Satu Amal Multi Pahala

Leave a comment

Niat, bukanlah masalah yang sepele. Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal yang besar menjadi sia-sia karena niat. Maka dari itu, meluruskan serta menjaga Niat menjadi sangat penting supaya amal yang kita lakukan tidak sia-sia, bahkan bisa bernilai sangat besar. Maka hendaklah kita senantiasa ingat untuk menetapkan niat-niat yang baik pada setiap amalan kita, sekecil apapun itu. Dan sebuah amalan ketaatan bisa menghasilkan multi pahala jika didasari dengan multi niat.

More

Advertisements

12 Kiat Membuat Membaca Jadi Bermanfaat

Leave a comment

Di antara yang bisa membantu seseorang dalam memanfaatkan waktunya adalah dengan membaca, dan ini adalah salah satu wasilah (sarana) untuk mendapatkan ilmu. Tapi sering kita saksikan bahwa seseorang menjadikan kegiatan membaca, sesuatu yang berat dan sulit diwujudkan. Dengan izin Allah apabila seseorang memperhatikan kiat-kiat di bawah ini Insya Allah dia tidak akan berat untuk membaca, bahkan dia akan rindu untuk membaca.

1. Berniat

Suatu perbuatan apabila diawali dengan niat yang benar, maka pekerjaan itu akan diberkahi oleh Allah. sebaliknya apabila niatnya salah, maka amalan-amalan yang ia lakukan akan menjadi sia-sia. Dengan niat yang ikhlas maka pekerjaan berat akan teras ringan. Ibnu Mubarak rahimahullah berkata “Pertama yang harus dihadirkan untuk mendapatkan ilmu adalah niat yang benar, kemudian mendengar, lalu memahami, kemudian menghafal, lalu mengamalkan, serta kemudian menyebarkan (berdakwah)” [Jami’ Bayanil ilmi wa Fadhlihi 1/476 no: 759]

Malik bin Dinar berkata “Barangsiapa yang mencari ilmu untuk diamalkan maka Allah memberinya taufik kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ilmu tidak untuk diamalkan, tidaklah akan bertambah dengan ilmu tersebut kecuali kesombongan”

Malik bin Dinar juga berkata “Barangsiapa yang mencari ilmu untuk dirinya sendiri maka ilmu yang sedikit baginya sudah cukup, dan barangsiapa mencari ilmu untuk manusia, maka kebutuhan manusia sangatlah banyak” [Kitab Jami’ Bayanil ilmi wa Fadhlihi]

Catatan: Niat yang benar meliputi: Ikhlas karena Allah, untuk menghilangkan kebodohan sendiri dan manusia lainnya, untuk diamalkan

2. Bersabar

Seseorang yang sedang membaca sangatlah membutuhkan kesabaran, apabila tidak sabar maka dia akan meninggalkan aktifitas ini. Kesabaran dibutuhkan ketika harus memandangi buku berjam-jam, ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam bahasa, harus membuka kamus, menghabiskan waktu yang lama, ketika tak kunjung paham, atau saat rasa kantuk menyerang. Lawan dari sabar adalah putus asa. Dan sifat ini harus dibuang jauh-jauh karena sifat ini tercela dan sangat merugikan.

Dikisahkan, seorang ‘alim bernama Kisai berkali-kali belajar ilmu nahwu namun tidak kunjung paham. Suatu ketika beliau mengamati semut yang membawa makanan dan berusaha melewati dinding akan tetapi berkali-kali jatuh, namun semut ini tidak pernah putus asa, selalu mengulanginya lagi hingga akhirnya semut itu berhasil melewati dinding. Akhirnya, beliau berusaha terus hingga paham dan menjadi Imamnya ilmu Nahwu di Kufah.

3. Istiqamah

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan terus menerus (istiqamah) meskipun sedikit” [Muttafaq ‘alaihi]

Oleh karena itu, lebih baik baca sedikit setiap hari dan menjaganya, daripada membaca banyak kemudian ditinggalkan.

4. Memikirkan Umat dan Memenuhi Kebutuhan-kebutuhan Mereka, Terutama Masalah Ilmu

Di zaman ini, manusia sangat butuh akan ilmu dibandingkan kebutuhan manusia pada makanan, minuman, dan kebutuhan yang lainnya. Apabila seseorang memikirkan akan kebutuhan umat dan inginmembantu untuk memberikan ilmu pada mereka, maka hendaklah dia belajar dengan sungguh-sungguh dan banyak meluangkan waktunya untuk mencari ilmu, salah satunya dengan membaca. Dengan membaca, seseorang akan banyak mendapatkan ilmu yang belum dia ketahui. Dengan memikirkan kebutuhan umat serta ingin memenuhi kebutuhan mereka maka dia akan semangat dan terus semangat dalam membaca dan tidak bermalas-malasan karena umat sedang menunggu.

Catatan: Jika kita memikirkan kebutuhan umat yang sangat beragam, maka kita pun akan berusaha mempelajari ilmu yang beragam untuk membantu masalah-masalah yang sering dihadapi atau kemungkinan besar akan dihadapi umat. Namun jika kita hanya memikirkan diri kita sendiri, maka kita akan merasa cukup untuk mempelajari ilmu sekedar untuk masalah kita sendiri.

5. Menyendiri

Ketika membaca, hendaklah berusaha mencari waktu dan tempat yang nyaman, tenang tanpa ada gangguan, karena dengan ini akan lebih konsentrasi dan semangat ketika membaca. Oleh karena itu pilihlah waktu yang tepat, misalnya pada malam hari ketika manusia tertidur lelap, maka bagilah waktu untuk shalat malam (tahajud), berdo’a, dan membaca.

6. Memberikan Manfaat kepada Orang Lain

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat, dan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah adalah memberikan rasa gembira kepada seorang muslim, membantu melepaskan kesusahannya, atau membantu melunasi hutangnya” [Riwayat Ibnu Abi Dunya dan Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitab Silsilah Hadits Shahih no. 906]

Apabila seseorang ingin memberikan manfaat kepada orang lain, terutama dalam masalah ilmu syar’i, hendaknya dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menumbuhkan rasa ingin memberikan manfaat yang banyak kepada manusia. Dengan ini, insya Allah dia akan lebih bersemangat untuk membaca.

7. Menjauhi kemaksiatan dan Selalu Menjaga Ketaatan

Imam Syafi’i berkata “Saya mengadu kepada guruku Waki’ tentang jeleknya hafalanku, maka beliau menyarankan kepadaku supaya meninggalkan maksiat dan beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat”

Apabila hati sudah bernoda, maka dia akan malas menjalankan ketaatan kepada Allah dan tidak akan bisa menikmati manisnya ibadah kepada Allah. Sebaliknya jika seseorang menjaga ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan, maka hatinya akan bersinar, tenang, dan mudah mendapatkan ilmu, serta rindu dengan membaca.

8. Mencatat Hal-hal Penting

Tabiat manusia adalah sering lupa, maka alangkah baiknya ketika seseorang membaca maka menulis poin-poin yang penting, jangan sampai pembaca tidak menangkap buruannya. Ibnu Katsir rahimahullah berkata “Ikatlah ilmu dengan tulisan”. Kita akan semakin bersemangat jika bisa mencatat manfaat yang bisa diambil dari kegiatan membaca.

Catatan penting bisa diberikan pada pinggir buku yang dibaca, atau pada buku tulis tersendiri dengan selalu mencantumkan nama kitab, pengarangnya, penerbit, cetakan, halaman, dan informasi lainnya yang dianggap penting. Jangan merasa sayang jika harus memberikan corat-coret pada buku yang baru dibeli.

9. Merujuk Kitab-kitab Besar dan Memperluas Pembahasan Suatu Masalah

Ketika sedang membaca dan menemukan hadits tanpa penjelasan ulama, maka seseorang hendaknya memperluas bacaannya dengan melihat kitab-kitab yang ada penjelasannya dari para ulama untuk menambah wawasan, tanpa fanatik terhadap madzhab tertentu, akan tetapi mengembalikan semua perkara pada Al-Qur’an dan Sunnah. Begitu juga ketika menjumpai ayat yang dikutip, maka seorang pembaca bisa memperluas dengan melihat tafsir ayat tersebut dari kitab-kitab tafsir yang muktabar.

10. Konsentrasi

Ketika seseorang sedang membaca, tentunya dia harus memperhatikan apa yang sedang dibacanya, manfaat apa yang  ingin didapat dari bacaannya itu. Beberapa hal yang bisa membantu konsentrasi diantaranya:

Pertama, Memilih tempat yang tenang dan nyaman, jauh dari gangguan kebisingan dan yang lainnya.

Kedua, Tidak menghiraukan bisikan syaitan jika mengajak berpaling dari yang sedang dibacanya.

Ketiga, Mematikan ponsel atau menjauhkan untuk sementara. Hal ini tidaklah mutlak, melainkan sesuai dengan keinginan. Jika sedang tidak ingin diputus kenikmatan membaca dengan telepon atau SMS, maka hendaknya menjauhkan dari ponsel.

Keempat, Lampu yang terang, karena lampu yang terang akan lebih membantu konsentrasi dalam membaca.

Kelima, Menguasai bahasa dari buku yang sedang dibacanya. Semakin mengerti bahasa dari materi yang dibaca, akan semakin terasa nikmat membaca sehingga semakin membantu konsentrasi.

11. Memperhatikan Poin-poin yang Penting Ketika Membaca

Diantara poin-poin yang penting untuk diperhatikan adalah:

Pertama, Ta’rif, yaitu pengertian suatu masalah

Kedua, Contoh-contohnya

Ketiga, Pembagian-pembagiannya

Keempat, Hukum-hukumnya

Kelima, Memahami ikhtilaf (perbedaan-perbedaan pendapat) ulama (dalam masalah fikih) dan mengambil pendapat yang rajih (paling kuat).

Keenam, Mengetahui aqidah yang haq (benar) dan yang batil (menyimpang) untuk menjauhi dan membantah syubhat-syubhat dari aqidah yang batil.

12. Berdo’a

Do’a adalah senjatanya orang mukmin. Tidaklah cukup seseorang itu hanya mengambil sebab dan meninggalkan do’a. Oleh karena itu, tawakal yang hakiki adalah dia mencari sebab dan juga tidak meninggalkan do’a, kemudian menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta’ala.

Ketika seseorang merasa malas untuk membaca, maka carilah penyebabnya. Setelah mengetahui penyebabnya, kemudian berusahalah memperbaikinya, serta bersungguh-sungguh berdo’a kepada Allah agar diberi kemudahan dan kenikmatan ketika membaca.

Catatan: Tentunya, syarat-syarat dikabulkannya do’a harus diusahakan untuk dipenuhi, serta penghalang-penghalang dari tidak dikabulkannya do’a juga diusahakan untuk dihilangkan.

***************************

Diselesaikan di kampung halaman, diringkas dari majalah NIKAH sakinah, Volume 10, no. 3 2011, artikel berjudul “Kiat-kiat Meraih Manfaat Membaca” tulisan Budi Suryanto Abu Muhammad, dengan beberapa perubahan redaksi dan tambahan catatan.

Resep Soto di Al-Qur’an?

Leave a comment

Pada sebuah warung Soto, dua orang sedang bercakap-cakap. Salah seorang diantara keduanya adalah seorang muslim, sedangkan yang lainnya non muslim. Si non muslim mengajukan pertanyaan kepada temannya yang muslim, entah bermaksud menguji, atau mengejek.

“Eh, katanya di kitabmu itu (Al Qur’an) menjelaskan segala sesuatu?” katanya membuka percakapan, “coba ada nggak di kitabmu itu resep membuat Soto Ayam?”

Mungkin yang dimaksud adalah penggalan surat An Nahl ayat 89, yang artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.

atau bisa juga yang ada di surat Yusuf ayat 111, yang artinya “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. 

Saudara muslim ini pun tak kalah cerdas,  “Tentu saja ada! Jangankan Soto Ayam…Gulai Ayam, Sate Kambing, Sop Buntut, Nasi Kebuli, apa saja deh yang kamu mau, semua ada”

Tambah heranlah temannya yang non muslim itu, namun belum terima begitu saja “Coba, tunjukkan di surat mana!”

“Sabar dulu”, kata si Muslim, kemudian dia memanggil tukang masak warung itu “Mas, tolong tunjukkan pada saya bagaimana cara membuat Soto Ayam seperti di warung ini”

Kemudian si tukang masak pun menjelaskan dengan rinci, mulai dari bahan-bahan yang dibutuhkan, cara memasak, hingga cara menyajikan.

“Nah, di Al-Qur’an itu menjelaskan yang seperti itu”, kata si Muslim kepada temannya yang non muslim.

“Ah masa? Coba tunjukkan di surat mana?”, kata si non muslim yang sekarang giliran merasa diledekin temannya itu.

“Tentu saja ada”, lalu si muslim membacakan surat An Nahl ayat 43 “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

“tuh kan, ada…Al-Qur’an itu menyuruh kita bertanya kepada ahlinya kalau kita memang tidak tahu. Jadi, bukannya menjadi sok tahu lalu urusan jadi berantakan” kata si Muslim. [*]

Hikmah dan Faedah:

  1. Al-Qur’an memuat kaidah-kaidah (rumus) umum, sedangkan rinciannya bisa ditemukan lagi di kitab-kitab Hadits, atau dari ijtihad ulama berdasarkan kaidah umum yang ada. Itulah mengapa Al-Qur’an itu akan cocok sepanjang masa. Jika Al-Qur’an merinci seluruh permasalahan, akan menjadi kitab yang sangat tebal.
  2. Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berilmu, maka diperintahkan untuk mencari ilmu, baik dengan membaca maupun bertanya. Dalam bertanya pun diperintahkan untuk bertanya kepada yang mempunyai pengetahuan tentang yang ditanyakan, bukan bertanya kepada sembarang orang.
  3. Menunjukkan tingginya kedudukan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, hingga orang-orang pun diperintahkan untuk bertanya kepada mereka.
  4. Ilmu yang dimaksud adalah apa yang ada di dalam Al-Qur’an, lalu Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasalam, kemudian perkataan para Sahabat, dan ulama-ulama yang mengikuti mereka dengan baik.
  5. Merupakan anjuran untuk bertanya kepada Ahlinya, termasuk dalam urusan/ilmu dunia sehingga urusan menjadi benar. Karena jika suatu urusan diserahkan atau ditanyakan kepada yang bukan ahlinya, maka menjadi rusaklah urusan itu.
  6. Dahulu, ketika wahyu masih turun dan syariat belum sempurna, para sahabat dilarang banyak bertanya, sebagaimana hadits yang shahih “Apa-apa yang aku larang bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan apa-apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian, karena banyaknya pertanyaan mereka dan menyelisihi nabi-nabi mereka” [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6858) & Muslim dalam Shohih-nya (1336)], karena dikhawatirkan syariat akan menjadi berat, sehingga orang yang bertanya akan mendapat hukuman yang berat.
  7. Namun sekarang syariat telah sempurna, maka setiap muslim bisa bertanya apa saja karena semua jawaban telah ada dengan sempurnanya syariat. Pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mencari-cari celah dalam agama atau untuk menimbulkan syubhat dalam agama, niscaya akan terjawab oleh ahli ilmu.
  8. Meskipun demikan, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selayaknya dilontarkan, bahkan bisa mengarah kepada perbuatan atau keyakinan yang bid’ah, seperti mempertanyakan Dzat Allah, kaifiyat Allah, ayat-ayat yang mutasyabihaat, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan aqidah yang tidak pernah ditanyakan oleh generasi terbaik (Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in), sementara mereka adalah kaum yang paling bersemangat dalam kebaikan. Sebagaimana kisah masyhur yang terjadi pada Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab: “Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.” Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya. [Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi (I/171), Mukhtasharul ‘Uluw lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 141), cet. Al-Maktab al-Islami, tahqiq Syaikh al-Albani.]
Tentu masih banyak hikmah dan faedah yang bisa diambil dari setiap ayat Al-Qur’an, yang tidak akan pernah cukup sekalipun air laut menjadi tinta. Hanya kepada Allah kembalinya segala kebenaran, dan Allah Maha Pemaaf atas segala kekurangan.
——————————————————————————————————————————————-
* Kisah di warung Soto didengar dari kajian Ustadz Abdullah Hadhrami hafidhahullah,
dengan beberapa perubahan dalam penyusunan kalimat.

%d bloggers like this: