Mendidik Anak Perlu Keikhlasan

3 Comments

Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?

Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala. Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yang kita ucapkan dengan keikhlasan..

Bahkan dalam setiap perbuatan yang kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya hingga mengganti popoknya, niatkanlah semata karena mengharap ridha Allah.

Apa sih kekuatan keikhlasan?
More

Mendidik Anak Perlu Keshalihan Orangtua

Leave a comment

Tentu Anda masih ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dengan Nabi Musa ‘alaihimassalam.Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orangtua mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.
More

Mendidik Anak Perlu Ilmu

Leave a comment

Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.

Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.
More

Islamic Homeschooling for Everyone

Leave a comment

Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.

Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.(tidak ada pilihan sekolah bermanhaj salaf misalnya)

Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.

Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan ‘pelanggaran terhadap hak asasi anak’.

Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak ‘membela diri’, bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan: wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah. More

Pentingnya Mendidik Istri…Train the Trainer

1 Comment

Di sela-sela makan malam selepas pengajian, Ustadz Ahmad membuka obrolan melanjutkan sebuah pertanyaan yang belum terjawab dengan tuntas lantaran waktu shalat Maghrib hampir tiba. Pertanyaan itu adalah bagaimana Nabi Ibrahim ’alaihissalam mendidik Isma’il ’alaihissalam dengan hasil yang luar biasa, yang diabadikan dalam sebuah ayat yang mulia, dan merupakan kisah fenomenal sepanjang masa, pelajaran besar bagi yang mau mengambil pelajaran.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash Shaaffaat 102).

Subhanallah! Pendidikan macam apa yang diterapkan oleh Ibrahim kepada Isma’il sehingga Isma’il kecil sudah mempunyai aqidah yang kokoh menghujam, sami’na wa atho’na, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah ’Azza wa Jalla, sementara Ibrahim jauh darinya dan hanya diasuh oleh ibunda Hajar?

Sampailah Ustadz Ahmad pada sebuah kesimpulan bahwa pendidikan pertama yang paling penting adalah pendidikan suami terhadap istri-istrinya (padahal Ustadz ini belum punya istri…semoga antum dapat istri yang shalihah, ustadz!). Alhamdulillah, saya sangat setuju dan meng-amin-kan kesimpulan ini. Sebuah simpul ilmu telah terbuka bagi saya, dan belum sempat saya ucapkan sebuah pengakuan kepada Ustadz  Ahmad sebagaimana yang diajari oleh senior saya ”Sampeyan Guru Saya”. Jazakallah khair, Ustadz, semoga ini menjadi tambahan royalty antum dalam kategori ”ilmu yang bermanfaat”.

Saya rasa kita bisa menyadari bahwa sebagaian besar waktu anak-anak kita adalah bersama ibunya. Sehingga ibunya adalah madrasah bagi anak-anaknya dalam mengajarkan ilmu-ilmu kehidupan, dalam menanamkan aqidah, akhlak, serta adab-adab Islam. Jika sang ibu benar dalam mendidik anak-anaknya sekalipun bapaknya amit-amit, Insya Allah anak-anak akan mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi baik. Sebaliknya, sekalipun bapaknya luar biasa baik tapi tidak demikian dengan ibunya, ada kemungkinan anak-anak tidak akan menjadi seperti yang diharapkan. Tentu saja ini bukan rumus baku, karena semuanya masih tergantung dengan kehendak Allah ’azza wa Jalla.

Kemudian, saya berusaha mengingat-ingat beberapa orang yang pernah saya kenal. Beberapa keluarga yang mempunyai aqidah gado-gado, bapaknya muslim ibunya bukan, atau ibunya yang muslim sedangkan bapaknya yang bukan…wa na’udzu billah. Hasilnya? Anak-anak (kebanyakan) mengikuti agama ibunya. Semoga Allah menyelamatkan aqidah kita dan keluarga kita.

Maka dari itu, merupakan hal yang pertama dan sangat esensial adalah mendidik istri-istri kita, train the trainer, karena istri-istri kitalah yang akan lebih banyak berada di garis depan dalam meletakkan fondasi kepada anak-anak kita. Tentu saja, ini sama sekali tidak berati bahwa sang Bapak bisa lepas tangan begitu saja. Justru tanggung jawab terbesar tetap pada pemimpin utama rumah tangga. Akan tetapi peran sang Ibu yang mana lebih banyak bersama anak-anak lebih dominan dalam memberi warna pada anak-anaknya. Wallahu a’lam.

Sehingga, jika kita kembali kepada kisah Ibrahim dan Ismail, kita dapati bahwa respon Ismail terhadap perintah Allah adalah buah dari didikan sang ibunda, karena Hajar pun memberikan respon yang sama terhadap Ibrahim ketika beliau akan ditinggalkan bersama bayi Ismail di lembah tak bertepi. Mari kita flash back sedikit pada episode ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Isma’il di padang pasir.

Sesampainya di Lembah (masjid Al-haram sekarang) dengan bekal yang sangat terbatas Nabi ibrahim meninggalkan Hajar dan putranya dilembah itu. Selang beberapa langkah, Hajar bertanya kepada Ibrahim: ”Wahai Ibrahim apakah Allah yang memerintahkan engkau meninggalkan kami di sini?!”. Ibrahim tidak segera menjawab, sehingga Hajar mengulangi pertanyaannya lagi. Akhirnya Ibrahim menjawab: ”Iya, Allah yang memerintahkan aku untuk meninggalkan kalian di lembah ini”.

Begitu mendapatkan Jawaban dari ibrahim, Hajar seraya berkata: ”Kalau begitu Allah tidak akan menyia nyiakan Kami disini”.

Lalu berangkatlah Nabiullah Ibrahim. Ketika pandangan Hajar sudah lenyap dibalik bebukitan, ibrahim berpaling dan berdo’a: ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Ibrahim: 37).

Akhirnya, kita mendapati, bahwa Ibrahim ’alaihissalam menjadikan Do’a sebagai tawakalnya yang utama. Ibrahim yakin bahwa Tuhannya akan menjaganya, bahwa Dia akan mengabulkan permohonan hambaNya, hamba dan kekasihNYa. Keyakinannya terhadap Rabb-nya menjadikannya ringan menjalankan setiap perintah-Nya. Maka tidak heranlah, jika Ibrahim menjadi teladan sepanjang masa. Ibrahim yang seorang diri disifati Allah sebagai Ummat karena keteladanannya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah Ibrahim ini, dari kuatnya keyakinan hingga sikap totalitas penyerahan diri kepada Sang Pencipta.

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)Al Baqarah 269. 

——————————-

Pernah di posting di milis muslim omanindo, 14 May 2010, dengan judul “Sampeyan Guru Saya”


Rumah adalah Berkah

Leave a comment

Apakah arti sebuah rumah itu menurut anda? Bukankah dia adalah tempat dimana seseorang itu makan, menikmati keakraban dengan pasangannya, tempat untuk tidur dan istirahat? Bukankah dia adalah sebuah tempat dimana seseorang bisa menyendiri dan bisa berkumpul dengan istri dan anak-anaknya? Bukankah dia adalah tempat yang dapat memberikan perlindungan kepada para wanita?

Jika anda memikirkan para tunawisma yang tinggal di tenda-tenda, atau di jalanan, atau seperti para pengungsi yang berserakan di tenda-tenda, maka anda akan menyadari betapa beruntungnya mempunyai rumah. Jika anda mendengarkan seorang tunawisma berkata, “saya tidak tahu dimana harus tinggal karena tidak punya tempat untuk menetap. Kadang-kadang saya tidur di rumah-rumah orang, terkadang di tempat parkir, di depan toko, di pinggir pantai“, maka anda akan menyadari gangguan-gangguan yang muncul dengan tidak adanya rumah.

Maka Rumah adalah sebuah berkah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

والله جعل لكم من بيوتكم سكنا

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” [An Nahl 80]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: disini Allah Ta’ala menyebutkan berkah yang lengkap kepada hambaNya. Dia telah memberikan kepada mereka rumah-rumah sebagai tempat tinggal yang tenteram bagi mereka, bagaikan surga yang melindungi mereka dan memberikan kepada mereka berbagai macam keuntungan.

Ingatlah ketika Allah Yang Maha Perkasa menghukum Yahudi Bani Nadhir, dimana Dia mencabut berkah ini (berkah dari adanya tempat tinggal) dan mengusir mereka dari rumah-rumah mereka, sebagaimana dalam firmanNya:

…هو الذي أخرج الذين كفر من أهل الكتاب من ديرهم لأول الحشر

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama” [Al Hasyr 2]

Kemudian Allah Azza wa Jalla berkata:

يخربون بيوتهم بأيديهم وأيدى المؤمنين فاعتبروا يأولى الأبصر

“mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” [Al Hasyr 2]

Maka betapa berharganya sebuah rumah itu, yang keberadaanya merupakan salah satu nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Rumah yang merupakan tempat dimana kita berinteraksi dengan keluarga kita sehari-hari mestilah dalam kondisi yang layak dan nyaman. Untuk itu, diperlukan adanya kemesaraan, cinta, ketulusan, keterbukaan, kejujuran, dan yang semisal dengannya. Hal-hal yang diperlukan untuk membangun semua faktor yang disebut diatas dapat dicapai dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam secara benar. Dengan menerapkannya secara benar, Insya Allah, hal-hal diatas dapat dicapai, sehingga akan membuktikan bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin. 

Insya Allah bersambung dengan 40 poin penerapan prinsip-prinsip Islam. Semoga Allah Ta’ala memberi Taufiq kepada saya dan anda semua.

———————–

Diringkas dari “The Muslim Home – 40 Recommendations In the Light of the Qur’an and Sunnah” by Syaikh Muhammad Salih al-Munajid, International Islamic Pubublishing House-Riyadh.

Newer Entries

%d bloggers like this: