menguraikan kalimat-per-kalimat dengan sangat indah sehingga sangat membantu dalam memahami serta menghayati do’a yang indah ini, sebagaimana yang terdapat dalam al-Fawaid: More

Advertisements

Redaksi Do’a yang Sempurna

Leave a comment

Do’a adalah sebuah komunikasi antara hamba dengan Rabbnya. Media dimana seorang hamba memuji Rabbnya, karena hanya Dia yang patut untuk dipuji dengan puji-pujian yang sempurna. Media dimana seorang hamba menyampaikan segala macam keinginannya, karena hanya Dia yang Maha Kaya serta Maha Luas pemberianNya. Bahkan Allah Ta’ala menyuruh hambanya untuk berdo’a kepadanya dan Dia berjanji akan menjawabnya. “Berdo’alah kepadaKu, niscya Aku akan menjawab (do’a)mu”. More

Rahasia Sisipan Ayat Do’a

Leave a comment

Diantara ayat-ayat tentang puasa, yang dimulai dari Surat Al-Baqarah ayat 183, 184, 185, dan 187, Allah Tabaraka wa Ta’ala menyisipkan ayat 186 yang tidak ada hubungannya secara khusus dengan bulan Ramadhan, akan tetapi berkaitan dengan amalan hamba secara umum. Yaitu ketika Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al-Baqarah: 186)

Ayat ini adalah jawaban dari suatu pertanyaan beberapa sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami membisikiNya ataukah Dia jauh sehingga kami menyeruNya?”, kemudian turunlah ayat ‘Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwa Aku adalah dekat‘ karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengawasi, Maha Melihat dan Mengetahui apa yang tersembunyi dan dirahasiakan, Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati dan Dia sangat dekat dari orang yang berdo’a kepadaNya dengan mengabulkannya. Oleh karena itu Dia berfirman ‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu‘. (Tafsir As-Sa’adi). More

Berpaling, maka Dipalingkan

Leave a comment

Bani Israil adalah suatu kaum yang sebenarnya mengetahui kedudukan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai utusan Allah Ta’ala kepada mereka, akan tetapi mereka mendustakan Nabi Musa hingga hal ini membuat beliau heran dengan perbuatan mereka. Maka atas berpalingnya mereka dari kebenaran yang telah diketahuinya, yaitu tentang kedudukan Nabi Musa dan sikap apa yang seharusnya diberikan kepada beliau, maka Allah Ta’ala menghukum mereka dengan memalingkan mereka, menjauhkan mereka dari kebenaran itu sehingga mereka tidak kembali kepada kebenaran selama-lamanya. Dan balasan ini sebagaimana perbuatan mereka sendiri. Mereka berpaling, maka mereka dipalingkan.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (QS. Ash Shaff: 5)

More

Do’a Cinta

Leave a comment

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ 

Ya Allah, aku memohon kepadaMu kecintaanMu, dan kecintaan orang yang mencintaiMu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaanMu. Ya Allah, jadikanlah kecintaanMu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin

Negeri Muslim dan Do’a Safar

Leave a comment

Tinggal di negeri Muslim, bagaimanapun juga tetap lebih mententramkan hati. Negara kufar yang maju dan serba modern mungkin saja menyilaukan mata lahir, tetapi jauh di lubuk hati yang dalam, fitrah yang masih lurus pasti akan merasakan ketidaknyamanan.

Negeri muslim, sekalipun sudah menjadi maju dan hampir seperti negeri “barat”-yang saya maksud adalah beberapa negara di Timur Tengah-tetap saja masih memberikan ketenangan. Di Mall-mall masih terdengar seruan Adzan…yaah…meski pakai rekaman, setidaknya bisa mengingatkan kaum muslimin yang sedang berbelanja untuk segera mendirikan Shalat. Tempat shalat pun tersedia dengan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan Masjid “berserakan” di mana-mana, mulai dari yang kecil sampai yang besar…tinggal pilih dan tinggal diingat-ingat posisinya jadi bisa mampir ketika waktu shalat tiba.

Masih banyak yang bisa disebutkan, tapi dalam tulisan kali ini saya ingin menuliskan do’a ketika safar (bepergian). Do’a ini bisa dijumpai di buku-buku do’a, anak-anak kecil pun sudah banyak yang hafal. Tapi biarlah, saya menuliskannya karena terkesan. Baru di sinilah (Timur Tengah) saya mendengar dibacakan do’a safar ketika semua penumpang sudah naik di atas pesawat. Di negera muslim lainnya, belum tentu do’a ini dibacakan, meski teks do’a disediakan di kantong-kantong kursi (ditambah pula do’a dari berbagai agama/kepercayaan).

Setidaknya ada 2 maskapai penerbangan yang membacakan 2 versi do’a, yang mana salah satunya membacakan do’a khusus untuk naik kendaraan, sedangkan yang satunya lebih umum lagi yaitu do’a safar. Kedua-duanya memiliki bacaan yang sama, sedangkan yang satunya lebih lengkap.

1. Do’a naik kendaraan

بسم الله الحمد لله (سبجن الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون). الحمد لله – الحمدلله – الحمد لله – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر –

سبحا نك إني ظلمت نفسي فاغفرلي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

“Dengan Nama Allah, Segala puji hanya milik Allah (Mahasuci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami-Az Zukhruf 13-14). Segala puji hanya milik Allah-Segala puji hanya milik Allah-Segala puji hanya milik Allah-Allah Maha Besar-Allah Maha Besar-Allah Maha Besar. Mahasuci Engkau, ya Allah. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

2. Do’a Safar/Bepergian

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر (سبحن الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا إلى ربنا لمنقلبون). اللهم إنا نسألك في سفرنا هذا البر والتقوى ومن العمل ما ترضى. اللهم هون علينا سفرنا هذا واطو عنا بعده. اللهم أنت الصاحب في السفر والخليفة في الاهل. اللهم إني أعوذبك من وعثاءالسفر وكاابة المنظر مسوء المنقلب في المال والأهل

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. (Mahasuci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami-Az Zukhruf 13-14). Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepadaMu di dalam perjalanan kami ini amal baik dan ketaqwaan serta amal perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan dekatkanlah kepada kami jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti(ku) yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Di Saudi Arabia, bahkan sang Pilot memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika akan memberikan pengumuman pertama kali dan ketika pesawat mendarat.

Tambahan do’a jika kembali dari safar/perjalanan – tidak dibaca oleh para Pilot, karena perjalanan itu belum tentu merupakan perjalanan kembalinya mereka.

ايبون تائبون عابدون لربنا حامدون

“Kami kembali, bertaubat, tetap beribadah, dan senantiasa memuji Rabb kami” [HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Masih ada lagi do’a dan dzikir selama safar serta sunnah-sunnah lainnya yang bisa ditemukan dalam buku-buku do’a dan dzikir yang muktabar. Disamping itu, saat safar adalah saat-saat dikabulkannya do’a, makanya seringkali teman-teman muslim Arab ini minta di-do’a-kan ketika kita pamitan untuk safar.

Semoga Allah senantiasa memberi Taufiq kepada kita untuk senantiasa bermunajat kepadaNya dalam setiap safar kita dan waktu-waktu lainnya.

Do’a Ketika Dipuji Manusia

Leave a comment

Ada sebuah atsar dari Sahabat Rasulillah صلى الله عليه وسلم yang mana menunjukkan keagungan akhlak mereka. Mereka tidak terlena dan besar kepala karena pujian yang dilontarkan orang lain, sehingga pujian ini tidak mencelakakan mereka. Mereka tetap menyadari diri mereka tidak luput dari dosa. Kesadaran ini mendorong mereka senantiasa mohon ampun kepada Allah عزوجل, memohon rahmat dan ihsan Allah عزوجل. [syarhu Hisnil Muslim]
ketika dipuji mereka berkata…

الهم لا تؤاخذني بما يقولون, واغفرلي ما لا يعلمون (واجعلني خيرا مما يظنون)      رواه البخاري

Allahumma laa tuaakhidzni bimaa yaquuluun, waghfirli maa laa ya’lamuun (waj’alni khoiron mimmaa yadhunnuun)

Artinya:

“Yaa Allah, janganlah Engkau hukum aku dengan sebab (pujian) yang mereka ucapkan, dan ampunilah aku dari (perbuatan dosa) yang tidak mereka ketahui (dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka)

[HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad no 585, Syaikh Albani رحمه الله menilai sanad riwayat ini shahih. Bagian terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman 4/228]

 

– ditulis ulang dengan sedikit editing pada susunan dan terjemahan, dari Majalah As-Sunnah edisi 06/Thn.XIV Dzulqa’dah 1431H, Oktober 2010  – hadiah dari salah seorang sahabat-semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Pernah dikirim di milis muslims-omanindo@googlegroups.com tanggal 7 Februari 2011

%d bloggers like this: