Kisah Taubatnya Al-Fudhail ibn ‘Iyadh Rahimahullahu Ta’ala

1 Comment

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di malam hari sehingga matahari terbit dari arah barat.” (Shahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Musa)

Ini adalah sebuah kisat taubat seorang hamba yang akhirnya namanya menghiasi kitab-kitab ilmu sepanjang masa, Al Fudhail ibn ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala.

Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abi Warda, suatu tempat di daerah Khurasan. Tidak ada riwayat yang jelas tentang kapan beliau dilahirkan, hanya saja beliau pernah menyatakan usianya waktu itu telah mencapai 80 tahun, dan tidak ada gambaran yang pasti/shahih tentang permulaan kehidupan beliau. More

Ada Apa Setelah Haji?

Leave a comment

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah yang telah memilih jamaah haji sekalian sebagai tamu-tamuNya. Ini merupakan karunia Allah yang sangat besar, dimana jutaan umat Islam yang ingin datang ke tanah suci menunaikan ibadah haji tapi masih belum dapat izin dari Allah, ada saja halangan yang datang. Adapun jamaah sekalian telah mendapatkan kemudahan dari Allah sehingga dapat merampungkan seluruh manasik haji dari mulai umrah sampai tawaf wada’, semoga Allah mencatatnya sebagai haji yang mabrur diampuni segala dosa kita dan agar jamaah haji diberi perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan pulang ke tanah air, amin!

Tanda Haji Mabrur

Zuhud Terhadap Dunia

Para ulama kita menyebutkan tanda-tanda haji yang mabrur, diantaranya Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: (Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat). Allah berfirman yang artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia”. (Surat Al-Qashash: 77) More

Kebaikan-Kebaikan Akan Menghapus Kejahatan

Leave a comment

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sholawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

Ini adalah ulasan tentang beberapa amalan yang mudah dilaksanakan dan akan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar dengan karunia dari Allah. Amalan-amalan ini banyak dilalaikan dan diremehkan oleh sebagian besar manusia, padahal di dalamnya terdapat banyak pahala, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak sholat di al-Haramain asy-Syarifain (Masjid Haram dan Masjid Nabawi). Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah saw. bersabda: Shalat di masjidku ini lebih afdhal dari 1000 sholat di masjid lainnya kecuali masjid Haram, dan sholat di masjid Haram lebih afdhal dari 100.000 sholat di masjid lainnya. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dan sholat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada sholat di masjid Haram dan masjid Nabawi. More

Jangan Enggan untuk Masuk Surga

Leave a comment

Sungguh sebuah kabar gembira bagi kaum muslimin, umat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, ketika beliau bersabda:

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَـى، فَقِيْلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى

“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka berarti ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280]

Subhanallah! Sungguh suatu kebahagiaan menjadi umat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, dimana telah dikabarkan oleh beliau bahwa pada dasarnya umat Islam itu masuk surga, kecuali yang enggan saja. Masya Allah! Adakah yang enggan masuk surga? Adakah yang enggan dengan kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, yang belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah terpikirkan oleh hati sekalipun? Adakah yang enggan berada di surga ditemani bidadari-bidadari yang disucikan?

Tentu tidak ada yang enggan masuk surga. Tentu semua ingin berada di surga dan dapat memandang Wajah Allah yang Mulia, kekal di dalamnya selama-lamanya. Namun demikian, keinginan saja tidak cukup. Keinginan tanpa pengetahuan tidak akan melahirkan tindakan atau usaha yang nyata untuk mewujudkan keingingan itu. Maka dari itu kita perlu mengetahui apa dan bagaimana sifat surga serta apa dan bagaimana sifat neraka. Karena siapa yang tidak masuk surga, pintu yang lain adalah neraka, dan tidak ada ada tempat di antara keduanya.

Ketika Allah menciptakan surga dan neraka beserta amalan-amalan menuju keduanya, terjadilah dialog antara Allah SWT dengan Jibril as. Dialog ini diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah bersabda: ”Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, diutuslah Jibril kepada surga. Allah berfirman: `Pergilah! lihatlah surga itu dan lihatlah kepada apa yang telah aku sediakan untuk mereka yang ingin menuju surga itu.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat surga itu dan kepada apa yang telah Allah sediakan bagi calon penghuninya. Maka Jibril pun kembali dan berkata: `Demi kemuliaanmu ya Allah tidak akan ada seorangpun yang mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Maka Allah memerintahkan surga dan memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan Al Makarih (berbagai ketidaksenangan). Maka Allah memerintahkan Jibril: `kembalilah, dan lihatlah surga itu dan kepada apa yang telah aku sediakan untuk calon penghuninya!” maka Jibril pun melihat kembali surga itu, kemudian kembali, seraya berkata `demi kemuliaanmu ya Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasuki surga.’ Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman: `pergilah, lihatlah neraka itu dan kepada apa yang telah aku persiapkan bagi calon penghuninya.’ Maka Jibril pun melihat neraka itu, maka tiba-tiba ia melihat api neraka itu saling bertumpuk-tumpuk, kemudian ia kembali dan berkata: `demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun yang akan masuk neraka kalau dia mendengar tentang siksa neraka’, lalu Allah memerintahkan neraka, lalu dipenuhilah jalan menuju neraka itu dengan asy Syahawaat, lalu allah berfirman: `pergilah dan lihatlah neraka itu’, maka jibril pun pergi melihat kemudian kembali dan berkata: `demi kemuliaanmu ya Allah aku kawatir tidak ada seorangpun yang selamat dari neraka kecuali pasti akan memasukinya’.” [H.R. Muslim].

Subhanallah! Ternyata surga yang di dalamnya adalah negeri kenikmatan abadi itu tertutupi oleh tirai-tirai berbagai macam ketidaksenangan, berbagai macam kesulitan, kepayahan, yang mana hanya orang yang yakin saja yang akan sanggup membuka dan menembus tirai-tirai itu hingga akhirnya akan memasukinya. Maka seorang mukmin yang yakin akan perjumpaan dengan Rabb-nya, dan yakin akan kebenaran surga dan neraka akan capek dalam hidupnya karena usahanya yang tiada henti untuk membuka tirai-tirai penutup surga.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [Al Baqarah 214]

Sebaliknya, tabir penutup neraka ternyata adalah berbagai macam kenikmatan yang sulit bagi manusia untuk menolaknya, karena memang manusia diciptakan mempunyai syahwat/keinginan terhadap wanita, anak-anak, harta yang banyak, serta berbagai kenikmatan lainnya yang bisa dirasakan oleh panca inderanya. Terkadang,  usaha besar harus dilakukan, harta harus dikeluarkan, waktu harus dikorbankan, demi mendapatkan semua kesenangan itu, yang sebenarnya kesengsaraan abadi menanti di balik tirai-tirai itu.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imraan 14]

Setelah mengetahui rahasia tabir surga dan neraka, kita mempunyai pilihan, apakah ingin membuka tabir-tabir surga dengan bersabar terhadap segala kesulitan yang akan dijumpai, atau membuka tabir-tabir neraka yang akan menjumpai berbagai kenikmatan semu.

Bagaimana Membuka Tabir?

Imam Nawawi berkata “Barang siapa dapat membuka tabir, maka ia sampai pada sesuatu yang di tutupi. Membuka tabir surga adalah dengan melakukan hal-hal yang di benci, sedangkan membuka tabir neraka adalah dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan (menuruti hawa nafsu).

Membuka tabir surga dapat dilakukan dengan kesungguhan beribadah, istiqamah, sabar dalam kesulitan Ibadah, menahan marah, bershadaqah, berbuat baik pada manusia, sabar di hadapan syahwat, dan berbagai amal shaleh lainnya.
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya” (Al Baqarah 25)
Demikian juga, hendaknya kita tidak membuka tabir neraka, yaitu dengan meninggalkan segala larangan Allah seperti berbuat Syirik, Bid’ah, malas dan meremehkan ibadah, berbuat Maksiat, dan berbagai macam kemaksiatan lainnya.
“(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (Al Baqarah 81)
Adakah Solusi yang Menggabungkan Penyelesaian Masalah?
Jawabannya: ADA! Justru Sunnah telah memberikan solusi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya ke SURGA” (HR Muslim)
Kenapa Ilmu? Karena dengan ilmu kita menjadi tahu TABIR-TABIR SURGA sehingga dapat mempersiapkan bekal untuk menembusnya. Dengan ilmu juga kita menjadi tahu TABIR-TABIR NERAKA sehingga berupaya menjauhinya.
Dan do’a harus terus disampaikan kepada Allah Ta’ala karena Allah akan mengabulkan semua do’a selama tidak meminta dalam kemaksiatan.
“Ya Allah, aku mohon kepadamu Surga dan apa-apa yang bisa mendekatkan diri kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan”
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari Neraka dan dari apa-apa yang bisa mendekatkan diri kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan”

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, para Sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

—————————————–

Khutbah Jum’at Masjid Adi Oman, Juni 2010…ditulis ulang dan diselesaikan waktu liburan di KL, 18 Juni 2011.

Kesabaran adalah Pelita

Leave a comment

Hadits ke-25 Riyadhush Shalihin

وعن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال: قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم “الطهورشطر الإيمان, والحمد لله تملأ الميزان, وسبحان الله والحمد لله تملأن أو تملأ ما بين السموات والأرض, والصلاة نور, والصدقة برهان, والصبرضياء, والقران حجة لك أو عليك. كل الناس يغدو فبائع نفسه, فمعتقها أوموبقها”   – رواه مسلم

Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari (semoga Allah meridhainya) berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Kesucian adalah setengah daripada iman, dan (ucapan) ‘Alhamdulillah’ (Segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan, dan (ucapan) ‘Subhanallahu wa Alhamdulillah’ (Maha Suci Allah dan Segala Puji bagi Allah) memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi, dan Shalat adalah cahaya, dan Sedekah adalah bukti, dan Kesabaran adalah Pelita, dan Al Qur’an akan menjadi hujjah (argumen) yang membelamu atau yang menuntutmu. Setiap manusia keluar di pagi hari untuk menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada yang membinasakan dirinya” – Riwayat Muslim

Hadits ini merupakan hadits pertama yang dinukil Imam Nawawi rahimahullah dalam bab Sabar di kitab beliau Riyadush Shalihin. Relevansi hadits ini dengan bab Sabar adalah bagian “Kesabaran adalah Pelita”.

Syaikh Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam syarahnya: Yaitu meneranginya ketika dia berada dalam kegelapan dan ditimpa musibah. Jika dia sabar, maka kesabaran itu bisa menjadi sinar baginya menuju kebenaran. Maka dari itu, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sabar termasuk salah satu diantara hal yang dengannya bisa dijadikan sebagai sarana meminta pertolongan (sebagaimana firman-Nya: واستعينوا بالصبر والصلاة “dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” – Al Baqarah 153). Kesabaran adalah cahaya bagi manusia dalam hatinya, cahaya baginya dalam menempuh cara, metode, dan amalnya. Karena setiap kali dia berjalan menuju Allah, maka Allah menambah petunjuk dan cahaya di dalam hati dan penglihatannya.

Diantara ketelitian perkataan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah penyebutan والصبرضياء yang maknanya “dan kesabaran adalah Pelita/Sinar, dimana dalam cahayanya ada rasa panas, seperti firman-Nya:

هو الذي جعل الشمش ضياء والقمر نورا

“Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya” (Yunus 5)

Kata ‘dhau‘ berarti cahaya yang ada panasnya sedikit. Begitu juga kesabaran, di dalamnya ada sedikit rasa panas dan capek, karena di dalamnya ada kesulitan yang besar, maka dari itu pahala kesabaran tidak terhitung jumlahnya.

إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar 10)

Demikian penjelasan yang berkaitan dengan Sabar dari Syarah Riyadhush Shalihin Syaikh Utsaimin rahimahulllah.

Beberapa faedah tambahan dari hadits diatas diantaranya:

1. Kesucian adalah sebagian dari Iman. Kata ‘Ath-Thuhur‘ berarti kesucian manusia, dan ‘Syathru al-iman‘ berarti setengah (sebagian) dari iman. Karena keimanan adalah membersihkan dan menghiasai, yaitu membersihkan dari kesyirikan. Hendaknya manusia bersuci secara jasmani, yaitu dari segala bentuk najis, dan secara ruhani, yaitu dari segala bentuk keburukan. Maka dari itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjadikan kesucian setengah dari iman.

Redaksi ‘Kesucian adalah sebagian dari Iman’ adalah redaksi yang shahih dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan ungkapan ‘Kebersihan adalah bagian dari Iman’ bukanlah hadits yang sah

2. Ucapan ‘Alhamdulillah‘ merupakan kalimat yang mengandung pahala yang besar, hingga dikatakan memenuhi mizan, yaitu sesuatu yang dengannya amal perbuatan ditimbang. Alhamdulillah adalah kalimat pujian. Pujian diberikan kadang untuk menetapkan kesempurnaan, dan kadang untuk menolak kekurangan, kadang untuk mengakui kelemahan, dan kadang untuk menempatkannya pada posisi tertinggi. Huruf Alif dan Lam pada kata Al-Hamdu untuk menunjukkan jenis pujian yang sangat mendalam. Segala puji, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui, hanya Allah lah yang berhak memilikinya. Semua pujian derajatnya ada di bawah kata alhamdulillah.

3. Ucapan ‘Subhanallah wal hamdulillah’ memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi.  Hal ini karena ungkapan tersebut memadukan antara membersihkan dan menghiasi. Kalimat ‘Subhanallah’ merupakan pensucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan kaliman ‘Alhamdulillah’ mensifati Allah dengan segala kesempurnaan. Oleh karena itu Allah senantiasa dipuji dalam segala keadaan, sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Alhamdulillahi ‘ala kulli hal “Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan)

4. Shalat adalah Cahaya. Dalam penggalan ini, dikatakan sebagai ‘nuur‘, yang berarti cahaya yang dingin, sebagaiman cahaya bulan yang juga disifati dengan ‘nuur‘, dingin dan tidak memberikan efek panas, bahkan ‘nuur‘ adalah cahaya yang mempunyai sifat dingin dan sejuk. Maka dari itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam bersabda:

وجعل قرة عيني في الصلاة

Shalat pun dijadikan penyejuk mata bagiku” [HR. An Nasai no. 3939, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahihLihat Al Misykah no. 5261 dan Shahih Al Jaami’ Ash Shogir no. 3124]

5. Sedekah adalah bukti, maksudnya bukti iman. Karena harta disenangi oleh jiwa dan jiwa sangat tertarik kepadanya. Jika seseorang membelanjakannya karena Allah, maka manusia tidak membelanjakan sesuatu yang dicintai kecuali untuk sesuatu yang lebih dicintainya. Maka orang yang paling baik imannya kepada Allah adalah yang paling banyak sedekahnya. Ini meliputi sedekah yang wajib (yaitu zakat) maupun yang sunnah.

6. Al Qur’an akan menjadi hujjah (argumen) yang membelamu atau yang menuntutmu. Al Qur’an akan menjadi hujjah yang akan membelamu manakala engkau beriman dengan benar terhadap Al Qur’an, yaitu membacanya, memahaminya, mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalamnya baik berupa perintah atau larangan, menggunakannya untuk berkomunikasi dengan Allah, mengagungkannya, serta menghormatinya. Sebaliknya jika engkau mengabaikannya, berpaling dari petunjuknya, tidak membaca, tidak memahami, serta tidak mengamalkannya, maka kelah Al Qur’an akan menjadi saksi atas perbuatanmu yang tercela itu.

7. Setiap manusia keluar di pagi hari untuk menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada yang membinasakan dirinya. Penggalan ini menunjukkan 2 jenis manusia, yaitu:

Pertama, orang yang setiap pagi menjual diri untuk membebaskan dirinya, yaitu orang mukmin, dimana dia memulai harinya sejak bangun tidur dengan beribadah kepada Allah, bersuci, mendirikan shalat, lalu melanjutkan aktivitas dunianya dalam rangka menjalankan perintah Allah.

Kedua, orang yang setiap hari menjual diri untuk membinasakan dirinya, Na’udzubillah, yaitu orang kafir, dimana dia memulai harinya dengan berbuat maksiat kepada Allah, sehingga jika dia mulai makan dan minum, maka karena makan dan minumnya dia akan disiksa pada hari kiamat. Setiap makanan dan minuman yang diangkat orang kafir ke dalam mulutnya akan mendatangkan azab atasnya.

Hanya kepada Allah kita memohon taufiq.

—————————————————————–

Diringkas dari: Syaikh Utsaimin, Syarah Riyadhush Shalihin

Kajian Kamis Malam di Masjid Adi Oman, 2 Juni 2011, dengan beberapa tambahan sebagai pelengkap.

Dan Kuatkan Kesabaranmu!

Leave a comment

Sabar secara bahasa berarti menahan. Adapun secara syariat, Sabar berarti menahan diri dari tiga hal:

Pertama, sabar untuk taat kepada Allah.

Kedua, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah.

Ketiga, sabar terhadap takdir Allah. Demikianlah macam-macam sabar yang disebutkan oleh ahli ilmu.

Masalah pertama, hendaknya manusia sabar untuk taat kepada Allah, karena ketaatan adalah sangat berat dan sulit bagi manusia. Begitu juga berat bagi badan, sehingga menjadikan manusia lemah dan capek. Ketaatan juga akan menimbulkan kesulitan dari aspek keuangan, seperti masalah zakat dan masalah haji. Yang penting bahwa dalam ketaatan ada kesulitan terhadap jiwa dan raga sehingga diperlukan kesabaran dan ketabahan. Allah Ta’ala berfirman

يأ يها الذينءامنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله لعلكم تفلحون

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (Ali Imraan 200)

Dari ayat diatas Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia untuk menguatkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan. Hal ini karena ketaatan itu ada dua macam:

1. Kesabaran dari perbuatan yang dengannya manusia merasa terbebani dan dipaksa, seperti berbagai macam perintah ibadah dan perintah untuk istiqomah menjalankannya.

2. Kesabaran dari perbuatan yang membebani jiwa karena melakukan ketaatan, seperti meninggalkan kemaksiatan. Ini merupakan perbuatan yang sangat berat bagi jiwa yang condong kepada perbuatan tercela.

Maka dari itu, menguatkan kesabaran untuk menjalankan ketaatan lebih mulia daripada kesabaran menahan diri dari kemaksiatan. Karena itu Allah Ta’ala berfirman “Dan Kuatkanlah kesabaran”, saakan-akan ada orang yang menantangmu untuk bersabar, seperti orang yang haru sabar menghadapi musuhnya dalam peperangan dan jihad.

Masalah kedua, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah. Manusia harus menahan dirinya dari apa yang diharamkan Allah atasnya, karena jiwa manusia condong kepada perbuatan tercela, maka manusia harus sabar dalam menahan diri dari kebohongan, penipuan, interaksi, memakan harta dengan batil, baik dengan riba atau dengan yang lainnya, berzina, minum khamr, pencurian dan kemaksiatan lainnya.

Bersabar dari hal-hal yang diharamkan Allah, artinya janganlah kita melakukannya, hendaknya menghindari dan jangan mendekatinya. Kesabaran dari maksiat tidak akan terjadi kecuali orang yang hawa nafsunya selalu mengajaknya untuk berbuat maksiat. Adapun orang yang dalam hatinya tidak terbetik untuk berbuat maksiat, tidak disebut sabar darinya. Maka jika hawa nafsu sedang mengajak untuk berbuat maksiat, maka hendaknya bersabar dan menahan hawa nafsu tersebut.

Masalah ketiga, sabar terhadap takdir Allah yang tidak disukai. Dikarenakan takdir Allah kepada manusia itu ada yang disukai dan ada yang tidak disukai. Takdir Allah yang tidak disukai pada manusia seperti seseorang yang terkena musibah pada badan, harta, keluarga, atau masyarakatnya dan sebagainya yang bermacam-macam, maka diperlukan kesabaran dan ketabahan. Realisasinya adalah, dia tidak berkeluh kesah, baik dengan lisan, hati , maupun anggota badan.

Kepastian untuk menjalani takdir Allah tidak bisa dielakkan. Terlebih lagi Allah memang bermaksud untuk menguji hamba-Nya dengan berbagai macam musibah. Maka berkeluh kesah terhadap takdir tidaklah merubah keadaan melainkan hanya membuatnya bertambah berat. Dalam hal ini, kesabaran adalah sebuah keharusan. Dan jika manusia bersabar, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk memberikan kabar gembira serta pahala yang tanpa batas.

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam menggambarkan ketiga tingkatan kesabaran yang disebutkan diatas:

Pertama, ketika beliau ditinggalkan di dasar sumur oleh saudara-saudaranya, hingga ditemukan oleh serombongan kafilah lalu dijual sebagai budak. Tidak ada keluh kesah yang diceritakan oleh Al-Qur’an, sehingga hal ini menunjukkan kesabaran beliau dalam menyikapi takdir Allah Ta’ala.

Kedua, ketika beliau berhasrat dengan istri Al-Aziz dan istri Al-Aziz pun bermaksud menggodanya, maka beliau menolakknya karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Karena hawa nafsunya telah mengajak untuk berbuat maksiat dan beliau mampu untuk menolakknya, maka inilah kesabaran beliau dalam meninggalkan maksiat.

Ketiga, sebagai puncak kesabaran beliau adalah ketika beliau memaafkan saudara-saudaranya serta berbuat baik kepada mereka sementara beliau pada waktu itu menjadi seseorang yang berkuasa di Mesir yang mana sangat mudah untuk memberikan mudharat kepada saudara-saudaranya yang telah mendhaliminya di masa silam.

Wallahu A’lam.

——————————————————————————————————————-

Sebagian besar diambil dari Syarah Riyadhush Shalihin oleh Syaikh Utsaimin rahimahullahu.

Disampaikan di halaqah Masjid Adi Oman, Kamis 26 Mei 2011

Newer Entries

%d bloggers like this: